Minggu, 01 Juli 2012

Malu Jadi Ibu RumahTangga?


Pribadi dan lingkungan tidak mendukung mereka untuk bangga dan berprestasi. Tentu Anda sering mendengar jawaban, “Ah, saya sih cuma ibu rumah tangga,” dariseorang ibu, manakala ditanya tentang pekerjaannya. Biasanya si ibu menambahnya dengan tersenyum malu. Apakah karena profesi ibu rumah tangga ini memang memalukan? Hingga saat ini, adalah kenyataan bahwa profesi ibu rumah tangga ini belum diletakkan pada posisinya yang sebenarnya cukup tinggi.

Dianggap pekerjaan gampang

Masak, cuci, seterika, bersih-bersih rumah, bermain dengan anak, menyuapi makanan, siapa sih yang tak bisa melakukannya? Tanpa harus sekolah tinggi-tinggi pun tak ada kesulitan. Begitulah umumnya pendapat orang. Tapi apakah memang benar demikian?

Jika tujuan membesarkan anak hanya sekadar supaya mereka tumbuh besar sih, mudah. Tetapi untuk mendapatkan anak yang berkepribadian tinggi dan berakhlaq mulia, sama sekali bukan pekerjaan gampang. Tak ada jaminan gelar profesor akan membuatnya mampu.

Sayangnya, memang untuk urusan mendidik anak ini belum ada sekolah formalnya. Akibatnya, orang mengira seorang wanita akan bisa melakukannya begitu saja secara naluriah. Ditambah lagi, urusan mendidik anak ini hasilnya tidak bisa dilihat dalam waktu dekat. Perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa merasakan hasilnya, memiliki anak yang baik dan berakhlaq. Demikian pula bila ada kesalahan dalam mendidik, akibatnya mungkin baru ketahuan bertahun-tahun kemudian. Sehingga orang merasa sudah mendidik anaknya dengan baik, sekalipun yang ia lakukan hanyalah mendidik sesuai pendapatnya sendiri.

Anggapan menyepelekan ini sangat berbahaya, mengingat pendidikan anak adalah tugas yang sangat menentukan kualitas generasi muda ummat. Kenyataan membuktikan, bahwa kualitas generasi penerus ummat Islam masih sebatas kualitas ibunya saja.


Kekuatan fisik yang utama

Kondisi ekonomi masyarakat kita yang masih minim menyebabkan hampir setiap orang berkonsentrasi, menghabiskan tenaga dan waktunya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Jika hanya ada singkong yang cukup dimakan sekali sehari, sementara anak-anak menangis kelaparan, dan menderita sakit yang tak kunjung sembuh karena tak mampu berobat, apakah masih mampu memikirkan urusan kebersihan, kesehatan, apalagi pendidikan? Lebih baik menyuruh anak membantu di sawah daripada bersekolah. Dan ayah sebagai kepala keluargaakan mengajari istri dan anaknya apa saja yang bisa dilakukan untuk memperoleh makanan. Apakah mencari rumput, kayu bakar, mengumpulkan sayur-sayuran liar, mencari ikan di kali, hingga memecah batu dari sungai.

Pekerjaan-pekerjaan semacam ini semuanya memerlukan kekuatan fisik ekstra kuat. Karena itulah, wajar jika dalam kondisi seperti ini mereka yang memiliki fisik kuat, notabene akan lebih mampu menghasilkan banyak makanan, maka mereka itulah yang lebih dihormati.

Dalam situasi kehidupan seperti ini wanita menjadi kurang berharga di mata masyarakat. Selain karena kondisi fisiknya tak banyak memungkinkan untuk membantu mencari makanan, tidak produktifnya mereka dianggap menjadi beban, ditambah lagi banyaknya anak keturunan yang lahir dari rahim mereka ternyata semakin menambah-nambah beban bagi laki-laki.

Ratusan tahun, kondisi seperti ini dialami bangsa Indonesia, sejak masa penjajahan, hingga sekarang. Walaupun kondisi ekonomi telah sempat membaik dalam 5 dasawarsa, namun penyakit kejiwaan masyarakat kurang memperoleh pengobatan yang semestinya. Tidak dilakukan luarga pria, dengan anggapan bahwa keluarga wanita tersebut akan `membeli' si pria yang akan segera berpindah untuk hidup di tengah-tengah keluarga si wanita. Seakan-akan, segala bahan yang mereka kirimkan tersebut, yang nilainya bisa mencapai jutaan rupiah, adalah sebagai penebus`harga' kekuatan fisik pria tersebut. Mereka menganggap perlu untuk memberikan penebus ini, mengingat betapa kekuatan fisik pria adalah sesuatu yang sangat berguna bagi keluarga.


Materialisme: uang sebagai ukuran

Apa yang tidak bisa diperoleh dengan uang? Begitu pentingnyaarti uang bagi kehidupan jaman sekarang menumbuhkan kenyataanbahwa masyarakat hanya menghargai pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan uang. Lahan-lahan pekerjaan `basah' menjadi rebutan orang, sementara pekerjaan mulia yang bergaji kecil tak diminati kecuali bagi mereka yang tak memiliki pilihan lain. Apalagi lahan kerja rumah tangga yang tak menjanjikan gaji.

Pola hidup materialistis telah membuat orang menghormat uang dan mereka yang ber-uang. Ada uang, ada peluang. Bahkan harga diri pun diukur lewat keberadaan uang. Wajar, jika harga diri ibu rumah tangga pun terpuruk karenanya.


Tak ada pengakuan

Salah satu pendukung tumbuhnya rasa percaya diri adalah faktor pengakuan dari lingkungan atau masyarakat. Jika perempuan kita belum percaya diri sebagai ibu rumah tangga, salah satu sebabnya memang karena banyak elemen masyarakat yang kurang bisa memberikan penghormatan kepada profesi mulia ini.

Media massa, baik cetak maupun elektronik, penuh dengan artikel tentang keberhasilan karir kaum wanita di luar rumah. Gambar iklan senantiasa menampilkan wanita-wanita kantoran yang keren dan trendy. Kalaupun ada iburumah tangga, itu hanya iklan sabun cuci.

Hampir semua yang berbau modern diambil dari dunia Barat. Padahal, dunia mereka sudah banyakmendiskreditkan keluarga. Dianggap pembatas kebebasan wanita, kian banyak orang benci pada pernikahan. Keluarga sebagai institusi sudah dianggap tak perlu. Keinginan hubungan seks maupun punya anak pun bisa diperoleh tanpa nikah. Lantas, perlahan (tapi pasti) profesi ibu rumah tangga akan terhapus jika kecenderungan ini tak dihentikan.

Sementara itu, para suamipun masih banyak yang belum bisa menghargai profesi istrinya ini. Jangankan memberikan fasilitas kerja yang baik, memberi pujian pun tidak. Banyak yang berpendapat bahwa memang istri ditakdirkan untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Akibatnya, merasa tak perlu memberikan imbalan apa-apa. Merasa tak perlu juga turun tangan membantu jika sang istri kerepotan. Bukankah sudah begini pembagiannya? Itu pendapat mereka.

Apakah anda juga berpendapat sepertiini? Jangan. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Wanita tidaklah ditakdirkan untuk hidup mengabdi kepada suaminya semata. Pendapatini perlu diluruskan.


Kualitas rendah

Kisah kaum ibu yang suka ngerumpi, ghibah, shopping, cucimata, serta menghabiskan waktu menonton telenovela di televisi memang bukan kabar burung semata. Penyakit-penyakit ini banyak menjangkiti kaum ibu berpendidikan di kota-kota, dan lebih banyaklagi mewabah di antara kaum ibu di desa-desa.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa ini adalah akibat dari serangkaian penyebab yang telah kita bicarakan di atas, namun tidak adanya kesadaraan dari diri kaum ibu sendiri untuk memperbaiki dirinya menyebabkan citra ibu rumah tangga kian tercoreng-moreng.

Kalau tingkat kualitas sumber daya manusia kaum ibu pedesaan rendah, itu sangat bisa kita pahami. Selain faktor kurangnya pendidikan, kurangnya informasi, opini suami dan masyarakat yang masih kurang menghargai istri, juga upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas mereka pun nampak belum serius.

Program-program pemerintah untuk kaum ibu di pedesaan seperti program PKK dan POSYANDU sudah memiliki konsep yang cukup baik, namun dalam penerapannya selain tidak didukung dana dan fasilitas, juga dikerjakan oleh orang-orang yang tidak profesional. Akhirnya ratusan juta rupiah yang selamaini dikucurkan masih belum memperoleh hasil sesuai dengan target yang diharapkan. Dan kaum ibu Indonesia sekarang masih takubahanya seperti kaum ibu sepuluh, dua puluh bahkan lima puluhtahun lalu!




Oleh : Nadantiar

www.percikan-iman.com
Posting Komentar