Selasa, 20 April 2010

BABAT PONDOK RAUDLATUL ULUM KENCONG

SEJARAH SINGKAT BABAT

PONDOK PESANTREN RAUDLATUL ULUM

KENCONG KEPUNG KEDIRI

BIOGRAFI KH SIROJUDDIN DAN SILSILAH

BIOGRAFI KH SIROJUDDIN

Magelang pertengahan abad ke 19/ 1830 perang pangeran diponegoro telah berahir, pengeran yang bergelar “Sultan Abdul Hamid Heru Cokro – Amirul Mu’minin Kholifatul Tanah Jawa.” Telah ditangkap, kemudian dibuang ke manado. Akan tetapi pengikutnya dibawah kepemimpinan kyai dan ulama’, terus melanjutkan perlawanan secara bergerilya sampai bertahun-tahun. Sebaliknya belanda juga tidak tinggal diam, mereka kwatir perang sabil yang cukup melumpuhkan pihaknya itu berkobar lagi, akhirnya pengikisan kader-kader pangeran tak terlelakan lagi, pengejaran dan penangkapan terus dilakukan sampai pelosok desa.

Walaupun begitu masih banyak pengikut pangeran diponegoro yang selamat dan masih memperjuangkan dengan segala kemampuanya. Diantara pengikut pangeran yang masih tangguh dan selamat itu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, sakti mandra guna, lagi pula arif dan bijak sana dan kaya akan ilmu agama. Konon ,pemuda itu dilahirkan didesa kaum Besito Kudus Jawa Tengah. Sebuah desa yang pada waktu itu masih selalu di intai oleh penjajah belanda, saat kemungkaran menginjak-nginjak yang haq, kebodohan dan kesengsaraan masih begitu melekat. Sebuah suasana kelahiran yang mengingatkan kita lahirnya tokoh besar seakan memberi isyaroh calon inilah yang kelak nantinya menegakkan yang haq dan yang memberantas kemungkaran. Beliau itu adalah “Kyai Sirojuddin” namanya. Sebuah nama yang sampai sekarang masih harum namanya dikalangan masyarakat.

Demi untuk menyelamatkan diri dari kejaran belanda itu Kyai Sirojuddin pergi kea rah timur sambil mencari pandangan daerah yang benar2 cocok sebagai tempat tinggal serta mendukung terhadap pengembangan agama yang sesuai dengan apa yang di cita-citakan. Disamping itu juga menyebarkan agama islam pada setiap desa yang di singgahinya. Alkisah, sampailah beliau dikota Kediri. Dikota inilah Kyai Sirojuddin menemukan ketentraman dan kecocokan dalam menyebarkan agama islam. Bahkan tak lama kemudian beliau mempersunting seorang putri dambaan hati untuk mendampingi merajut kasih sayang, membina mahligai rumah tangga yang sejahtera dan abadi. Juga selalu mendampingi perjuangan agama yang di rintisnya.

Putri dambaan hati itu tak lain adalah Khatsiroh. Seorang wanita cantik nan ayu putrinya bapak naib pare (utara masjid kauman pare). Sewaktu Nyai Khasiroh dipersunting R. Sirojuddin, nyai khosiroh sudah mempunyai seorang putra yang bernama Mustam yang dikemudian hari menjadi kyai disemanding. Kyai Mustam ini adalah kakeknya Alm Bpak Sajuri yang makamnya sebelah barat masjid jombangan. Selang beberapa hari setelah pernikahan Kyai Sirojuddin mendapat Nyai Khosiroh, diboyonglah istrinya kedesa tunglur (+ 4Km dari pare). Setelah 1tahun pernikahan itu rumah tangga Kyai Sirojuddin mesra dan hangat dengan kelahiran putra beliau ang pertama. Yang kemudian hari diberi nama Abu Amar. Putra inilah yang kian hari meneruskan cita-cita perjuangan serta mewariskan kepribadian luhur sang kyai. Dan ditunglur ini tidak begitu lama kira2 hanya 2tahun saja. Setelah itu pindah kedesa jombangan (+ 1Km dari pare).

BABAT ALAS

Setalah 2tahun hidup bahagia bersama istri dan putranya ditunglur Kyai Sirojuddin mempunyai suatu keinginan untuk mengembangkan ilmunya lewat pesantern. Selang beberapa hari beliau berjalan-jalan kearah timur, disaat itulah Kyai Sirojuddin melihat hutan rimba yang masih gawat. Pohon-pohon besar tumbuh diatasnya, dan berbagai macam binatang menjadi penghuninya, disamping itu banyak lelembut dan makhluq halus yang berkeliaran di dalamnya. Putaran waktu dari hari kehari minggu keminggu Kyai Sirojuddin mempunyai inisiatif untuk menjadikan alas rimba yang masih gawat itu menjadi sebuah desa yang dapat untuk sarana mengembangkan ilmunya.

Dengan penuh percaya diri dan tawakal kepada Alloh serta dibantu beberapa teman beliau, akhirnya beliau membabat alas itu dengan disertai kesabaran, ketabahan, keuletan. Niat suci dan beberapa riyadhoh. Akhirnya terwujudlah desa yang aman, serta tentram dan penuh dengan limpahan rahmat Alloh SWT. Dan dikemudian hari desa itu diberi nama Desa “Jombangan” dinamakan desa jombangan, karena disebelah barat masjid terdapat sebuah “jembangan” yaitu tempat air yang terbuat dari tanah dengan mulut yang sangat lebar.

Diantara teman2 Kyai Sirojuddin yang ikut membabat hutan adalah : P. Umar, kakaknya bapak said (kepala desa jombangan) yang kemudian disuruh menempati sebelah timur dan teman yang kedua adalah Bpk Suro yang kemudian hari disuruh menempati / diberi daerah sebelah barat. Daerah itu sekarang ditempati mbah Pir Pulosari dan keluarganya.

Setelah hutan itu dijadikan sebuah desa, maka di boyonglah istri dan putra Kyai Sirojuddin ke Jombangan. Ditempat inilah Kyai Sirojuddin hidup rukun aman dan tenteram penuh bahagia bersama keluarga dengan sebuah rumah kecil dan sangat sederhana untuk sekedar berlindung dan beratapkan daun alang2 berdinding bambu. dan untuk sarana peribadatanya beliau mendirikan sebuah mushola yang cukup sederhana.

Dikala itu suasana jombangan masih sepi. Ma’lum memang belum ada penduduknya, kecuali hanya tiga keluarga yang rumahnya berpencar dan agak jauh. Rumahnya P. Suro paling barat, rumahnya Kyai Sirojuddin beserta kluarganya berada ditengah dan rumahnya P. Umar paling timur sendiri. Meskipun keadaan Kyai Sirojuddin seperti itu, tapi beliau adalah seorang kyai yang disegani oleh masyarakat sekitar. Maka tak lama kemudian datanglah beberapa santri dari desa sekitar untuk menimba ilmu dari Kyai Sirojuddin.

MENDIRIKAN PESANTREN.

Waktupun terus bergulir dari waktu kewaktu sampai akhirnya semakin bertambah banyak santri yang menimba ilmu dan mencari barokah di pesantren jombangan asuhan kyai sirojuddin. Alkisah, Kyai Sirojuddin berinisiatif untuk mendirikan pondok pesantren salafi karena pesantrenlah pencetak ulama’ yang benar-benar alim dan pesantrenlah muncul beberapa tokoh masyarakat dan para alim ulama’ yang terbesar diseluruh Indonesia. Di samping itu mengingat keberadaan (Eksistensi) pesantren memang merupakan ajang prestasi untuk mempersiapkan santri yang handal dan potensial yang dapat memberikan alternative pemecahan masalah yang timbul dalam masyarakat seperti krisis moral, merosotnya martabat kemanusiaan dan terpengaruh kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia.

Maka untuk mengatasi hal-hal yang demikian, akhirnya Kyai Sirojuddin mendirikan sebuah pondok pesantren yang kemudian hari diberi nama “Pondok Pesantren Miftahul Ulum” sebuah pesantren yang masih berupa angkring-angkring bambu di sebelah selatan mushola serta baru dihuni beberapa santri saja. Menurut shokhibul hikayat / nara sumber: Pondok Pesantren Jombangan didirikan kira-kira setelah lima belas tahun penangkapan pangeran Diponegoro, berarti + 1845M.

Kemudian setelah beberapa tahun sejak dilahirkannya putra pertama yang bernama Abu Amar itu, alhamdulillah Kyai Sirojuddin di karuniai putra putri lagi masing-masing yaitu: Nyai Asiyatun Kyai Mu’in, Nyai Ruminah dan Nyai Mas’amah. Dengan demikian pernikahan Kyai Sirojuddin dengan Nyai Khasiroh dikaruniai lima putra-putri yaitu:

  1. Kyai Abu Amar / KH. Hasyim Sirojuddin + Musri’atun
  2. Nyai Asiyatun + KH. Syaerozi (Ibunya KH. Abdul Hadi Pengasuh Pesantren Ringinagung KH. Ahmadi dan KH. Zamroji Pengasuh Pesantren Kencong)
  3. K. Mu’in + Nyai Marsilah (Kakeknya Kyai Ubaidah Alm.)
  4. Nyai Ruminah + Abdur Rozi (Besito Kudus) sang pendiri Pondok Pesantren Putri “Miftahul Ulum” setelah mempunyai tiga putra yaitu:

1. Imam Sya’roni + Nyai Sholehah (Juron Gurah)

2. K. Tarukhi + Mas’udah (Pakisaji Malang)

3. K. Bajuri Jombangan belum beristri sudah wafat. Maka tak lama kemudian nyai ruminah nikah lagi dengan kyai Abdulloh dari juwet.

Maka tak lama kemudian Nyai Ruminah nikah lagi dengan K. Abdullah dari Juwet Ngronggot Nganjuk dan dikaruniai dua anak yaitu:

  1. Ibu Badriah + K. Imam Tabut (Papar)
  2. K. Syafi’I + Muayadah (Krian)

Setelah K. Abdullah wafat pengasuh pesantren putri diganti oleh K. Bajuri sampai tahun 1979, kemudian setelah K. Bajuri wafat diteruskan oleh K. Syaikhoni sebagai pengasuh pondok pesantren putri samapai sekarang K. Syaikhoni ini putra dari K. Imam Sya’roni dari Juron Gurah atau cucu Nyai Ruminah yang nikah dengan K. Abdurrozi. Pondok Pesantren Putri “Miftahul Ulum” ini sewaktu diasuh oleh K. Bajuri setiap bulan Ramadhan bisa mencapai + 500 santri putri yang mengikuti pengajian romadlonan.
5. nyai mas’amah + Kyai Mahali dari mojo duwur jombang. Nyai mas’amah ini juga pernah mendirikan pondok pesantren putri yang mana kebanyakan santri2nya berasal dari kampung sekitar saja. Sedangkan pelajaran yang paling diutamakan adalah pengajian tartil Al-Qur’an. Namun setelah pengasuhnya, Nyai Mas’amah dipanggil oleh Alloh SWT, sekitar tahun 1983 dengan usia 60 tahun, maka pesantren putri ini mengalami kemerosotan drastis, karena tak mempunyai anak sebagai generasi penerus.

Tak lama kemudian di tempat yang agak berdekatan, sebelah utara nyai mas’amah yaitu dibelakang kediaman KH. Syamsuddin yang bertepatan tanggal 8-9-1991M / 10-R. Awal 1411H. juga didirikan pondok pesantren putri bernama “ Al-Musyari’ah” yang diasuh oleh kyai Syamsuddin Hasyim serta di bantu oleh putra-putrinya.

Adapun tujuan yang ingin di capai oleh pondok pesantren “ Al-Musyari’ah” juga sama dengan pondok pesantren lainnya, yaitu untuk mengembangkan santri agar berkepribadian muslimah, mempunyai pengetahuan dan mengamalkanya dengan di landasi iman dan taqwa serta akhlaq mulia. Diharapkan pula agar santri2nya lahir ulama’ yang tangguh, Da’I dan Mujahiddah yang menyampaikan syi’ar islam serta berusaha mewujudkan masyarakat yang islami ditengah-tengah komunitasnya bila kelak mereka pulang kekampung halaman masing2.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, maka pesantren Al Musyari’ah tetap menerapkan tradisi pesantren yang lama dengan menambah hal2 yang baru yang di anggap baik dan perlu dimasyarakat dalam perkembangan zaman (Riwayat th ’96).

AL-QURAN YANG PALING DIUTAMAKAN

Pelajaran yang paling diutamakan dalam pondok pasantren putri “Miftahul Ulum” yang didirikan oleh seorang kyai yang gemar dengan pakaian serba putih ini, adalah pengajian tartil Al Qur’an. Mengingat Al Quran adalah modal utama akan kwalitas dan kwantitas santri ditengah-tengah masyarakat dan Al Qur’an pulalah yang menjadi pedoman hidup kita.

Konon, bila kyai atau mubaligh diwilayah pare dan sekitarnya kalau belum mengaji pada kyai Sirojuddin akan kefasihan baca Al Qur’annya belum dikatakan syah menjadi imam oleh masyarakatnya, sehingga kebanyakan kyai se-kawedanan pare bisa dikatakan alumni Jombangan. Disamping itu pondok pesantren Jombangan bisa dikatagorikan paling tua se-pare di banding dengan lainya.

Diantara santrinya Kyai Sirojuddin yang sekarang masih hidup adalah KH. Abdul Hadi Pengasuh pondok pesantren “mahir Ar-Riyadl” ringin agung. (Riwayat th ’96).

KYAI SIROJUDDIN PULANG KE RAHMATULLAH

Hari-hari nan ceria nan bahagia dengan curahan rahmat dan maghfiroh Alloh SWT kian terlewati satu persatu aleh Kyai Sirojuddin bersama keluarga serta para santri. Keceriaan itu akhirnya sirna tatkala Kyai Sirojuddin dipanggil oleh Alloh SWT.

Tak ada tangis yang meledak, hanya awan kedukaan begitu kelabu menyelimuti hari-hari itu. Perlahan-lahan air matapun menetes di bumi Jombangan seiring dengan datangnya para tamu dari berbagai penjuru yang ingin berta’ziah dan memberi penghormatan terakhir pada Kyai Sirojuddin.

Begitulah kisah perjuangan pendiri sejati Kyai Sirojuddin yang telah memulai segala sesuatu dari bawak, dari nol hingga mampu meletakkan sebuah tonggak sejarah pesantren sekaligus menciptakan nasab yang sekarang meneruskan estafet perjuangan beliau. Dan yang lebih tak ternilai lagi telah membuat karya besar, sebuah nama besar “pondok pesantren Miftahul Ulum” yang tiap hari ratusan santri yang mengais ilmu serta sejuta hikmah dan barokah didalamnya.


RIWAYAT MBAH KH SYAIROZI

KH Syairozi Adalah cucu mbah KH. Syakur , berasal dari desa jombangan tretek pare. Mengenai pekerjaan beliau yang lebih banyak adalah mengajar Al-Quran dan beberapa kitab kuning. Tentang putranya yaitu KH. Ahmadi di ajari Al-Quran sampai khataman dan bisa menghatamkan Ilmu fiqih klasik dua kali yaitu Fathul Qorib al-mujib. Kebanyakan KH. Syairozi waktunya di tumpahkan untuk membaca Al-Quran. Jadi kalau sedang membaca Al-quran beliau mulai jam delapan pagi sampai jam dua belas. Beliau mulai mondok di pondok Kanjen Malang Jatim di pondok beliau slalu tirakat (menahan hawa nafsu dunia), makanan yang belia makan adalah Pace yang masak selama enam bulan, beliau juga pernah di bulan Ramadlan mendapat Lailatul Qodar. Yaitu berupa air sirup satu gelas kumudian langsung di minum.

MENGAHIRI MASA LAJANG

Setelah pulang dari pondok beliau menikah dengan putranya KH. Sirojjudin dari jombangan yang mana setatusnya masih adiknya KH. Umar. Setelah menikah beliau berfikir-fikir untuk membuat rumah dan mempunyai pekarangan. Tetapi beliau tidak mempunyai apa-apa sama sekali untuk itu. setelah memeras pikiran ternyata KH. Syairozi mempunyai kenalan di desa Kencong yang bernama Bp. Suhada’.

Kemudia beliau kesana:

Kemudian Bp. Suhada’ berkata kepada beliau; “Kang sawahku lan pekaranganku rong bahu tukunen”(mas sawahku dan pekarangku 1 hektar anda beli ya?).

Jawaban KH. Syairozi; “sak jane aku pengen tuku sawah lan pekarangan nanging ora duwe opo-opo” (sebenarnya saya ingi membeli sawah dan pekarangan tapi saya tidak mempunyai apa-apa?) .

Kemudian Bp. Suhada’ memberi arahan kepada KH. Syairozi. “sawahku yang 2 bahu sewakan ke pabrik setelah kamu mendapatkan uang berikan uang itu kepada ku untuk membayar sawah dan pekarangan itu. Singkat cerita Sesudah pak syairozi bisa membayar harga separo sawah dan pekarangan itu, KH. Syakur wafat. Setelah beberapa hari KH. Syairozi mengumpulkan semua keluarga yang ada di jombangan santren untuk di ajak musyawarah. Setelah semua keluarga berkumpul beliau berbicara; keluargaku aku akan mengatakan bahwa aku tidak minta warisan tapi jika semua keluarga setuju aku akan meminta semua sawah untuk disewakan guna membayar sawah dan pekarangan yang ada di Kencong. Kemudian semua keluarga menjawab setuju. Kemudian semua sawah di sewakan dan uangnya di gunakan untuk membayar sawh dan pekarangannya Bp. Suhada’ tadi. Dan pembayaranya tadi bisa pas atau lunas. Setelah sawah dan pekarangannya bisa di bayar, kemudia pak Syairozi melihat pekarangan tadi ada rumahnya kecil dan musholanya pun juga kecil. Kemudia pak Syairozi mengajak pindah rumah kepada istrinya. Tetapi istrinya di ajak pindah rumah tidak mau, karena di sana di kira tidak ada sungainya, kemudian pak Syairozi menerangkan bahwa disana ada sungainya yang bertempat di timur.

MEMULAI HIDUP BARU DAN PENDIRIAN PONDOK

Setelah istrinya mengetahui bahwa disana ada sungainya, istrinya mau di ajak pindah ke Kencong. Kemudian istri pak Syairozi bermimpi bahwa pekarangan yang di tempatinya itu menjadi pasar Al-Quran, setelah menetap di kencong pak Syairozi berkeinginan membangun masjid untuk mengganti musholanya Pak. Suhad’ yang kecil juga berkeinginan membangun Pondok. Kemudian semua keluarga sepakat bahwa rumahnya KH. Syakur di jadikan pondok kemudian rumahnya di pindah ke kencong di jadikan pondok pesantren yang dinamai (pondok pesantren Raudlatul ulum). Kemudian katanya rumah tersebut di didirikan di timurnya sawo timurnya jalan, setelah sekian lama kemudian di pindah ke dekatnya masjid sebelah selatan, kemudian pada tahun 1411 H, bulan Robi’ul Awal dipindah di selatan musholanya Agus Mahfudz. Jadi pondok raudlatul ulum itu sudah pindah tiga kali. Setelah pak Syairozi membangun pondok berkeinginan meneruskan cita-citanya membangun masjid. Pada suatu saat ada syayid datang, kemudian syayid tersebut Tanya kepada pak Syairozi; katanya anda ingin membuat masjid. Kemudia di jawab; ya. Tetapi saya tidak mempunyai apa-apa, kemudian syayid berkata; kalau begitu kamu sekarang saya sumbang uang 7 sen. Kalau sekarang kira-kira 7000. terus cepat-cepat kamu laksanakan pembangunan masjid tersebut. Kemudian pak Syairozi bingung, bagaimana bisa cepat-cepat membangun masjid. Kemudian pak syairozi menanam tembakau di sawah sebahu. Kemudian setelah menanam akhirnya panen terus di jual kepada Pak Niti Banar Kwagean, tembakau terjual dengan harga 700, kemudian di mulailah pembangunan masjid, dan diteruskan membeli rumah. di depan Pak Asmo Ali. Pembangunan masjid tadi di kerjakan atau ditukangi oleh Pak Munshorif Banaran Lor an Pak Kasidan Canggu. Kemudian pak Munshorif tidak mau di ongkosi sama sekali kalau pak Kasidan Canggu mau di ongkosi tapi hanya sekedarnya. Kalau pak samur dan orang-orang desa kencong sama membawa makanan sendiri-sendiri ketika membangun masjid. Ketika setelah dhuhur pak samur membawakan uang satu pikul yang bertujuan untuk memberikan kepada orang-orang yang bekerja membangun masjid tersebut. Setelah selesai membangun masjid, kemudian di hitung-hitung bahwa biaya pembangunan menghabiskan 700 pas. Padahal biaya haji pada waktu itu 500. jadi syayid yang memberi uang 7 sen tersebut ikut kelihatan 700 jadi 7 sen jadi itu isyarah jikalau di belikan gamping, kemudian Bunyai Syairozi di beri rumah oleh pak Kyai Jombangan yang sekarang rumahnya bertempat di sebelah utaranya masjid yang di tempati agus Hamid. Pada waktu itu beliau masih di beri ujian oleh allah, karena sawah yang 2 bahu itu tidaj cukup di buat untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan ketika di musim hujan beliau masih menjual hasil kebun yang berupa daun pisang, dengan kerja keras seperti itu juga belum bisa mencukupi kebutuhan hidup beliau, jadi setiap sore beliau tidak makan karena kurangnya pemasukan, dan wiridannya biliau adalah membaca al-quran dan membaca kitab-kitab kuning. Setiap waktu pagi, dhuhur, magrib anak-anak sama mengaji ke beliau, jadi setiap jam lima beliau bangun membangunkan anak-anak santri terus kemudian jamaah subuh. Dan beliau juga sudah siap untuk mengajikan anak-anak tersebut, wataknya KH. Ahmadi jika beliau mengaji/sorogan kok tidak bisa terus di marahi kemudian menangis di tempat tersebut.

Wataknya pak Zamroji jika pak syairozi melaksanakan sholat, maka punggungnya pak Syairozi di naikin. Kemudian pak Syairozi mengucapkan Alhamdulillah, di hari kemudian anakku inilah yang menggantikan aku.

Kalau wataknya pak Hadi itu orangnya lemah lembut dan kasih sayang kepada semua keluarganya antara lain kepada pak ahmadi dan pak zamrozi, itu saja kehidupannya masih banyak cobaan. Dikarenakan di desa Kencong masih langka orang islamnya dan barat masjid masih banyak di tempati para pencuri. Timurnya masjid juga masih banyak pencurinya. Pada suatu hari ada pencuri masuk pondok, kemudian pencuri tersebut mendapatkan sarung, kemudian pada waktu pagi sarung tersebut di pakai buat jalan-jalan dengan santainya. Dengan keadaan seperti itu pak syairozi merasa tidak nyaman bertempat di desa kencong sampai-sampai beliau ingin pindah dari pondok kencong, dan pada suatu hari beliau bertemu dengan kakenya pak hambali bapaen Tamsir yang namanya pak kertorejo kencong kidul kemudia beliau di beri saran . pak yai jangan pindah, di sini saja bersama saya, Insya Allah nanti anak cucu saya yang akan menemani. Kemudian pak syairoji tidak jadi pindah, Alhamdulillah cucunya yang bernama pak tamsir dan pak hambali juga ikut mengajar. Jadi perkataan orang tua itu ada kenyataanya.

PAK SYAIROZI NAIK HAJI

شفاعة مبارى   Ketika pak syairozi mau naik haji, sebenarnya punya saudara sepupu di dari Pacitan, yaitu K. Mahfudz yang mengarang kitab ATTURMUSI yang bertempat di Makah. Jadi K. mahfudz itu adalah putranya K. Abdullah Termas yang menjadi saudara laki-lakinya mbah H. Syakut. Pada suatu hari K. Mahfudz mendengar bahwa putranya KH. Syakur akan naik haji yang bernama Istad yaitu pak Syairozi Kencong. Setelah mendengar kabar tersebut K. Mahfudz mencari pak Istadz. Setelah mencari kesana-kemari akhirnya bertemu pak istad, kemudian K. Mahfudz bertanya : pak ? nopo sampean putrane pak haji syukur saking termas? Pak syaerozi menjawab: sanes. Kemudian K. Mahfudz pulang dan terus bertanya kepada orang yang memberi kabar tersebut. Kemudian berkata kepada orang tersebut, bahwa orang yang ditanya tadi bukan anaknya pak haji syakur, yang memberi kabar tersebut berkata: betul tadi itu anaknya pak haji syakur

Poskan Komentar