Kamis, 15 November 2012

Takbiratul Ihram


Takbiratul Ihram didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Bukhari,

إذا قمت إلى الصلاة فكبر


“Apabila kamu hendak berdiri melakjukan shalat, maka bertakbirlah”
Dinamakan takbiratul Ihram sebab orang yang mengerjakan shalat diharamkan melakukan sesuatu yang sebelumnya halal dilakukan. Contohnya, semua hal semisal makan, minum, dan lainnya adalah halal, namun ketika sudah takbiratul Ihram (shalat) semua itu diharamkan dilakukan dan bisa menjadi pembatal shalat.

Maksud dari takbir dilakukan pada awal shalat yang bersamaan dengan niat, mengandung pengertian agar orang yang mengerjakan shalat menghayati maknanya, yang menunjukkan keagungan Dzat yang kita siap mengabdi kepada-Nya, sehingga kita akan menyadari bahwa diri kita sangat lemah dan hanya Dia-lah Dzat yang Maha Besar, dengan begitu akan sempurnalah rasa takut dan kekhusuannya. Oleh karena itulah, dalam shalat takbir selalu diulang-ulang dalam setiap perpindahan rukun satu ke rukun yang lain.

Bacaan takbiratul Ihram adalah dengan lafadz (
الله أكبر/Allahu Akbar) sebagai bentuk ittiba’ kepada Nabi (للاتباع) atau boleh dengan (الله الاكبر/Allahul Akbar). Selain itu, tidak boleh dan tidak disebut takbir. Contohnya seperti ; (الله كبير /Allahu Kabir), (الله أعظم /Allah uA’dham), (الرحمن أكبر /Ar-rahmanu Akbar) atau yang lainnya, semua itu bukan takbiratul Ihram. Penambahan “Alif Lam/AL/” pada lafadz takbir () adalah tidak masalah, hal ini dijelaskan dalam kitab Mughniy Muhtaj :

ولا تضر زيادة لا تمنع الاسم ) أي اسم التكبير ( كالله الأكبر ) بزيادة اللام لأنه لفظ يدل على التكبير وعلى زيادة مبالغة في التعظيم وهو الإشعار بالتخصيص فصار كقوله الله أكبر من كل شيء إذ معنى الله أكبر أي من كل شيء
 
“Dan tidak akan merusak adanya penambahan juga tidak mencegah penamaannya yaitu tetap dinamakan takbir seperti lafadz (
الله الأكبر) dengan tambahan “lam” karena sesungguhnya lafadz tersebut tetap menunjukkan pada takbir dan atas penambahan yang berlebihan dalam hal pengagungan dan itu adalah sebuah isyarat dengan takhshish, maka jadilah seperti perkataan (الله أكبر من كل شيء), makna (الله أكبر) adalah (maha mesar) dari segela sesuatu”

Mengeraskan bacaan Takbir adalah wajib hingga bisa terdengar diri sendiri,

ويجب إسماعه) أي التكبير، (نفسه) إن كان صحيح السمع، ولا عارض من نحو لغط. (كسائر ركن قولي) من الفاتحة والتشهد والسلام. ويعتبر إسماع المندوب القولي لحصول السنة

“Wajib memperdengarkan takbir terhadap dirinya sendiri jika orang tersebut pendengarannya sehat, dan juga tidak ada yang menghalangi seumpama kegaduhan (suara), demikian juga (wajib mengeraskan) pada seluruh rukun-rukun yang bersifat qauliyah (ucapan), semisal Al-Fatihah, Tasyahud dan salam. (hendaknya dibaca keras sekiranya dapat didengar dirinya sendiri) pada bacaan yang dihukmi mandub (sunnah) sepaya bisa mendapatkan kesunnahan (shalat)” [Fathul Mu’in]
Disunnahkan mengangkat kedua telapak tangan pada saat takbiratul Ihram atau salah satunya, jika memang sulit untuk mengangkat keduanya atau ada sebab lainnya dan harus dalam keadaan terbukan – jika tertutup hokumnya makruh-, jari-jari renggang antara satu dengan yang lainnya, tingginya sejajar dengan dua pundak (منكبيه).


Prakteknya sebagai berikut, dijelaskan dalam kitab Fathul Mu’in,
بحيث يحاذي أطراف أصابعه على أذنيه، وإبهاماه شحمتي أذنيه، وراحتاه منكبيه، للاتباع. وهذه الكيفية تسن

Ujung jari sejajar dengan ujung telinga, ibu jari sejajar dengan putik telinga, dan kedua tapak tangan sejajar dengan kedua pundak, karena Ittiba’ (mengikuti) Rasulullah. Cara seperti inilah yang disunnahkan”.

Dijelaskan dalam Kitab I’anah Thalibin tentang Ittaba’ yang dimaksud pada keterangan diatas, sebagai berikut ;

قوله: للاتباع) دليل لسنية الرفع حذو منكبيه، وهو ما رواه ابن عمر: أنه كان يرفع يديه حذو منكبيه إذا افتتح الصلاة


“(Dan mengenai perkataan “lilittaba’”) dalil untuk kesunnahan mengangkat tangan sejajar pundak, adalah sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar ; bahwa sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alayhi wa sallam mengangkat tangan sejajar dengan pundak ketika memulai shalat”
Disunnahkan juga meletakkan kedua tangan dibawah dada dan diatas pusat, sebagai bentuk Ittiba’ kepada Nabi, serta pergelangan kiri dipegang oleh tangan kanan. Berikut redaksinya,

ووضعهما تحت صدره) وفوق سرته، للاتباع. (آخذا بيمينه) كوع (يساره) وردهما


Mengenai “Lil-ittiba’/karena mengikuti (Rasul)” diatas, dijabarkan dalam I’anah Thalibin sebagai berikut ;

قوله: للاتباع) وهو ما رواه ابن خزيمة في صحيحه، عن وائل بن حجر، أنه قال: صليت مع النبي فوضع يده اليمنى على يده اليسرى تحت صدره

“Mengenai (
للاتباع) adalah sebagaimana diriwayatkan Ibnu Khuzaimah didalam kitab Shahihnya, dari Wail bin Hajar mengatakan, “aku shalat bersama Nabi, kemudian meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dan dibawah dada”.

Didalam Nihayatuz Zain, karangan Al-Imam An-Nawawi Ats-Tsaniy, juga dijelaskan hal yang sama ;
ووضعهما) أي الكفين (تحت صدره آخذاً بـيمينه يساره) أي قابضاً كوع يساره بكفه اليمنى ويجعلهما تحت صدره وفوق سرته مائلتين إلى جهة يساره قليلاً، لخبر مسلم عن وائل: «أنه رفع يديه حين دخل في الصلاة ثم وضع يده اليمنى على اليسرى


Terjemahan bebas : “(disunnahkan) meletakkan kedua tangan dibawah dadanya, tangan kanan memegang tangan kiri yaitu pergelangan tangan kiri dipegang dengan telapak tangan kanan dan diletakkan dibawah dada serta diatas pusat agak condong (geser) kearah (sebelah) kiri sedikit, berdasarkan hadits Imam Muslim dari Wail ; sesungguhnya Nabi memasuki shalat mengangkat tangannya kemudian meletakkan tangan kanannya diatas tangan kiri”
Didalam Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzab karangan Al-Imam Hujjatul Islam An-Nawawi, 4/114, didalam kitab tersebut dijelaskan ;
واستحباب وضع اليمنى على اليسرى بعد تكبيرة الإحرام ويجعلهما تحت صدره فوق سرته هذا مذهبنا المشهور وبه قال الجمهور وقال أبو حنيفة وسفيان الثوري واسحاق بن راهويه وأبو إسحاق المروزي من أصحابنا يجعلهما تحت سرته وعن علي بن أبي طالب رضي الله عنه روايتان كالمذهبين وعن احمد روايتان كالمذهبين ورواية ثالثة أنه مخير بينهما ولا ترجيح وبهذا قال الأوزاعي وبن المنذر
وعن مالك رحمه الله روايتان أحداهما يضعهما تحت صدره والثانية يرسلهما ولا يضع إحداهما على الأخرى وهذه رواية جمهور أصحابه وهي الأشهر عندهم وهي مذهب الليث بن سعد وعن مالك رحمه الله أيضا

Terjemahan bebas, “Disunnahkan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri setelah takbiratul Ihram dan meletakkan keduanya dibawah dada dan diatas pusat, inilah yang Masyhur dari Madzhab kami (madzhab Syafi’iyyah), dan demikian juga Jumhur ulama dan Imam Abu Hanifah, dan Imam Sufyan Ats-Tsauriy, Imam Ishaq bin Rohawaih, Imam Abu Ishaq Al-Marwazi dari kalangan ashab kami (ulama syafi’iiyah) meletakkan keduanya (tangan kanan dan kiri) dibawah pusat, dan dari Ali bin Abi Thalib ada dua riwayat sebagaimana dua pendapat, dan Imam Ahmad ada dua riwayat/pendapat, dan ada riwayat ketiga yang memilih diantara dua keduanya dan tidak melakukan tarjih dan dalam hal ini berkata Imam Auza’iy dan Ibnu Mundzir , dan dari Imam Malik ada dua riwayat/pendapat salah satunya meletakkan keduanya (tangan kiri dan kanan) dibawah dada, dan yang kedua yaitu melepaskan (kebawah) dan tidak meletakkan pada salah satunya, inilah riwayat/pendapat jumhur ulama dalam madzhabnya dan yang masyhur dalam madzhab mereka yaitu madzhab Laits bin Said dan juga dari Imam Malik rahimahullah”
Didalam al-Lubab Fil Fiqh asy-Syafi’I, al-Imam al-Qadhi Abu al-Hasan al-Mahamili,
رفع اليدين عند الإحرام مع التكبير حذو المنكبين، وأن يمدهما عند الرفع مدّا، وأن ينشر أصابعهما نشرا وأن يضع يده اليمنى على اليسرى، وأن يجعلهما تحت صدره

“..dan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, serta menaruhnya dibawah dadanya”
Didalam Kifayatul Akhyar (1/113),
يستحب أن يضع كفه اليمين على اليسرى ويقبض بكف اليمنى كوع اليسرى ثبت ذلك عن فعله صلى الله عليه وسلم

“dan disunnahkan untuk meletakkan telapak tangan kanan diatas tangan kiri, dan telapak tangan kanan menggenggam pergelangan tangan kiri, penetapan yang demikian berdasarkan pada perbuatan Rasulullah”
Demikian mengenai meletakkan tangan setelah takbiratul Ihram, jika terjadi perbedaan masalah ini hanya masalah khilafiyah diantara ulama dan pendapat apapun yang dipegang kita harus menghormati selama berpegang pendapat yang benar. Wallahu A'lam.

Posting Komentar