Senin, 09 Juli 2018

Pesantren Fathul Ulum Kwagean Berduka

إنا لله وإنا إليه راجعون

Kami turut berduka atas wafatnya Ibu Ny. Hj. Miftahul Munawwaroh  ( istri KH. Abdul Hanan Pondok Fathul Ulum ) Kwagean Kepung Kediri tadi jam 15.00 WIB yang akan dimakamkan sore ini.

Mohon sholat ghoib dan Lahal faatihah ......

Semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan iman dan islam. Dan pesantren yang ditinggalkan semakin berkembang dan berkualitas serta berkah selalu.
Aamiin Yaa Robbal Alamin.

Tulisan Gus Muslim putra Romo Kyai Hannan Ma'shum

IBUK, IBUK, IBUK

Ibuk saya menikah dengan bapak ketika masih usia sangat belia. Dengan penuh ketaatan dan mengorbankan pembelajaran. Maka memang benar, ibuk saya tak pernah mengajar dipondok putri atau madrasah. Ada bahkan yang menyindir, bunyai kok ra iso ngaji. (Bunyai kok gak bisa ngaji). 

Ibuk dalam keseharian hanya ngimami sholat dipondok putri. Dan selainnya merawat anak-anaknya yang dua belas. Kami semua anak-anaknya tak ada satupun yang merasa kurang kasih sayang orang tua, terutama ibuk. 

Kami semua sangat dekat dengan ibuk secara raga, dibandingkan bapak. Kami biasa meminta apa atau apa, ya keibuk. Sungkan kalau minta ke bapak. Dan ibuk sebelum mengabulkan sebuah permintaan pasti dibandingkan dulu dengan saudara yang lain. 

Ibuk selalu menjaga agar tetap adil pada kedua belas anak-anaknya. 

Ibuk memang tak bisa ngaji dalam artian tidak mengajar kitab kuning. Tapi ibuk adalah seorang pabrik yang menghasilkan saya dan kedua belas saudara saya. 

Seluruh anak adalah hasil produksi orangtuanya. Bila ada bunyai pintar atau kiai hebat, maka pasti adalah produk dari seorang ibu yang kuat tirakat buat anak-anaknya. 

Ibuk adalah pabrik, bukan hasil produksi. 

Ibuk tak mengajar ngaji, tapi selalu istiqomah wiridan setiap hari. Bapak bercerita malam ini ketika kumpul-kumpul semua keluarga: “ibukmu lek dikeki wiridan opo ae mesti ajek nglakoni. Istiqomah.” (Ibukmu jika diberi wiridan apa saja pasti dijalankan terus-menerus. Istiqomah). 

Saya sering dibikin jengkel ketika pagi-pagi setelah subuh nemuin ibuk dan mengajak bicara. Pasti didiamkan. Karena ibuk masih wiridan bakda shubuh dan gak akan ngendikan sebelum wiridan selesai. 

Ajek setiap hari. 

Belum wiridan dan amalan yang lain. Seperti puasa sunah dan sholat sunah. Setiap apapun yang bapak anjurkan, pasti dijalankan. Ajek. Istiqomah. 

Tak hanya amalan, setiap tingkah laku yang disarikan oleh bapak dari kitab kuning dalam hidup keseharian dijaga betul oleh ibuk. Bahkan kami, anak-anaknya yang sering ngaji malah diingatkan terus sama ibuk bila melakukan sesuatu yang tidak sesuai kitab kuning. 

Ibuku tak pintar ngaji, tapi beliau selalu ngajeni kami, anak-anaknya. 

Bila anda melihat satu atau beberapa kesuksesan dari kami bersaudara, maka bisa dipastikan bahwa ini adalah hasil tarbiyah ibuk kami. 

Sampai saya sebesar ini pun masih sering didukani ibuk bila sehari saja tidak kelihatan ngaji atau terlambat ngimami shubuh. 

Ibuk adalah pabrik yang menghasilkan kami bersaudara, bukan hasil produksi. 

Ibuk adalah sumber, bukan sungai. 

Ibuk saya dimakamkan malam ini. Mohon didoakan yang terbaik. 

Bagi yang kenal, mohon maafkan bila ibuk ada salah. 

Bagi yang belum kenal, maka perkenalkanlah: ini ibuk kami. 

Ibu kwagean, pahlawan kami. Yang mencetak generasi kwagean. 

#salamKWAGEAN









Posting Komentar