Kamis, 05 Juli 2018

NU, Makin Hari Makin Seksi, dalam Negeri dan Luar Negeri

Islam NU-Santara yang di usung NU itu sebenarnya terjemahan dari "Rahamatan lil Alamin". Dalam bahasa popupernya, orang Arab menyebut dengan istilah "islam wasati" yang artinya "islam moderat". Karena yang mengusung itu NU, sudah pasti banyak yang tidak setuju, khususnya dari  kelompok yang mengaku sebagai garis lurus.

Santri ndeso pernah bilang "jika ada orang atau kelompok kalau ngaku-ngaku lurus, berarti masih belum lurus, sebagaimana orang yang sedekah ngaku ihlas, berarti dalam hatinya masih ada butiran riya". Jadi, orang NU sejati tidak akan ngercoki NU, karena NU rumah yang teduh bagi pengikut Aswaja yang cinta kepada Allah SWT dan ulama dan durriyah Rosulullah SAW.
Nah, saya pernah mendengar Sayyid Qurais Sihab berkata "ketika orang membenci sesuatu, ketahuliah bahwa di dalam hatinya itu ada butiran cinta". Kelompok islam garis lurus dan konco-konconya kadang nyerang NU, ada juga yang nyerang amalan NU, ketahuilah sesungguhnya dalam hati mereka itu ada butiran cinta NU. Hanya saja, mereka tidak mau mengakuinya, sebagaimana Abu Lahab dan Abu Jahal yang membenci Nabi Muhammad SAW, padahal keduanya itu mencintainya.
Dulu, hingga sekarang masih ada saja orang nyerang atau bahasa kasarnya "nyiyir" terhadap NU dan amaliyahnya. Ada juga yang berkata "NU" itu sudah di susupi kelompok liberal, Syiah. Ada juga yang mengatakan "saya ini NU, tetapi NU nya Mbah Hasyim Asaary. Sebenarnya, makna yang tersirat dari orang yang ngaku-ngaku "NU Mbah Hasyim Asaary" sebuah ketidak setuju-an dengan Kang Said Aqil Sirajd. Bisa juga, karena tidak mendapatkan tempat di Jamiyah Nahdhotul Ulama' yang di dirikan oleh Syekh Al-Imam Muhammad Hasyim Asaary Al-Jombangi dan para kekasih Allah SWT.
Sejak berdirinya, NU itu memang unik, menarik dan penuh dengan nilai-nilai sacral. Mulai tanggal, tahun, bahkan logo-nya juga menarik. Jadi, menjadi Kyai NU itu tidaklah mudah, sebagaimana kyai-kyai pada umumnya. Kyai NU, tidak hanya modal suara merdu menjadi imam sholat lima waktu, apalagi hanya modal gaya ceramah yang lucu dan biki nagis dan haru. Menjadi Kyai NU, tidak cukup bergelar doctor, professor, P.Hd, apalagi hanya mengadalkan pengajian dan kajian-kajian melalui medsos, youtube. Tidak, dan tidak sama sekali.
Menjadi Kyai NU itu harus menguasai perangkat bahasa Arab dengan baik, juga ngerti ilmu fikih, hadis, dan juga pernah ngaji tafsir kepada para mufassir yang terkemuka.  Dan yang paling penting, ilmu yang dipelajari harus nyambung dengan gurunya (muttasil), sehingga dapat dipertanggung jawabkan.
Tidak dikatakan Kyai NU, jika tidak kuat membaca hizib dan wirid, kuat doa dan juga kuat tirakat. Kyai NU, selalu menjunjung tinggi ahlak kepada guru-gurunya, bahkan kepada putra-putrinya gurunya. Jadi, ngak ada ceritanya Kyai NU mengkritik dan menjatuhkan gurunya. Karena santri NU memiliki keyakinan, ilmu iitu akan bermanfaat jika memulyakan gurunya. Kualat jika durhaka kepada gurunya, begitulah penjelasan kitab Taklim Al-Mutaalim.
Komitmen NU sangat jelas terhadap ajaran Islam Ahlussunah Waljamaah, begitu juga terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itulah yang membuat NU semakin kokoh dan seksi di mata dunia hingga sekarang. Siapapun yang ingin merusak NKRI, berarti merusak NU. Begitulah kira-kira semangat NU dan masyarakat NU dimana-pun berada. PKI, DI, TII dan PKI, harus berhadapan dengan NU, dan yang terkini adalah HTI. Orang NU meyakini, ibadah bisa dilakukan dengan nyaman dan khusu' jika memiliki rumah (Negara).
Pendidikan, ekonomi, kesehatan bisa berjalan dan berkembang jika memiliki Negara, dan kondisi Negara aman. Itu semua hanya terwujud dengan membumikan "Islam NU-Sanatara" yang menjaga nilai-nilai ahlak yang bersumber pada Al-Quran dan sunnah Rosulullah SAW. Jadi, Islam NU-Sanatara itu barometernya Al-Quran dan sunnah, serta merujuk pada Aqidah Al-Asaariyah dan Maturidiyah.
Setiap lima tahun sekali NU semakin cantik dan seksi. Setiap pilkada, pilgub, pilwali Semua pimpinan partai politik selalu datang menghampiri bidadari seksi yang bernama "Jamiyah NU". Mulai yang warna putih, merah, biru, kuning, apalagi yang berwarna hijau berlomba-lomba mendapatkan restu NU.
Teringat cerita ande-ande lumut yang dilamar wanita-wanita seksi, ternyata Ande-ande lumut memilih wanita yang menjaga harkat dan martabatnya. Begitu juga dengan NU, selalu memilih pasangan yang bisa menjaga Aswaja NU-Santara dan menjaga NKRI dan Pancasila.
Saat ini, setiap Negara sudah ada Pengurus Cabang Istimewa Nahdhotul Ulama (PCINU), walaupun kadang kurang diperhatikan dari PBNU. Yang jelas, PCINU itu ada di Negara paling sekuler hingga negeri paling populer. Rusia, Prancis, Jerman, Belanda, Hongkong, Taiwan, Jepang, China, Australia, Mesir, Arab Saudi, Sudan, Afganistan, Pakistan, Libanon, USA. Semua warga NU, dimana-pun berada selalu menanamkan dan mengajak cinta tanah air. Juga membumikan islam NU-Santara yang santun dan ramah di dalam berdakwah, serta tawassut (moderat) dalam bersikap.
NU, bisa berdampingan dengan siapa-pun dan dimana-pun, selama mengajak dan mencintai tanah Indonesia. Berbeda madzhab sudah biasa, tetapi tetap menjaga nilai-nilai perbedaan, serta menjaga ke-utuhan NKRI yang berazaskan Pancasila.
Jika organisasi PCINU Sudan mendapat pengakuan Negara Sudan, bahkan pengurusnya juga ulama Sudan. Jadi, PCINU Sudan itu juga mendapat anggaran dari pemerintah Sudan. Jadi, jangan heran jika mahasiswa Indonesia yang belajar di Sudan, kadang mendapatkan kemudahan, bahkan kadang melaksanakan maulida nabi bersama-sama. 
Afganistan, negeri sejuta konflik, sekarang mulai menyadari kesalahannya. Mereka mulai belajar kepada NU, bagaimana mengemas perbedaan menjadi rahmat, bukan menjadi bencana dan petaka. Sekarang,  ulama Afganistan mendirikan Jamiyah yang bernama  Nahdlatul Ulama Afganistan (NUA)  terinspirasi dari Jamiyah NU  yang di dirikan oleh Syekh Al-Imam Muhammad Hasyim Asaary di Indonesia terus mengalami kemajuan, dengan ke-unikannya yang moderat. Sekarang NU Afganistan yang baru saja berdiri, kepengurusan sudah ada di 22 provinsi yang melibatkan lebih dari 6000 ulama berkebangsaan asli Afganistan. Ulama moderat Afganistan copy paste (mencangkok) NU dari Indonesia untuk mempercepat proses perdamaian di sana.
Sekarang, Arab Saudi sedang mulai menata kembali hubungan dengan NU yang telah mengajarkan anak bangsa cinta tanah airnya. Islam moderat yang di usung Arab Saudi sudah selaras dengan NU. Jadi, tidaklah aneh, jika kemudian imam Masjidil Haram, Masjid Nabawi, kembali seperti dulu. Dimana, para imam dan pengajar di Masjidil Haram itu banyak dari ulama NU-Santara, seperti; Syekh Abdul Hamid Ali Kudus, Syekh Nawawi Al-Bantani (Bantan), Syekh Al-Turmusi (Termas-Pacitan), Syekh Abdul Qodir Al-Mandili (Mandailing), Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani (Padang). Mereka adalah ulama Nusantara yang moderat.
============
Sumber: nu online