Rabu, 04 Juli 2018

NGOBROL BARENG KIAI YAHYA CHOLIL STAQUF SEPULANG DARI ISRAEL

KALIS MARDIASIH 20 JUNI 2018
ESAI 35
MOJOK.CO – Masih dalam suasana Lebaran yang hangat, Kiai Yahya Cholil Staquf menceritakan apa saja yang terjadi saat kunjungannya beberapa waktu silam ke Israel. Disampaikan dengan santai di kediamannya di Rembang.

Berangkat dari Indonesia tanggal 8 Juni, sebetulnya Kiai Yahya Cholil Staquf hanya diundang untuk bicara pada AJC (American Jews Commitee) Global Forum di Yerusalem pada tanggal 10 Juni. Entah bagaimana ceritanya, agenda demi agenda bermunculan di sana, hingga Kiai Yahya tak bisa berlebaran di Indonesia karena agenda jadi padat sampai satu minggu.
“Termasuk bertemu Netanyahu itu, saya yang diundang,” katanya.
Jauh sebelum Kiai Yahya, Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sudah pernah bicara di forum yang sama. Gus Dur bahkan pernah jadi pembicara kunci di konferensi tertinggi bangsa Yahudi tersebut.
“Dinamikanya agak ramai karena ada peristiwa Gaza pada Mei 2018 dan situasi politik dalam negeri yang sedang seru. Negara dan semua tokoh politik pasti berhitung. Mereka tidak mau salah langkah untuk 2019. Tetapi langkah saya berfokus pada misi perdamaian, tak ada kaitan dengan politik remeh-temeh itu.”
Setelah beramah-tamah sejenak dengan Kiai Yahya dalam rangka mohon maaf lahir dan batin, saya menyentil sedikit, “Sudah siap dipecat dari Wantimpres, Bah?” lalu disambut dengan gelak tawa.
Meskipun kini Kiai Yahya adalah anggota Dewan Pertimbangan Presiden sekaligus seorang Katib Aam PBNU, di mata saya jabatan paling mentereng Kiai Yahya ya sebagai Presiden Terong Gosong, itu lho sebuah komunitas silaturahmi kultural para santri yang punya semboyan “Ketawa Secara Serius”.
Beberapa orang terbiasa memanggil Kiai Yahya dengan sebutan “Abah” karena beliau adalah juga jadi abah untuk para santrinya. Jadi sekali lagi, kalau Pak Tifatul Sembiring mau sowan kepada beliau, silakan datang ke Rembang, di sana Abah Yahya rutin membaca kitab turats (sebutan lebih universal dari istilah “kitab kuning”), baik untuk santri maupun masyarakat umum yang terdiri dari petani, nelayan, dan warga sekitar. Tidak dipungut biaya. Gratis.
“Kalau seandainya sampai dipecat dari Wantimpres, saya siap saja. Misi utama saya adalah persoalan perdamaian dunia. Tapi kalau dipecat dari PBNU, ya nanti dulu, saya ajak Terong Gosong berdebat nanti sama kiai-kiai, hahaha,” ujar Abah tertawa.
Undangan untuk berbicara di AJC Global Forum, datang jauh hari sebelum Kiai Yahya dilantik sebagai Wantimpres, jadi memang tidak ada hubungannya dengan Jokowi atau Negara.
Empat bulan sebelumnya, rilis internasional sudah terbit. Ketika undangan itu datang, Kiai Yahya sudah meminta ijin kepada para ulama Nahdlatul Ulama (NU). Terutama kepada pamannya, Abah Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), sambil menjelaskan secara rinci konteks dan kepentingannya. Gus Mus pun merestui.
“Selama ini ada banyak cendekiawan Muslim yang betah melawat dari negara satu ke negara lainnya, dari konferensi ke konferensi. Semua bergerak sendiri-sendiri. Tapi ya sebatas itu saja. Tidak ada perkembangan. Sebab apa? Sebab sesungguhnya mereka tidak punya tawaran strategi. Saya datang tidak hanya berbekal wacana, tapi tawaran strategi. Wacana itu justru kita kembangkan belakangan setelah tawaran strategi kita diterima.”
Kiai Yahya sadar bahwa keberangkatannya ke Yerusalem adalah sebuah agenda dengan misi breaking through yang sangat berisiko. Kiai Yahya pun bersedia menerima risikonya, dan oleh karena itu, sudah benar jika Presiden Jokowi menyatakan bahwa yang bersangkutan datang atas nama pribadi.
Di sisi lain, Kiai Yahya juga tahu betul, kalau NU pun tidak boleh ikut menanggung risiko dari misi pribadinya, sebab Kiai Yahya juga belum dapat menjamin hasilnya bagaimana. Kalau hasilnya bagus, silakan kalau NU mau terlibat, kalau buruk, biar risiko ini ditanggung pribadi. Oleh karena itu pernyataan resmi dari NU memang sudah berada pada tempatnya. “Tetapi, NU juga tidak bisa melarang saya sebab NU menghargai hak pribadi saya.”
Sebenarnya, Kiai Yahya sudah menyiapkan naskah pidato panjang sekali tentang pembelaannya kepada Palestina dan tawaran strategi yang ia ajukan dari nilai-nilai “Islam Rahmah” kepada dunia. Oleh panitia, naskah pidato itu dibaca dan direvisi banyak sekali. Setelah direvisi, malah diambil keputusan bahwa format acara diubah menjadi talkshow.
“Kalau saya pidato, nanti tidak bisa dikontrol. Maka panitia mengubah formatnya menjadi talkshow, dan Rabbi David Rosen yang memandu acara mengarahkan pembicaraan itu termasuk untuk mengenang jasa Gus Dur yang telah membuka jalan dialog dengan Israel.”
Tetapi, setelah acara itu, pers Israel dan media-media Internasional ramai sekali menghubungi Kiai Yahya. Kiai Yahya menanggapi itu sebagai pertanda bahwa Islam Rahmah telah menjadi perhatian. Tentu saja saya jadi penasaran, pertanyaan apa yang paling sering diajukan oleh media.
“Ada banyak. Tapi saya ini sudah di-training oleh banyak teman dan profesional. Teori utamanya adalah, saya tidak sedang bicara kepada wartawan. Apa pun jawaban saya, akan menjadi wacana untuk publik global. Ada teknik namanya block and bridges. Jika wartawan tanya melebar ke mana-mana, block pertanyaannya dan bangun jembatan menuju misi pentingmu. Misi saya hanya ada dua, menawarkan nilai agama (Islam) sebagai solusi konflik, lalu menyerukan agar dunia memilih Islam Rahmah.”
Saat ini, Amerika, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat sedang dalam membangun skema “a new peace plan”. Semua elemen yang selama 70 tahun sudah dicoba untuk menyusun framework perdamaian selalu gagal. Kiai Yahya datang membawa gagasan Gus Dur, dengan membawa agama, khususnya Islam Rahmah, sebagai strategi breakthrough.
“Selama ini, jika kekuatan Barat maupun Timur Tengah ribut-ribut, Islam Indonesia tidak pernah diajak bicara. Kita hanya di-order, dimanfaatkan pada momentum tertentu. Saya tidak mau. Saya mau maju sendiri sebab saya punya tawaran strategi. Saya ingin Islam Indonesia punya kesempatan bicara dan terlibat dalam keputusan. Tidak hanya jadi penonton sambil marah-marah atau nangis-nangis di pojokan.”
Dari obrolan ini saya menangkap maksud Kiai Yahya, bahwa situasi dunia dengan segala gejolaknya sekarang ini tidak mungkin menemukan jawabannya hanya dari turats. Al-Quran sudah memberikan panduan, tetapi umat Islam sendiri yang harus mengubah nasibnya.
Kiai Yahya merasakan aspirasi publik Israel untuk perdamaian begitu besar. Ia sudah berkeliling Amerika dan Eropa. Orang-orang capek dengan perang. Orang-orang ketakutan. Ketika ia menyerukan “Islam Rahmah” dalam ruangan, semua yang hadir memberikan standing ovation lama sekali.
Kiai Yahya tiba-tiba teringat Gus Dur. Guru bangsa sekaligus guru Kiai Yahya inilah yang membuka jalan diplomasi dengan Israel pada mulanya. Sahabat-sahabat Gus Dur, yakni tokoh dan intelektual Israel yang menghendaki perdamaian, kelak menjadi sahabat Kiai Yahya juga. Semua elemen ini terus bekerja untuk mewujudkan aspirasi perdamaian.
“Ketika saya sendirian dan menyebut nama Abdurrahman Wahid di Israel hati saya gemuruh. Mata selalu berembun. Bicara Islam dan perdamaian di Israel, rasanya di semua sudutnya saya merasa ditemani Gus Dur.”
Menanggapi ribut-ribut yang ada di Indonesia, utamanya di media sosial yang juga diramaikan oleh Felix Siauw, beberapa petinggi PKS, dan beberapa petinggi Gerindra, Kiai Yahya cuma senyum-senyum saja.
“Banyak orang ribut itu karena tidak paham aspirasi yang saya bawa. Orang tak paham, mau diapakan? Biarkan saja. Atau, beberapa tokoh politik ribut sebatas urusan domestik saja. Tidak jarang orang bilang saya menginginkan posisi RI2 pada Pemilu mendatang karena saya bertemu Mike Pence. Tidak sama sekali, saya tidak tertarik dengan jabatan apa pun. Tantangan dunia saat ini lebih besar dari urusan remeh dalam negeri. Ada ancaman perang nuklir, ada perang tak berkesudahan di Palestina dan negara-negara Timur Tengah.”
Kiai Yahya melanjutkan, “Mustahil kita tidak membenci Israel. Saya tentu juga merasakan betapa banyak orang Israel yang bangga kepada bangsanya, lalu mereka merasa berhak sombong sebagai bangsa yang ribuan tahun diwarisi nabi-nabi. Tapi kita perlu jalan keluar. Kalau orang-orang mau terus menanam permusuhan dan kebencian ya silakan, tapi setelah itu mau apa? Setelah mengutuk dan marah-marah mau apa? Orang-orang yang kemarin marah-marah dan mengutuk saya, akan berhenti dengan sendirinya. But I won’t stop my struggle.”
“Kita sudah pernah memaafkan segala perih. Kita memaafkan Belanda, kita memaafkan Jepang, kita memaafkan PKI, kita hampir selalu bisa memberi maaf pada sakit yang paling perih. Jika menghendaki jalan keluar menuju perdamaian, maka kebencian harus diabaikan.”
Kiai Yahya telah menjadwalkan waktu ke Jakarta untuk ketemu dengan Presiden Jokowi dan Ibu Retno Marsudi jika memungkinkan. Ia akan senang jika Negara menyambut baik strategi dan informasi yang dibaginya. Akan tetapi Kiai Yahya tahu, jika berisiko untuk Negara, dirinya siap untuk bergerak bersama komunitasnya sendiri, masyarakat Nahdlatul Ulama.
Untungnya, “serangan” atau “makian”—alih-alih kritik—kepada Kiai Yahya akibat kunjungan ke Israel, baik di media sosial maupun yang disampaikan secara langsung, tidak mengganggu Kiai Yahya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengajiannya masih ramai, santri-santrinya masih berebut wejangan dan nasihat, serta tentu saja cerita-cerita Kiai Yahya selama “diserang” begitu kasar terpaksa tidak bisa saya ceritakan agar kondisi saat ini tidak semakin panas. Toh, dari ceritanya saya tahu misi yang dibawa Kiai Yahya jauh lebih besar daripada harus meladeni hal remeh semacam itu.
Melihat tanggapan Presiden Terong Gosong yang masih bisa ber-haha-hihi santai meski orang-orang di luar sana begitu kasar. Sebuah perwujudan bahwa kematangan spiritual memang bukan dari kecanggihan ngomong dalil, tapi bisa tercermin dari akhlak seseorang—terutama merespons hal-hal yang berpotensi bikin sakit hati semacam ini. Hal yang bikin saya semakin yakin untuk terus menganggap beliau sebagai guru dan kiai saya, dan tidak ragu akan pilihannya dalam memperjuangkan Palestina.
Sehat dan senyum selalu ya, Bah. Dari saya, santrimu.
Sumber: mojok