Rabu, 29 Mei 2013

Siapa Yusya' bin Nun dan Khidir AS?


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Syahruddin El-Fikri
Siapakah murid yang menemani Musa sewaktu bertemu hamba Allah yang saleh itu? Siapa pula hamba Allah yang saleh tersebut?


Dalam beberapa keterangan, murid Musa yang menemaninya itu adalah Yusya' bin Nun. Nama lengkapnya Yusya' bin Nun bin Ifrosun bin Yusuf AS bin Ya'kub AS bin Ishaq AS bin Ibrahim AS. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Yusya' bin Nun adalah salah seorang Nabi yang meneruskan risalah kenabian Musa AS. Ia dimakamkan di Yordania.

Sementara itu, berdasarkan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, hamba Allah yang saleh itu adalah Nabi Khidir AS. Dalam berbagai riwayat, Khidir adalah seorang nabi yang diutus Allah untuk menyerukan kaumnya kepada tauhid dan keimanan terhadap para nabi, rasul, dan kitab-kitab mereka.

Salah satu tanda kenabian atau mukjizatnya adalah setiap kali ia duduk di atas kayu kering atau tanah gersang, berubahlah tempat yang didudukinya menjadi hijau (akhdlor). Itulah alasan mengapa dia dipanggil dengan sebutan Khidir atau 'Yang Hijau.'

Jalaluddin as-Suyuthi dalam tafsir ad-Dur al-Mantsur menukil hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas menyatakan, ''Sesungguhnya, Khidir disebut demikian lantaran setiap shalat di atas hamparan kulit putih, hamparan itu tiba-tiba berubah menjadi hijau.'' Imam Bukhari mengatakan, Musa dan muridnya menemukan Khidir di atas sajadah hijau di tengah-tengah lautan.

Dalam riwayat lain, namanya adalah Talia bin Malik bin Abir bin Arfakhsyad bin Sam (atau Shem) bin Nuh.

Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan Khidir. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia seorang wali dari wali-wali Allah SWT. Sebagian lagi mengatakan bahwa ia seorang nabi. Bahkan, ada yang mengatakan, Khidir akan hidup sampai hari kiamat. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan Nabi Khidir.

Sementara itu, warga Anthakia (Syam) meyakini bahwa Khidir adalah manusia biasa yang diangkat menjadi seorang nabi. Ia pun telah wafat. Makamnya, menurut warga Anthakia, terletak di daerah mereka. Sami bin Abdullah menyatakan, dirinya pernah berkunjung ke lokasi tersebut, namun ia tak berani mengambil kesimpulan. Wa Allahu A'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda untuk menambah silaturahim.