Jumat, 06 Juli 2018

KETHEKLEK SANG KIYAI DAN RUH FASTABIQUL KHAIRAT

Edisi 2
Kiyai Sholeh Darat tidak pernah membeda-bedakan santrinya,  apapun latar belakang mereka.
M. Darwis Sang Putra Ketib Keraton Ngayogyakarta hadiningrat di mata Sang Kiyai sama dengan M. Hasyim Gedang,  Mahfudz Tremas,  Idris Jamsaren,  Sya'ban Sekarang,  Dalhar Muntilan, Munawwir Krapyak  atau santri lainnya yang datang dari pelosok nusantara.

Yang malas harus ditegur,  yang salah harus indzar dan yang sedih harus dihibur.
Begitulah Sang Kiyai membimbing murid-murid nya secara lahiriah. Namun secara bathiniyyah,  Hati tidak lah bisa dikendalikan karena sejatinya Allah lah sang pemilik hati.
Kepada M. Hasyim dan M. Darwis,  hati Sang Kiyai selalu dibuat 'jatuh cinta'. Ada perasaan haru bercampur bahagia setiap kali Sang Kiyai melihat kedua santri nya tersebut.
Selain karena kedua santrinya ini memiliki kecerdasan diatas santri yang lain,  juga karena unggah-ungguh dan adab mereka jauh diatas rata-rata. Inilah daya pikat kedua santri yang kelak menjadi dua tokoh besar ini.
Rasa hormat, takdzim dan ihtiram kepada Sang Kiyai inilah yang juga memikat sesama santri yang ikut belajar bersama keduanya.
Tidak hanya soal belajar,  dalam keahlian cocok tanam misalnya kedua santri inipun selalu berusaha saling 'mengalahkan'. 
Bahkan dalam seni menata Ketheklek Sang Kiyai mereka tidak pernah mau kalah. Seolah ruh fastabiqul khairat telah menyatu dalam diri mereka.
Dalam banyak kesempatan M. Darwis lebih sering kalah dengan M. Hasyim karena Hasyim lebih cepat dan cekatan. 
"hari ini kita _bedu_ kang mas,  aku dapat satu,  sampeyan dapat satu" ujar Hasyim.
"Besok pasti aku yang menang" ujar Darwis.
"Ora isoh,  kalau dalam kebaikan kita tetap berlomba" ujar Hasyim" bersemangat.
Demikian kedua santri ini belajar,  tidak hanya fiqih, falak,  nahwu,  shorf,  tafsir, namun juga adab dan akhlaq bahkan ruh berlomba dalam kebaikan.
M. Hasyim selalu memanggil M. Darwis dengan panggilan Kang Mas, karena usia Darwis dua tahun lebih tua daripada Hasyim.
Saat liburan pesantren M. Hasyim dengan senang hati ziyaroh ke kediaman Ketib Masjid Gedhe yang tidak lain adalah bapak M. Darwis di Jogjakarta. Mereka berdua naik kereta dari Semarang - Jogjakarta dan turun di Stasiun Tugu.
Hingga ketika,  M. Darwis yang kemudian lebih populer dengan sebutan KH. Ahmad Dahlan menjadi Tokoh Pergerakan dijadwalkan berkunjung ke Pesantren Tebu Ireng Jombang,  Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari sendiri yang menabuh kenthongan untuk memberi dawuh kepada warga pesantren agar menyiapkan segalanya demi menyambut tokoh besar tersebut.
" Santri-santriku yang baik,  hari ini ngaji libur sementara karena pesantren kita kedatangan tamu istimewa nan penting. Mohon kiranya para santri menyiapkan segalanya ". Demikian dawuh beliau. 
Kunjungan KH. Ahmad Dahlan sebagaimana kiyai yang lain saat itu,  sebelum mendirikan pesantren atau organisasi,  mereka terlebih dahulu berkunjung ke para kiyai yang mereka hormati.
Tradisi yang sangat istimewa dan 'Indonesia' sekali.
Pada saat itu,  menjelang 1912, tahun lahirnya Ormas besar Muhammadiyah. 
Selain ke Jombang,  beliau juga ke Cirebon,  Semarang,  Pati,  Lamongan,  Pasuruan,  Jember,  Tasikmalaya hingga Jayakarta. 
Ketika, Sang Pencerah Umat tersebut tiba di Pesantren Tebu Ireng,  iring-iringan rebana _Thola'al badru dan Barzanji_ bergema bertalu-talu.  Suasana sangat meriah dan luar biasa bahagia. 
Kedua tokoh ini saling berpelukan karena sekian tahun berpisah dengan kesibukan studi dan kiprah dakwah masing-masing. 
Dari Jombang inilah,  tekad Sang Pencerah (KH. Ahmad Dahlan)  semakin membaja karena dorongan Sang Penakluk Badai (Hadratusy Syaikh Hasyim asy'ari) untuk mendirikan muhammadiyah sebagai washilah perjuangan. 
#Ibrah
1. Sangat aneh jika ada santri kurang adab dengan kiyai
2. Ormas hanyalah sarana,  bukan tujuan. Tidak semestinya kita fanatik dengan organisasi lalu lupa subtansi perjuangan.
3. Kedua tokoh ini adalah saudara seperjuangan,  sehinga siapapun yang mengaku pengikutnya haram bermusuhan.
Hadanallahu wa iyyakum