Selasa, 14 Mei 2013

Refleksi Isra’ Mi’raj

Apakah Kita Sudah Shalat?
Isra’ mi’raj merupakan perjalanan terbesar dan terhebat sepanjang sejarang peradaban manusia.

Tiada manusia lain yang dianugerahi sedemikian agungnya oleh Allah SWT selain rasulullah Muhammad SAW.

Isra’ mi’raj adalah sebuah pengakuan Rasulullah yang berdampak sangat besar pada zamannya. Bahkan hingga saat ini, pernyataan tersebut menjadi bagain yang masih dianggap kontroversial dalam catatan sejarah. Hanya keimanan yang dapat menelaah peristiwa ini dengan sepenuh penerimaan dan keyakinan yang dilandasi oleh kataqwaan. Tanpa keyakinan dan ketaqwaan, maka isra’ mi’raj akan menjadi bahan perdebatan dan saling berbantahan.

Hanya orang-orang yang menerima pengakuan Rasulullah dengan penuh keyakinan dan kepasrahan kepada Allah inilah yang akan dapat menerima anugerah isra’ mi’raj hingga saat ini. Hanya merekalah yan dapat menjadikan isra’ mi’raj sebagai momentum untuk terus memperbaiki kekurangan diri, baik dari sisi duniawi maupun ukhrowi.

Dari sisi duniawi, isra’ mi’raj menjadi sebuah bahan telaah untuk pengembangan-pengembangan penelitian ilmiah dan dan teknologi yang memungkinkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Baik dalam lingkup masyarakat berbangsa maupun bangsa-bangsa dan Negara-negara dunia.

Dari sisi ukhrowi, jelas bahwa isra’ mi’raj, merupakan keberkahan tersendiri bagi umat Muslim hingga saat ini. Bila kita menginginkan peristiwa ini memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan kita maka mestinya kita meneliti kembali pernyataan sikap dan tindakan kita terhadap oleh-oleh terindah peristiwa isra’ mi’raj. Sudahkah kita menerima dan membenarkan peristiwa ini dengan segala keimanan dan ketulusan hati? Apakah kita telah membuktikannya dengan mendirikan shalat secara berkualitas?

Karena hidup senantiasa memiliki dua sisi yang berlawanan, yakni nikmat atau musibah, kebahagiaan atau kesedihan. Memang terkadang persoalannya tidak mudah, karena manusia memiliki kecenderungan kufur pada saat meraih nikmat dan berkeluh kesah pada saat meraih musibah, dan inilah yang terjadi pada manusia secara umum, kecuali orang-orang yang dapat melaksanakan shalat dengan khusyu’.

Mereka yang mendirikan shalat dengan khusyuk berarti memiliki kepercayaan bahwa shalat adalah buah dari anugerah yang maha agung bagi umat Islam, yakni isra’ mi’raj. Adalah sama sekali bohong jika kita mengakui mengimani isra’ mi’raj namun senantiasa meninggalkan shalat tanpa merasa bersalah sedikitpun juga.


Siti Fatimah Minta Penjelasan Rasulullah

Pada suatu hari, Sayyidina Ali RA masuk ke dalam rumah Rasulullah SAW bersama isterinya, Siti Fatimah binti Rasulillah. Maka tatkala aku (Sayyidina Ali) dan isterinya telah dekat dengan pintu, Rasulullah SAW segera menyapa mereka dengan ramah, ”Siapa kah yang berada di depan pintu?”

Demi menerima sapa dari ayahandanya, baginda Rasulullah SAW, maka Siti Fatimah RA segera menyahut dengan lembut, ”Kami ya Rasul, Anaknda bersama suami, Ali. Kami datang untuk menghadap engkau ya Rasul”. Dari dalam rumah, Rasulullah segera menyahut pula, ”Baik masuklah.”

Ketika Rasulullah SAW membuka pintu, tiba-tiba Ali dan Fatimah mendapati keadaan rasulullah yang sedang menangis. Melihat hal; ini maka Sayyidina Ali RA segera menghaturkan salam ta’dzim, ”Wahai Rasulullah, kami rela menjadi penebusmu, apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis?”

Mendengar salam ta’dzim dari menantu dan puterinya ini, Rasulullah SAW segera beranjak menyambut mereka sembari bersabda, ”Wahai kedua putera-puteriku, sesungguhnya aku telah melihat pada malam Mi'raj, beberapa perempuan umatku sedang menerima siksa yang amat sangat memprihatinkan.

Kondisi mereka benar-benar menyedihkan. Karena itulah aku masih selalu menangis bila mengingat merekadalam keadaan yang tersangat tersiksa.”
Mendengar sabda Rasulullah SAW ini, lantas kedua puteri dan menantunya ini tampak sangat sedih. Mereka pun kemudian melanjutkan pertanyaan, ”Ya, Rasulullah, bagaimanakah engkau lihat akan keadaan mereka itu?”

Nabi pun bersabda, ”Telah aku lihat seorang perempuan yang tergantung dengan lidah terikat sebagai tali gantungan sementara api neraka yang sangat panas dituangkan ke dalam leher mereka.”

Mendengar pernyataan demikian, Sayyidah Fatimah segera berdiri menyambut Rasulullah seraya menghaturkan sembah dan berkata, ”Wahai Rasul kekasih dan cahaya mataku, ceritakanlah kepada kami mengapa mereka (perempuan-perempuan itu) sampai mendapat siksa demikian?”

Rasulullah SAW kemudian bersabda, ”Perempuan-perempuan akan mendapat siksaan demikian, jika mereka adalah isteri-isteri yang mengingkari kepercayaan atau menyakiti suaminya dengan berlaku serong.”

sumber: klik
Posting Komentar