Kamis, 08 November 2012

Pengertian Belajar


1.      Pengertian Belajar
Berusaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu: berlatih: berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.[1]
Menurut Laksono Widodo,  Dari sejumlah pengertian belajar ada kata yang penting yaiti change atau perubahan. Seseorang yang melakukan aktifitas belajar dan diakhiri dari aktifitasnya itu telah memperoleh perubahan dalam dirinya dengan memiliki pengalaman baru, maka individu itu dikatakan telah belajar.[2]
belajar adalah suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri manusia, mencangkup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan sebagainya.[3]

Belajar menurut Cronbach berpendapat bahwa “Learning is shown by change in behavior as result of experience”. Jadi menurut Cronbach belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.[4]
Slameto merumuskan pengertian belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.[5]
Dari berbagai pendapat di atas  tentang pengertian belajar dapat dibuat kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang yang terjadi akibat adanya usaha yang di lakukan oleh orang itu sendiri.
1.      Teori Belajar
seiring dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan, maka bermuncullah berbagai teori belajar yang dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu; teori behavioristik, teori kogniktif, teori humanistis.
a.       Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik ini menurut pakar behavioristik disebut “contemporary behaviorists” atau juga disebut “S – R psychologists”. mereka berpendapat bahwa, tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh  ganjaran (reword) atau penguatan (reinforcement”) dari lingkungan. dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasi.[6]
Psikolog yang mempelopori lahirnya teori belajar behavioristik ini yaitu, Thorndike, Pavlon, Waston, Guhtrie, dan Skinner. mereka mengadakan penelitian dan menemukan teori yang berharga mengenai hal belajar.
Adapun temuanya antara lain sebagai berikut:
a)      Thorndike (1874-1949) disebut juga “connectionism” karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. dari penelitian Thorndike menemukan hukum-hukum sebagai berikut:
1.      “Law of readiness” jika reaksi pada stimulus didukung oleh kesiapan untuk bertindak atau bereaksi itu, maka reaksi menjadi memuaskan.
2.      “Law of exercise” makin banyak dipraktekkan makin kuat hubungan itu. praktek perlu disertai “reward”.
3.      “Law of effect” jika terjadi hubungan antara stimulas dan respon, dan dibarengi dengan “state of affairs” yang memuaskan, maka hubungan menjadi lebih kuat, jika menganggu maka menjadi berkurang.[7]
b)     Ivan Pavlon (1849-1936) disebut juga “classical conditioning”.  mengadakan percobaan terhadap anjing yang diberi stimulus bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing. [8] menurut Pavlon … bahwa tingkah laku itu dibentuk dengan pengaturan dan manipulasi lingkungan.[9]
c)      Jon B. Waston (1878-1958), prinsipnya sama dengan Ivan Pavlon karena telah mengembangkan teori dari Ivan Pavlon,  menurut Waston, manusia dilahirkan dengan beberapa reflek dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta dan marah.[10] 
d)     E.R. Guhtrie (1886-1959), ia memperluas penemuan Waston tentang belajar dan mengemukakan prinsipnya “the law association” yang berbunyi suatu kombinasi stimulus yang telah menyertai suatu gerakan, cenderung akan menimbulkan gerakan itu, apabila kombinasi stimulus itu muncul kembali.[11]
e)      Skinner (1938) dengan teori Operant conditioning.[12] menganggap “reward” atau “reinforcement” sebagai factor terpenting dalam proses belajar. jadi Skinner berpendapat, bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku.[13]
b.      Teori Belajar Kogniktif
Dalam teori belajar ini bependapat, bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh “reward” atau “reinforcement”, tapi tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku itu terjadi.[14]
Teori belajar ini mulai berkembang dengan lahirnya teori “Gestalt” peletak dasar teori psikologi ini dipelopori oleh Mex Werthimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. kemudian Kurt Koffa (1886-1941) menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan; disusul lagi oleh Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang “insight” pada simpanse.
Kaum Gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan.[15] Gestal adalah keseluruhan dalam satu kesatuan dan kebulatan atau totalitas yang menpunyai arti penuh di mana tiap-tiap bagian mendukung bagian yang lain serta mendapat arti dalam keseluruhan.[16]   
c.       Teori Belajar Humanistik
Psikolog humanistik berpendapat bahwa motivasi dasar manusia adalah mencapai aktualisasi diri (betul-betul ada atau sesungguhnya).[17]  Psikologi ini berusaha memahami perilaku seseorang dari sudut si pelaku (behaver), bukan dari pengamat (observer).[18]  para Humanist berpendapat bahwa tiap orang itu menentukan perilaku mereka sendiri. mereka bebas dalam memilih kualitas hidup mereka, tidak terikat oleh lingkungan.[19]
Beberapa tokoh yang mengemukakan teori belajar sesuai dengan aliran humanistik yaitu, Maslov (1954), Rogers (1974), Combs (1974).
a)      Maslov, teorinya didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri kita ada dua hal: 1) suatu usaha yang positif untuk berkembang. 2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. menurutnya, kebutuha-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hierarki. bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, maka barulah dapat mengnginkan kebutuhan yang terletak di atasnya. hirarki kebutuhan manusia ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikanoleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.[20]
b)     Rogers, dalam bukunya “freedom to learen”, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistic yang penting, diantaranya ialah:
1)            Manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami.
2)            Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
3)            belajar atas inisiatif sendiri yang yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.[21]
c)      Combs, beliau mengatakan bahwa aapbila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami duia persepsi orang itu. beliau juga melihat adanya dua bagian pada learning, ialah: 1) pemeroleham informasi baru; 2) “personalisasi” informasi ini pada indiividu. jadi dalam mengajar tugas yang penting adalah bagaimana caranya membawa si siswa untuk memperoleh “arti bagi pribadinya” dari subyek matter itu, dan bagaimana siswa menghubungkan subyek metter itu dengan kehidupannya.[22]
Dari uraian tentang teori-teori diatas, perlu difahami bahwa perbedaan yang terdapat pada berbagai teori belajar tersebut dikarenakan perbedaan jenis-jenis belajara yang diselidiki. belajar ada yang bertahab rendah dan ada yang bertahab tinggi, ada yang bersifat skill atau kecakapan, dan ada juga yang bersifat rasional. Jadi dalam hal ini, menilai suatu benar dan tidaknya suatu keberhasilan dari teori-teori tersebut, perlu memandang dari segi mana jenis-jenis belajar yang akan diteliti. dan yang terpenting adalah seorang pndidik atau peneliti mengambil manfaat dari masing-masing teori itu, dan menggunakannya dalam praktek sesuai dengan situasi dan materi yang akan dipelajari atau dikaji.
2.      Faktor-Faktor pada Hasil Belajar
Telah dikatakan, bahwa beelajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaruab dalam tingkah laku, atau skill. Berhasil atau tidaknya belajar itu tergantung kepada bemacam-macam faktor. faktor-faktor yang mempengaruhi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yakni sebagai berikut:
1)      Faktor internal 
Yaitu faktor yang berasal dari diri siswa terdiri  dari dua aspek; aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) misalnya kondisi fisik sakit- sakitan atau cacat pada fisik. Dan aspek psikologis (yang bersifat  rohaniah) misalnya; Intelgensi, bakat, minat, motivasi, dan cara belajar.[23]
2)      Faktor eksternal (yang berasal dari luar diri)
Faktor dari luar diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar antara lain kondisi lingkungan di sekitar siswa yang meliputi keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan sekitar. Keluarga adalah ayah, ibu, anak-anak dan famili yang menjadi penghuni rumah, factor ini sangat menentukan berhasilnya siswa dalam belajar. Sekolah turut mempengaruhi dimana kualitas guru, metode mengajarnya, keadaan ruang dan lain sebagainya kurang standar, maka akan menjadi kurang hasil belajar siswa tersebut. Masyarakat dan lingkungan ssekitar juga sangat menentukan hasil belajar pada anak, jika masyarakatnya terdiri dari dari orang-orang yang berpendidikan dan bermoral tinggi, serta suasana lingkungan dengan iklim yang sejuk, maka hal tersebut akan menunjang proses belajar.[24] .


untuk footnote memang penulis sembunyikan.
Silahkan di copy, jika bermanfaat, jangan lupa cantumkan sumber linknya. 
 
Posting Komentar