Selasa, 27 Desember 2011

S A B A R


  SABAR

Allah Swt. Berfirman :

“Sabarlah engkau (ya Muhammad), tiada Ke sabaran itu kecuali dengan pertolongan Allah swt.” (QS. An-  Naml: 127)
Dari Aisyah r.a. diceritakan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda :

“Sabar yang sempurna adalah pada pukulan(saat menghadapi cobaan) yang pertama.”
            Dari Anas bin Malik dikatakan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “Sabar yang sempurna adalah pada pukulan (saat menghadapi cobaan) yang pertama.” Sabar terbagi menjadi dua, yaitu sabar yang berkaitan dengan usaha hamba dan sabar yang tidak berkaitan dengan usaha. Sabar yang berkaitan dengan usaha terbagi menjadi dua, yaitu sabar tehadap apa yang diperintah oleh Allah dan sabar terhadap apa yang dilarang-Nya. Sedang sabar yang tidak berkaitan dengan usaha adalah sabar terhadap penderitaan yang terkait dengan hukum karena mendapatkan kesulitan.
      Junaid mengatakan, “perjalanan dari dunia menuju akhirat adalah mudah dan menyenangkan bagi orang yang beriman; putusnya hubungan makhluk di sisi Allah Swt. Adalah berat; perjalanan dari diri sendiri (jiwa) menuju Allah Swt. Adalah sangat berat; dan sabar kepada Allah Swt. Tentu akan lebih berat.” Dia ditanya tentang sabar, lalu dijawab, “Menelan kepahitan tanpa bermasam muka.”
      Menurut Ali bin Abu Thalib, sabar merupakan bagian dari iman sebagaimana tempat kepala merupakan bagian dari tubuh. Menurut Abul Qasim, yang dimaksud firman Allah Swt. “Sabarlah engkau (ya Muhammad)”adalah pondasi ibadah, sedang yang dimaksud firman Allah Swt.”Tiada kesabaranmu kecuali dengan pertolongan Allah Swt” (QS. An-Naml: 127) adalah ubudiyah (penghambaan, bersifat ibadah). Barang siapa naik dari satu derajat untuk-Mu menuju satu derajat yang lain karena pertolongan-Mu, maka dia pindah dari derajat kaidah menuju derajat ubudiyah. Rasulullah Saw. Bersabda:

“Hanya dengan perto longan-Mu saya dapat hidup dan mati.”  
Abu Sulaiman pernah ditanya tentang sabar. Dia menjawab demi Allah, kami tidak bersabar terhadap apa yang kami cintai, maka bagaimana kami besabar pada apa yang kami benci?”
Menurut Dzu Nun Al-Mishri, yang dimaksud sabar adalah menjauhi hal-hal yang bertentangan, bersikap tenang ketika menelan pahitnya cobaan., dan menampakkan sikap kaya dengan menyembunyikan kefakiran dimedan penghidupan. Menurut Ibnu Atha’ yang dimaksud sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap berprilaku baik. Menurut satu pendapat, yang dimaksud sabar adalah orang yang sangat sabar, yaitu orang yang mengembalikan pada dirinya sendiri terhadap sesuatu yang dibenci  ketika menghadapi serangan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud sabar ialah tertimpa cobaan dengan tetap bersikap baik dalam per gaulan sebagaimana dalam keadaan sehat ( selamat ) Dia juga berpendapat, sebaik-baik pembalasan akan melebi hinya. Allah Swt. Berfirman:

“Kami balas orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
         (QS. An-Naml: 96)
Menurut Amr bin Utsman, yang dimaksud sabar adalah tetap bersama Allah Swt. Dan menerima cobaan-Nya dengan lapang dada dan senang hati. Men urut Ibrahim al-Khawwash, yang dimaksud sabar adalah konsisten terhadap hukum-hukum al-Qur`an dan As-Sunnah. Menurut yahya, kesa baran orang-orang yang cinta kepada Allah Swt. Lebih kuat daripada kesabaran orang-ora ng yang zuhud. “Alangkah mengagumkan bagaiamana mereka bersabar ?” Hal ini diungkapkan ulama dalam syair :

Sabar akan menghiasi dengan kein dahan
            Di seluruh tanah air
Sabar tidak akan menghiasi dengan kein dahan
Kecuali hanya tertuju kepada-Mu

Menurut Ruwaim, yang dimaksud sabar adalah meninggalkan keluhan. Me nurut Dzun Nun al-Mishri, yang dimaksud sabar adalah memohon pertolongan ke pada Allah Swt.
Saya telah mendengar Ustadz  Abu Ali ad-Daqaq mengatakan, “sabar seperti nama-Nya. Telah bersyair ke padaku Syaikh Abu Abdi rrahman, telah bersyair ke padaku Abu Bakar ar-Razi, dan telah bersyair kepadaku Ibnu Atha` pada dirinya sendiri :

Saya akan ber sabar agar engkau rela
Saya lenyapkan rasa keluh kesah
Agar engkaupun juga rela
Saya merasa cukup
Apabila sabarku
Telah melenya pkan diriku

Menurut Abdullah bin Khafif, sabar terbagi menjadi tiga, yaitu orang yang menerima sabar, orang yang sabar, dan orang yang sangat sabar. Menurut Ali bin Abu Thalib, sabar ibarat binatang kendaraan yang tidak pernah jatuh tersungkur.
Ali bin Abdullah al-Bashri mengatakan bahwa seorang laki-laki berhenti di depan Syibli seraya be rtanya,“sabar yang bagai mana yang lebih kuat (hebat)di atas orang-orang yang sabar ?”
“Sabar di dalam Allah
 Swt.”
“Bukan?!”
“Sabar untuk Allah.”
“Bukan?!”
“Sabar bersama
 Allah.”
“Bukan?!”
“Jadi sabar yang
 bagaimana?” Syibli
 balik
 bertanya.
“Sabar
menghindarkan diri
 dari
 Allah
 Swt.” Setelah itu
 Syibli berteriak yang
 ruh
 (nafas) nya hampir
 saja lenyap.
Menurut Abu Muh ammad al-Jariri, yang dimaksud sabar adalah tidak memisahkan antara kenik matan dan ujian dengan pemi kiran yang tenang, sedang yang dimaksud penerimaan sabar adalah tenang meng hadapi cobaan dengan menda patkan beratnya ujian. Seba gian ulama mengatakan :
Saya bersabar
Tetapi saya belum
 Mengetahui
Keinginan-Mu atas sabarku
Saya sembunyikan dari-Mu
Apa-apa yang terkait denganku
Dari tempat sabar
Karena takut hati nuraniku
Mengeluh pada kerinduanku
Terhadap air mataku
Secara rahasia
Sehingga ia tetap mengalir
Dan saya pun tidak mengetahui

Saya telah mendengar Ustadz Abu Ali ad-Daqaq mengatakan, “orang-orang yang sabar telah beruntung disebabkan susahnya orang-orang yang tahu, karena mereka telah memperoleh perlindungan dari Allah Swt.”
Allah Swt, berfirman :

“Sesungguhnya Allah Swt, bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Anfal: 46)
Yang dimaksud arti firman Allah Swt.:

“Sabarlah, menya barkan dirilah, dan berjagalah kamu sekalian.”
(QS. Ali Imran: 200)
Maksudnya adalah sabar tanpa menyabarkan diri, dan menyabarkan diri tanpa menjaga diri.
Menurut satu pen dapat, yang dimaksud ayat itu adalah sabarlah dengan diri kalian untuk taat kepada Allah Swt, sabarlah dengan hati kalian untuk menerima cobaan-Nya, dan sabarlah dengan tabir hati kalian untuk rindu kepada-Nya. Sedang menurut ulama yang lain, yang dimaksud ayat itu adalah sabarlah kalian karena Allah Swt. Sabarlah kalian dengan-Nya, dan sabarlah kalian bersama-Nya.
Menurut satu pen dapat, Allah Swt menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud a.s : “ Berbudi pekertilah dengan budi pekerti-Ku. Sesungguhnya sebagian dari budi pakerti-Ku adalah sangat sabar”. Dalam ungkapan yang lain dise butkan, “Telanlah kesabaran apabila Allah Swt memati kanmu, maka Dia akan mematikanmu dengan mati syahid. Apabila Allah Swt menghidupkanmu, maka Dia akan menghidupkanmu den gan kemuliaan.”
Menurut sebagian ulama, sabar karena Allah adalah kelelahan, sabar den gan Allah adalah ketetapan, sabar dihadapan Allah adalah cobaan, sabar bersama Allah adalah pemenuhan, dan sabar menghindar dari Allah adalah kehanyutan. Ulama meng gambarkan hal ini sebagai berikut :

Sabar menghindarkan diri dari-Mu akibatnya tercela
Sedang sabar dalam segala hal akibatnya terpuji
Bagaimana sabar dari orang yang tinggal di sampingku dengan menempati
kanan dari yang kiri
apabila orang yang bersenda gurau
dengan segala sesuatu
maka saya telah melihat kecintaan
yang bersenda gurau dengan orang lain

Menurut sebagian yang lain, sabar mencari adalah tanda keberhasilan, sedangkan sabar menerima ujian adalah tanda kebaha giaan. Menurut yang lain, yang dimaksud menyabarkan diri adalah sabar diatas sabar sehingga dapat mencakup sabar di dalam sabar dan melemahkan sabar dari sabar, sebagaimana diungkapkan dalam syair berikut ini :

Orang yang sabarnya
 Sabar
Akan dimintai
 Pertolongan
Oleh orang yang
 sangat sabar
sehingga orang yang
 cinta
menyebutnya dengan
 sabarnya sabar

Menurut satu cerita, suatu saat perjalanan Syibli dicegat di tengah jalan maras tani. Sekelompok orang datang kepadanya.
“Siapa kalian?”
 Tanya Syibli.
Para kekasihmu
 yang sedang
 berziarah
 kepadamu.”

Kemudian dia melem parkan batu kepada mereka sehingga mereka lari. Dia mengatakan kepada mereka, “Wahai orang-orang pem bohong, jika kalian kekasih ku, maka tentu engkau akan sabar menerima cobaanku.”
Di dalam sebagian hadis disebutkan, dengan pen jagaan mata-Ku (Allah), orang - orang yang sabar sebenarnya tidak sabar untuk-Ku. Allah Swt, berfirman :

“Sabarlah engkau (ya Muhammad)(menerima) hukum Tuhanmu. Sesung guhnya engkau dalam penjagaan mata kami.”
              (QS. Ath-Thur: 48)
Sebagian ulama mengatakan, “Saya berada di Makkah. Saya melihat orang fakir mengelilingi Baitullah. Dia mengeluarkan ruq`ah (jimat atau bungkusan yang bertulisan) dari sakunya. Dia melihat ruq`ah itu lantas pergi. Besok harinya dia me ngerjakan sebagaimana ke marin. Beberapa hari saya memperhatikannya. Dia se lalu mengerjakan hal itu setiap hari untuk kepentingan dirinya sendiri.Suatu hari dia berkeliling dan melihat ruq`ahnya,sedikit demi sedikit dia menjauh lantas terjatuh dan meninggal dunia. Ruq`ah itu saya keluarkan dari sakunya. Ternyata di dalam ruq`ah itu berisi tulisan firman Allah Swt :

“Sabarlah engkau (ya Muhammad)(menerima) hukum Tuhanmu. Sesung guhnya engkau dalam penjagaan mata kami.”
  (QS. Ath-Thur: 48)
Sebagian ulama lain mengatakan, “saya memasuki Negara India. Saya melihat seorang laki-laki meng gunakan satu mata. Orang-orang memberikan nama, `fulan yang sangat sabar`. Saya bertanya kepada mereka tentang keadaannya. Lantas dijawab bahwa dia menginjak masa awal remaja ketika teman-teman-Nya hendak bepergian dia keluar dari tempat tinggalnya. Salah satu dari kedua matanya mele lehkan air mata, sedang mata yang lain tidak menangis. Dia mengatakan kepada matanya yang tidak melelehkan air mata,`Kenapa engkau tidak melelehkan air mata atas perpisahan temanku? Saya tentu akan mengharapkanmu untuk melihat dunia.`Dia memejamkan matanya sela ma dua tahun tanpa pernah membukanya”.
Menurut satu pen dapat, yang dimaksud firman Allah Swt.”Bersabarlah en kau (ya Muhammad) dengan sabar yang baik”.(QS. Al-Mi`raj: 5) adalah sabar yang betul agar orang yang tertimpa musibah di tengah-tengah masyarakat tidak dapat diketahui. Umar bin Khaththab pernah menga takan,”Seandainya sabar dan syukur diibaratkan dua unta, maka saya tidak akan peduli mana diantara keduanya yang harus saya tunggangi.”
Dalam satu ungkapan, Ibnu Syibrimah apabila men dapatkan cobaan, dia menga takan, “sekarang berawan, besok ia akan hilang’. Di dalam hadis disebutkan bahwa nabi Muhammad Saw, pernah ditanya tentang iman, beliau menjawab:

“Sabar dan toleransi”.
Sariy pernah ditanya tentang sabar, ketika ia hendak menjawab, kakinya dirayap oleh kala yang me nyengat berulang-ulang. Dia tetap diam tanpa bergerak. Dia ditanya, “Kenapa kala itu tidak kau jauhkan dari kaki mu? “Dia menjawab, “saya malu kepada Allah Swt. Mem bicarakan sabar karena saya belum mampu bersabar”.
Dalam sebagian hadis disebutkan bahwa orang-orang fakir yang sangat sabar adalah tamu-tamu Swt dihari kiamat. Dalam satu cerita, Allah Swt, menurunkan wahyu kepada sebagian para nabi-Nya: “Cobaan-Ku telah kuturunkan kepada hamba-Ku  lantas dia berdo`a kepa da-Ku, tetapi aku tidak men gabulkannya, kemudian dia mengeluh kepada-Ku. Aku berfirman kepadanya, “Wahai hamba-Ku, bagai mana aku dapat mengasi hanimu dengan memberikan sesuatu sehingga Aku dapat kasihan kepadamu”.
Arti firman Allah Swt:

“Kami jadiakan mereka iman (orang-orang yang diikuti) yang memberikan petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar”.  (QS. Al-Anbiya`:73)
Ayat itu kata Ibnu Uyainah, adalah ketika mereka menjadi-kan pemim pin dalam satu urusan, maka kami jadikan mereka sebagai pemimpin.
 Saya telah mende ngar Ustadz Abu Ali ad-Daqaq mengatakan, “Yang dimaksud pembatasan sabar adalah tidak merintangi takdir. Apabila menam pakkan cobaan tanpa cara mengeluh (mengadu), maka hal itu bukan berarti menia dakan sabar”. Allah Swt, berfirman tentang cerita Nabi Ayyub :

 “Sesungguhnya kami mendapati Ayyub seorang yang sabar. Dia sebaik-baik hamba”. (QS. Al-Ahzab: 52)
Ayat itu ditopang dengan firman-Nya yang lain seperti perkataan Nabi Ayyub:

“Kemelaratan telah menimpa diriku”. (QS. Al-Anbiya`: 83)
Saya juga telah mendengar dia mengatakan, “Dari ungkapan ini dapat ditafsirkan bahwa maksud firman Allah Swt, adalah: Kemlaratan telah menimpa diriku agar engkau (Ayyub) memberikan kesenangan kepada umat yang lemah”. Menurut sebagian ulama, ayat itu berbunyi: “sungguh kami mendapatkan Ayyub seorang yang sabar”. Karena semua kondisi Ayyub tidak dapat disamakan dengan sabar. Sebaliknya, sebagian kondisi Ayyub telah menda patkan kenikmatan musibah. Dalam keadaan menerima kenikmatan, dia tidak diklasi fikasikan seorang yang sabar. Oleh karena itu, Allah Swt, tidak berfirman, “Orang yang sangat sabar”.
Saya telah mendengar Ustadz Abu Ali ad-Daqaq mengatakan,”Hakikat sabar adalah menghindarkan diri dari cobaan dan menerima apa-apa yang telah menim panya seperti Nabi Ayyub a.s. Dia tetap mengatakan di Akhir cobaannya, “Keme laratan telah menimpa diriku. Sedang engkau lebih pengasih dari segala yang pengasih” (QS. Al-Anbiya`: 83).
Dia menjaga etika berbicara dengan menga takan, “sedang engkau lebih pengasih dari segala yang pengasih”. Ia tidak menga takan, “Kasihanilah diriku”.
Perlu diketahui bahwa sabar terbagi menjadi dua, yaitu kesabaran orang yang beribadah dan kesabaran orang yang cinta. Sebaik-baik sabar orang yang beribadah adalah terjaga dan sebaik-baik sabar orang yang cinta adalah tertinggal. Dalam pengertian ini ulama menga takan:
Adalah keinginan
 sabar dari salah satu
 praduga-praduga
 bohong

saya telah mendengar Ustadz Abu Ali ad-Daqaq mengatakan, “Nabi Ya`kub a.s. telah mengoptimalkan perjanjian sabar dengan dirinya sendiri. Dia menga takan, “sabar yang baik artinya saya telah mendapatkan sabar yang baik”. Namun ketika dia tidak mendapatkannya, dia balik mengatakan :



“Aduh duka citaku mengenang Yusuf”. (QS. Yusuf: 84).
Posting Komentar