Rabu, 12 Maret 2014

Asal Ada Uang Gampang Gaet Orang






Detik.com Jakarta - Tangan Albani masih sigap menghitung uang recehan meski terik matahari menyengat tubuhnya yang sudah basah dengan keringat. Sesekali duit recehan kertasan dipakai untuk mengusap keringat di dahinya.
“Kalau ada kerjaan cuma tiga jam tapi duitnya gede, gue ambil dah. Enggak papa lah panas-panasan,” ujar pria yang berprofesi sebagai tukang parkir itu.

Hampir sabana hari, ayah satu anak ini selalu hadir di depan minimarket yang tidak jauh dari rumahnya. Dari siang hingga sore adalah gilirannya mencari uang dari kendaraan pembeli. Meski cuaca panas terik hingga hujan pun, dia tetap setia nongkrong di minimarket tersebut.

Ingatan Albani pun kembali ke lima tahun lalu yang kerap mendapat order singkat tapi duitnya melebihi jerih payahnya dari tukang parkir. Saat itu, pria 32 tahun ini menjadi langganan pengikut kampanye salah satu partai politik.

Dari empat kali kampanye dan acara bakti sosial serta saat pencoblosan, Albani total bisa mengantongi sekitar Rp 400 ribu. Setiap kampanye, dia mengaku saat itu dikasih Rp 50 ribu serta kaus partai. “Duit segitu kan dulu gede. Kita ikut cuma dua jam paling. Lumayan lah buat beli rokok dan pacaran dulu,” kata warga Kampung Tengah, Kramatjati, Jakarta Timur ini, kepada detikcom, Sabtu (08/03).

Dia pun berharap ada rekan atau saudara yang menawarkan jasa pengikut kampanye. Kalau ada uangnya dan lebih dari satu kali, Albani mengaku tidak pikir dua kali. Profesi tukang parkirnya pun bisa ditinggal sementara. Tapi, sejauh ini, tawaran yang diharapkannya belum juga muncul. “Kampanye gitu kan paling sampe sore. Malamnya kita kan bisa ikut parkir lagi,” tuturnya

Hal senada dikatakan warga Kramatjati lainnya, Maimunah, 38 tahun. Ibu rumah tangga ini tergiur dengan tawaran duit dari relawan salah satu parpol pada Pilkada DKI dua tahun lalu. Dari kampanye dan acara pertemuan akbar, dia mengaku mendapat Rp 300 ribu.

Jumlah ini, menurutnya belum termasuk saat upah pencoblosan yang Rp 50 ribu. “Zaman sekarang siapa sih yang gak mau duit. Apalagi saya yang cuma ibu rumah tangga. Suami cuma ngojek,” katanya.

Bagi kebanyakan orang, masa kampanye seperti pemilihan umum 2014 ini mendatangkan rezeki tersendiri. Utamanya para warga yang menjadi massa bayaran.

Husin, salah satu penggerak massa mengaku tidak kesulitan mencari orang untuk diajak menjadi massa dengan adanya imbalan bayaran. “Kalau cari orang mah gampang asal ada duit. Tukang ojek, ibu-ibu gosip, sampe anak tongkrongan itu bisa. Cuma duitnya jangan kecil. Kasihan orang panas-panasan, nahan lapar sekarang cuma dikasih Rp 50-Rp 70 ribu,” ungkap warga Condet, Kramatjati, ini kepada detikcom, Sabtui (08/03/2014).
Posting Komentar