Rabu, 12 Maret 2014

Kisah si 'Wanita Emas' yang Sempat Dirayu Lembaga Survei

foto kapanlagi.com
Jakarta - Mischa Hasnaeni Moein (37 tahun) tak mau lagi berurusan dengan lembaga survei. Apalagi selama ini kinerja lembaga tersebut sangat tergantung dari besarnya uang yang dibayarkan. Pengalaman itu dia rasakan setelah dua kali gagal ikut pemilihan kepala daerah.


Tahun 2010, perempuan yang lebih dikenal dengan 'Wanita Emas' itu pernah mencoba peruntungan dengan maju sebagai calon Wali Kota Tangerang Selatan. Gagal di Tangerang Selatan, dia mencoba maju dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta.

Gagal di dua tempat tersebut, tahun ini Hasnaeni menjadi calon anggota legislatif dari Partai Demokrat. Dia mengaku lebih percaya pada jaringan relawan alias tim suksesnya yang langsung turun ke lapangan.

Hasnaeni mengaku pernah beberapa kali terlibat negosiasi dengan lembaga survei. Bahkan, beberapa bulan lalu sebuah lembaga survei ternama kembali mendatangi Hasnaeni untuk menawarkan jasa memoles citra dan mendongkrak suara.

“Mereka (lembaga survei) menjamin populer saya naik. Jadi, konsultan saya. Bisa juga gerakan massa buat dukung saya. Semua dijamin. Tapi, saya tidak percaya. Mereka semua itu kan bayaran,” kata Hasnaeni kepada detikcom Sabtu (8/3) akhir pekan lalu.

Apalagi menurut dia, lembaga survei tersebut meminta bayaran hingga miliaran rupiah. Bukan soal tarif yang dia permasalahkan, namun kredibilitas lembaga survei yang dia pertanyakan. Hasnaeni mencontohkan, pada 2012 lalu dia berencana mengikuti pemilihan kepada daerah Jakarta.

Tanpa menggunakan lembaga survei, dia menyebarkan spanduk, pamflet dan stiker ke seluruh penjuru Jakarta. Namun dia merasa aneh saat sebuah lembaga survei menyebut bahwa popularitasnya tetap rendah“Kan itu aneh. Kalau Anda minta sekian miliar sama saya tapi banyak janji. Mendingan saya beli mie instan dan itu sudah dapat berapa kontainer. Kasih langsung buat rakyat dan bisa dinikmati,” kata istri dari Muslim Mahmud itu.

Dua pengalaman itulah yang membuat dia tak lagi percaya dan tidak mau menggunakan jasa lembaga survei. Meski mereka menjamin bisa mendatangkan ribuan massa ke arena kampanye Hasnaeni.

Soal urusan mendongkrak perolehan suara, dia percayakan pada tim sukses dan relawannya. Sejumlah strategi dan dana telah disiapkan. Namun, dia enggan menyebut cara dan besaran materi biaya yang dipersiapkan untuk melakukan upaya ini. “Saya enggak bisa sebutin karena ini strategi. Kalau politik itu mahal ya memang betul. Yang pasti saya punya cara tersendiri,” ujarnya.

Hasnaeni mengklaim saat ini caleg Partai Demokrat paling populer dibanding calon dari partai lain. Menurut dia upaya gencar tim sukses dalam menyebar atribut kampanye dan sosialisasi ke masyarakat membuat popularitasnya terus naik.

Seorang praktisi di bidang konsultan politik mengakui adanya fenomena jasa penggerak massa untuk kampanye. Pemesannya bisa dari partai atau calon anggota legislatif sendiri. Kandidat wakil rakyat berlomba mengumpulkan massa dalam jumlah banyak.

Mereka menganggap dengan mendatangkan ratusan bahkan ribuan massa bisa mempengaruhi calon pemilih.

Fenomena inilah yang kemudian dijadikan oleh sejumlah orang sebagai peluang. Bahkan menurut praktisi yang tidak mau disebutkan namanya itu, ada juga konsultan politik yang ikut menyediakan jasa penggerak massa.
detik.com
Posting Komentar