Rabu, 04 Juli 2018

Gus Dur dan Kyai Said

Mencari orang alim itu sulitnya setengah mati. Dan lebih sulit lagi mencari orang alim plus berani.Mencari orang alim saja banyak, tapi alim yang takut berhadapan dengan musuh, takut dibully, takut difitnah, takut diintimidasi dan takut-takut lainnya. Mencari orang berani saja banyak, tapi berani tanpa perhitungan, nekat tanpa siasat.

Mencari orang alim sekaligus pemberani itu sulit, sesulit mencari semut hitam di batu hitam pada saat gelap gulita. Dalam zaman now setidaknya ada 2, yaitu Gus Dur dan Kiai Said.
Mengapa Gus Dur dan Kiai Said terkesan banyak dimusuhi?
Ya karena beraninya itu. Coba bandingkan dengan ulama-ulama alim yang “cari selamat”, yang diam saat ada kedhaliman di depan mata, yang ikut arus saja, tentu tidak banyak musuhnya.
Tapi Gus Dur dan Kiai Said, sengaja pasang badan demi memperjuangkan sebuah kebenaran. Beliau berdua rela tak populer, rela difitnah, rela dinistakan demi memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Baik kebenaran dalam beragama (Islam) maupun kebenaran dalam bernegara (nasionalisme).
Beliau berdua berani berhadapan dengan penguasa jika berada pada jalan yang salah, berani berhadapan dengan perusak negara, perusak Islam dan para koruptor. Sehingga mereka yang terancam kepentingan busuknya pasti meradang dengan sepak terjang beliau berdua. Dan memang Kiai Said adalah anak ideologis, murid ideologis Gus Dur. Beliau berdua sama-sama ahli tasawuf dan seorang sufi, Gus Dur seorang “wali” dan Kiai Said seorang Guru Besar Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Jejak pendidikan Kiai Said begitu “sempurna”, dari pesantren salafiah (kitab kuning) sampai universitas ultra kanan (al-Umm al-Qurra Mekkah), sebuah universitas berpaham wahabi. Dari santri pesantren “tradisional” sampai doktoral di bidang sejarah dan tasawuf, begitu “sempurna” hafalannya sehingga dijuluki kamus berjalan.
Spesialisasi beliau di bidang perdebatan, siapapun yang berdebat dengan beliau dijamin lumpuh argumennya. Namun tidak semua dilayani debat, hanya orang-orang tertentu yang pantas untuk diajak debat. Jika kroco-kroco sekelas taman kanak-kanak pasti diabaikan dan dilihat sambil senyum saja. Sayang energi digunakan untuk debat dengan orang yang tak paham agama yang hanya bermodal semangat tapi nol besar dalam memahami esensi dari agama itu sendiri. Pengalaman fenomenal, beliau berhasil menundukkan “nabi” palsu al-Mushodeq dengan diajak debat sampai berhari-hari sehingga sang “nabi” palsu tersungkur argumennya dan akhirnya bertaubat.
Karena pernah hidup puluhan tahun di negara wahabi, Arab Saudi, maka beliau paham betul “dapur” dan kelemahan wahabi khususnya dan gerakan Islam radikal lainnya, misalnya Ikhwanul Muslimin, yang berasal dari Timur Tengah. Karena paham betul adanya “udang di balik batu” dari gerakan wahabi, ikhwanul muslimin, hizbut tahrir dan gerakan radikal Islam lainnya maka di masa kepemimpinannya sebagai Ketum PBNU bertujuan melumpuhkan paham wahabi, ikhwanul muslimin, hizbut tahrir dan kelompok radikal lainnya di Indonesia khususnya dan secara umum di seluruh dunia.
Mengapa paham radikal tersebut perlu dikubur sedini mungkin?
Karena jika dibiarkan, paham tersebut akan merusak Islam itu sendiri dan mencabik-cabik kesolidan NKRI.
Kiai Said tahu betul kelemahan wahabi dan kelompok Islam radikal lainnya karena pernah menjadi bagian dari kelompok tersebut. Dan disaat balik menyerang kelompok-kelompok tersebut maka mereka tak terima dengan gebrakan Sang Kiai. Sehingga dimunculkanlah fitnah-fitnah dan character assasination (pembunuhan karakter) beliau dengan tuduhan syiah, liberal, perusak NU dari dalam, munafik, pembela kafir, antek Cina dan deretan fitnah keji lainnya yang dilontarkan kelompok Islam radikal.
Pembelaan beliau yang sepertinya cenderung ke Jokowi, ke pemerintah, ke penguasa, bukan berarti beliau ulama penjilat, bukan berarti beliau dibayar dan bukan berarti beliau orangnya Jokowi dan fanatik. Hal ini terbukti bahwa ketika pilpres 2014 lalu beliau pendukung Prabowo, malahan sempat dicalonkan wapres mendampingi Prabowo walau beliau menolaknya. Dukungan beliau khususnya dan umumnya NU ke pemerintah itu tergantung kebijakan pemerintah tersebut dan bukannya karena telah digelontor sejumlah uang. Ketika kebijakan pemerintah sejalan dengan kepentingan umat dan rakyat maka akan didukung penuh dan sebaliknya ketiks kebijakan atau program pemerintah menyengsarakan umat dan rakyat maka akan dikritiknya, tentu dengan cara yang elegan bukan dengan cara bikin hoax, menjelek-jelekkan pemerintah dan menggembosi pemerintah.
Dukungan Kiai Said yang terkesan ke Jokowi bukan berarti beliau pendukung fanatik Jokowi tapi karena demi Islam dan Indonesia.
Hal ini disebabkan karena capres “yang itu” didukung penuh oleh kelompok Islam radikal. Hal ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan Islam dan Indonesia. Jika mereka menang bisa dipastikan Indonesia akan di-Suriahkan, di ISIS kan dan luluh lantak bagai negara-negara Timur Tengah akibat ulah kelompok Islam radikal.
Jadi mereka yang memusuhi Kiai Said adalah orangnya itu-itu juga.
Orang-orang tersebutlah yang memusuhi NU sampai menarget untuk membubarkan NU tahun 2025.
Orang-orang NU yang selama ini termakan hasutan kelompok pembenci Kiai Said haruslah segera sadar bahwa kalian sebenarnya dibenturkan dengan NU dan dijauhkan dari ulama NU dengan tujuan akhir NU ditinggalkan umatnya. Jika NU sudah ditinggalkan umatnya maka NU kropos dan mudah untuk dilenyapkan. Dengan bubarnya NU takkan lama Indonesia dikuasainya, karena penyokong utama Indonesia adalah NU. Barang siapa ingin menguasai Indonesia maka lumpuhkan dulu NU.
Namun mereka salah prediksi, kiranya itu mudah membubarkan NU. Mereka belum tahu bahwa NU itu layaknya per/pegas,semakin ditekan justru semakin kuat NU. Ya Jabbar Ya Qahhar.
NU never die.
Salam 86
Copas