Jumat, 06 Juli 2018

Mengenang Dua Tokoh Panutan Umat

Edisi 1
Muhammad Darwis atau lebih masyhur dikenal dengan nama KH. Ahmad Dahlan adalah kakak seperguruan Muhammad Hasyim yang kelak lebih dikenal dengan Sebutan Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy'ari.

Hal ini karena,  selain M. Darwis dua tahun lebih tua daripada M. Hasyim,  juga karena M. Darwis datang lebih awal dua hari di Pesantren Darat Semarang yang diasuh Sang Kiyai kharismatik KH Sholeh Darat yang saat itu berusia 65 tahun.
M. Darwis datang dari daerah yang relatif modern karena ayahnya adalah Khatib Masjid Gedeh, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,  sedangkan M.  Hasyim berasal dari Gedang-Keras, Jombang yang saat itu masih berupa hutan belantara yang dihuni banyak dhemit dan begal. 
Selain dua santri yang kelak menjadi tokoh islam paling masyhur ini, ada  santri-santri lain yang ikut belajar bersama keduanya.  Mereka kelak menjadi pelopor pesantren Nusantara.
Mereka ini adalah Yi Mahfudz Tremas Pacitan, Yi Munawir Krapyak Jogjakarta,  dan Yi Dalhar Watucongol,  Muntilan,  Yi Idris pendiri Jamsaren Solo,  Yi Sya'ban ahli Falak nomer satu seantero Asia,  dan Yi Anom penghulu tafsir asal Keraton Surakarta.
Selain berkah ilmu dari Sang Guru,  kedua tokoh inipun menuai berkah lantaran teman seperjuangan yang hati dan pikirannya jernih bak Kautsar.
Trah ilmu KH Sholeh darat tersambung erat kepada KH M. Sahid yang merupakan cucu Waliyullah Al 'Arif billah Al Allaamah Syaikh Ahmad Mutamakkin,  seorang ulama asal Kajen,  Pati,  Jawa Tengah. 
Dari KH Sholeh darat inilah,  kedua tokoh umat ini menimba berbagai ilmu. Menjalani berbagai tirakatan yang menjadi laku standar seluruh santri kala itu.
Jika Ayah KH Ahmad Dahlan adalah seorang khatib keraton,  kakek Hadhratusy syaikh Hasyim asy'ari adalah KH Abdussalam yang lebih dikenal dengan julukan Kiyai Shaihah (teriakan keras).
Julukan ini bermula saat serombongan begal menyatroni pesantren Gedang,  Jombang.  Setelah berulang kali diajak tobat oleh KH Abdussalam,  para begal itu justru mengejek dan menghina,  maka beliau membacakan dengan keras ayat;
إن كانت إلا صيحة واحدة فهم خامدون...
Maka terjunggal lah sekumpulan begal itu dan tumbanglah tubuh mereka sambil menutupi telinga mereka yang bengkak.
Suara yang mengguntur itu pun membuat para santri kaget dan tercengang.  Sejak saat itulah beliau lebih dikenal dengan panggilan Kiyai Shaihah.  Dan kelak para begal inipun menjadi murid kesayangan beliau. 
#Ibrah
Orang-orang hebat,  umumnya berasal dari nasab biologis dan ideologis tokoh-tokoh hebat.
Namun,  semua itu tak ada artinya tanpa mujahadah dan keikhlasan dalam amal.
Man abtho'a amaluhu,  lam yusri' lahu nasabuhu….
Hadanallahu wa iyyakum
Wallahualam
Posting Komentar