Minggu, 01 April 2012

STATUS KHALIQ DAN STATUS MAKHLUQ



STATUS KHALIQ

Perbedaan antara status Khaliq dan makhluq adalah garis pemisah antara kufur dan iman.
Kami meyakini bahwa orang mencampur-adukkan kedua status ini berarti dia telah kafir.
Wal ‘iyadz billah.

Masing-masing dari kedua status di atas memiliki hak-hak spesifik. Namun, dalam
masalah ini masih ada hal-hal, khususnya yang berkaitan dengan Nabi dan sifat-sifat
eksklusif beliau yang membedakan dengan manusia biasa dan membuat beliau lebih
tinggi dari mereka. Hal-hal seperti ini kadang tidak dimengerti oleh sebagian orang yang
memiliki keterbatasan akal, pemikiran, pandangan dan pemahaman. Kelompok ini mudah
terburu-buru memvonis kafir terhadap mereka yang mengapresiasi hal-hal tersebut dan
mengeluarkan mereka dari agama Islam karena menurut kelompok ini menetapkan sifatsifat
khusus untuk Nabi SAW adalah mencampuradukkan antara status Khaliq dan
makhluq serta mengangkat status Nabi dalam status ketuhanan. Kami sungguh memohon
ampun kepada Allah dari tindakan mencampur-adukkan seperti ini.
Berkat karunia Allah kami mengetahui apa yang wajib bagi Allah dan Rasul serta
mengetahui apa yang murni hak Allah dan yang murni hak rasul secara proporsional
tidak melampaui batas sampai memberi beliau sifat-sifat khusus ketuhanan yaitu menolak
dan memberi, memberi manfaat dan bahaya secara independen (di luar kehendak Allah),
kekuasaan yang sempurna dan komprehensif, menciptakan, memiliki, mengatur, satusatunya
yang memiliki kesempurnaan, keagungan dan kesucian dan satu-satunya yang
berhak untuk dijadikan obyek beribadah dengan beragam bentuk, cara dan tingkatannya.
Seandainya yang dianggap melampaui batas adalah berlebihan dalam mencintai, taat dan
keterikatan dengan beliau maka hal ini adalah sikap yang terpuji dan dianjurkan
sebagaimana dalam sebuah hadits :
“Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana kaum Nashrani mengkultuskan Isa ibn
Maryam”.
Maksud dari hadits tersebut berarti bahwa sanjungan, berlebih-lebihan dan memuji beliau
di bawah batas di atas adalah tindakan terpuji. Seandainya maksud hadits tidak seperti ini
berarti yang dimaksud adalah larangan untuk memberikan sanjungan dan memuji secara
mutlak. Pandangan ini jelas tidak akan diucapkan oleh orang Islam paling bodoh
sekalipun. Wajib bagi kita memuliakan orang yang dimuliakan Allah dan diperintahkan
untuk memuliakannya. Betul, memang kita wajib untuk tidak mensifati Nabi SAW
dengan sifat-sifat ketuhanan apapun. Imam Al-Bushiri RA berkata :
Jauhilah klaim Nashrani akan Nabi mereka
Berilah beliau pujian sesukamu dengan bahasa yang baik
Memuliakan Nabi SAW tidak dengan sifat-sifat ketuhanan sama sekali bukan
dikategorikan kufur atau kemusyrikan. Malah diklasifikasikan sebagai salah satu ketaatan
dan ibadah yang besar. Demikian pula setiap orang yang dimuliakan Allah seperti para
Nabi, rasul, malaikat, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Allah berfirman yang
Artinya : “Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar
Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”(Q.S. Al-Hajj : 32). Kemudian
firman Allah : “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa
yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.”
(Q.S. Al-Hajj : 30)
Diantara obyek yang wajib dimuliakan adalah Ka’bah, Hajar Aswad dan Maqam
Ibrahim. Ketiga benda ini adalah batu namun Allah memerintahkan kita untuk
memuliakannya dengan thawaf pada Ka’bah, mengusap Rukun Yamani, mencium Hajar
Aswad, sholat di belakang Maqam Ibrahim, dan wukuf untuk berdoa di dekat Mustajar,
pintu Ka’bah dan Multazam. Tindakan kita terhadap benda-benda yang disebutkan tadi
bukan berarti beribadah kepada selain Allah dan meyakini pengaruh, manfaat, dan
bahaya berasal dari selain-Nya. Semua hal ini tidak akan terjadi dari siapapun kecuali
Allah SWT.



STATUS MAKHLUQ
Kami meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang bisa mengalami apa yang
dialami manusia umumnya seperti sifat-sifat yang temporal dan penyakit-penyakit yang
tidak mengurangi kedudukan beliau dan tidak membuat beliau dijauhi. Sebagaimana
dikatakan oleh penyusun ‘Aqidatul ‘Awam :
Para rasul boleh mengalami sifat-sifat yang temporer
Yang tidak mengurangi kedudukan mereka seperti sakit ringan.
Rasulullah juga adalah seorang hamba yang tidak memiliki kemampuan memberi
manfaat, bahaya, mati, hidup membangkitkan kepada dirinya sendiri kecuali apa yang
telah dikehendaki Allah. Firman Allah yang Artinya : Katakanlah: "Aku tidak berkuasa
menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang
dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat
kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain
hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang
beriman".(Q.S. Al-A`raaf :188)
Beliau juga telah mengemban risalah, menyampaikan amanah, menyadarkan ummat,
membuang kesedihan dan berjihad fii sabilillah sampai ajal menjemputnya. Beliau
berpulang ke sisi Allah dalam kondisi ridho dan mendapat keridhoan, seperti
digambarkan dalam firman Allah yang Artinya : “Sesungguhnya kamu akan mati dan
Sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (Q.S. Az-Zumar : 30). Dalam ayat lain : “Kami
tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad);
maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (Q.S. Al-Anbiyaa` : 34)
Kehambaan adalah sifat beliau yang paling mulia. Karena itu beliau membanggakannya
dan berkata : “Saya hanyalah seorang hamba”. Allah menyifati beliau dengan
kehambaan dalam kedudukan tertinggi : “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha yang telah Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Q.S.Al-
Israa : 1). Kemudian firman Allah yang lain : "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah
(Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu
desak mendesak mengerumuninya." (Q.S. Al.-Jinn : 19)
Kemanusiaan adalah letak sesungguhnya kemu’jizatan Rasulullah. Beliau adalah manusia
dari jenis manusia namun berbeda dengan manusia biasa. Beliau memiliki perbedaan
yang tidak mungkin dikejar atau disamakan dengan manusia biasa. Sebagaimana
penilaian beliau tentang dirinya :
“Saya tidak sama dengan kalian. Sesungguhnya saya bermalam di sisi Allah diberi
kekuatan sebagaimana orang yang makan dan minum”.
Berdasarkan paparan di atas maka jelaslah bahwa status kemanusian beliau wajib disertai
dengan sifat-sifat yang membedakannya dengan manusia umumnya yaitu menyebut
keistimewaan-keistimewaan beliau yang eksklusif dan sifat-sifat beliau yang terpuji.
Perlakuan ini bukan hanya diberikan khusus untuk Nabi Muhammad SAW namun juga
berlaku untuk rasul-rasul yang lain agar penilaian kita kepada mereka proporsional.
Karena penilaian kepada para rasul semata-mata dipandang dari sisi kemanusiaan saja
tanpa penilaian lain adalah pandangan jahiliyah yang musyrik. Dalam Al-Qur’an terdapat
banyak dalil mengenai masalah ini. Diantaranya adalah :
- Ucapan kaum Nuh terhadap Nabi Nuh dalam kisah yang diceritakan Allah tentang
mereka, yang Artinya : “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari
kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa)
seperti Kami, dan Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan
orang-orang yang hina dina di antara Kami yang lekas percaya saja, dan Kami tidak
melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas Kami, bahkan Kami yakin
bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".( Q.S. Hud : 27).
- Ucapan kaum Nabi Musa dan Nabi Harun terhadap mereka berdua dalam kisah yang
diceritakan Allah tentang mereka, yang artinya : “Dan mereka berkata: Apakah
(patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum
mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?"
(Q.S. Al-Mu’minuun : 47 )
- Ucapan kaum Tsamud kepada Nabi mereka Shalih dalam peristiwa yang diceritakan
Allah tentang mereka yang artinya, : “Kamu tidak lain melainkan seorang manusia
seperti kami; Maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang Termasuk
orang-orang yang benar". (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 154).
- Ucapan Penduduk Aikah kepada Nabi mereka Syu’aib dalam kisah yang diceritakan
Allah tentang mereka yang artinya : “Mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah
salah seorang dari orang-orang yang kena sihir. Dan kamu tidak lain melainkan
seorang manusia seperti Kami, dan Sesungguhnya Kami yakin bahwa kamu benarbenar
Termasuk orang-orang yang berdusta”. (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 186).
- Ucapan kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad SAW yang memandang beliau
semata-mata sebagai manusia dalam kisah yang diceritakan Allah tentang mereka :
”Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasarpasar?
mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu
memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? (Q.S. Al-Furqaan : 7)
Nabi telah menginformasikan status dirinya dengan benar akan sifat-sifat luhur dan halhal
yang melampauai kebiasaan yang membuatnya berbeda dengan manusia lain.
Sabda beliau dalam sebuah hadits shahih :

“Kedua mataku terpejam namun hatiku tetap terjaga”.
“Saya mampu melihat kalian dari belakangku sebagaimana melihatmu dari depan”.
“Saya dianugerahi pintu-pintu gudang dunia”.
Meskipun telah wafat, Rasulullah tetap hidup dalam bentuk kehidupan barzakh yang
sempurna. Beliau mampu mendengar perkataan, membalas salam dan shalawat orang
yang bershalawat sampai kepada beliau. Amal perbuatan ummat disampaikan kepada
beliau hingga beliau berbahagia atas perbuatan orang-orang yang baik dan beristighfar
terhadap orang-orang yang melakukan dosa. Allah juga mengharamkan bumi untuk
memakan jasadnya. Jasad Nabi terlindungi dari hal-hal yang bersifat merusak dan dari
apapun yang berada dalam tanah.
Dari Aus ibn Aus R.A , ia berkata , “Rasulullah SAW bersabda :
“Salah satu hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at ; di hari itu Adam
diciptakan dan wafat, Israfil meniup sangkakala dan matinya seluruh makhluk. Maka
perbanyaklah bershalawat untukku pada hari Jum’at. Karena shalawat kalian
disampaikan kepadaku”. Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami sampai kepadamu
padahal tubuhmu telah hancur?” tanya para sahabat. “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa
Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” Jawab Rasulullah. ( HR.
Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ibn Hibban dalam kitab shahihnya serta Al-Hakim
yang menilai hadits ini shahih ).
Menyangkut keutuhan jasad para Nabi , Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi menyusun
sebuah risalah khusus menyangkut hal tersebut yang berjudul ‘Inbaa’ul Adzkiyaa’ bi
Hayaatil Anbiyaa’.
Dari ibnu Mas’ud Rasulullah SAW bersabda :
“Hidupku lebih baik buat kalian. Kalian berbicara dan saya berbicara kepada kalian.
Dan jika saya meninggal dunia maka kewafatanku lebih baik buat kalian. Amal
perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku melihat amal baik aku memuji Allah
dan jika aku melihat amal buruk aku beristighfar buat kalian”.
Al-Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dan para perawinya
sesuai dengan standar perawi hadits shahih.
Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW, beliau berkata :
“Tidak ada seorangpun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan
nyawaku hingga aku membalas salamnya”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Sebagian
ulama menafsirkannya dengan mengembalikan kemampuan berbicara beliau.
Dari ‘Ammar ibn Yaasir, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang diberi Allah nama semua
makhluk pada kuburanku. Maka tidak ada seorang pun hingga hari kiamat yang
menyampaikan shalawat untukku kecuali malaikat itu menyampaikan kepadaku namanya
dan nama ayahnya ; ini adalah si fulan anak si fulan yang telah menyampaikan shalawat
untukmu”. HR. Al-Bazzaar dan Abu al-Syaikh ibn Hibban yang redaksinya : Rasulullah
SAW bersabda :
“Sesungguhnya ada malaikat Allah yang telah diberi semua nama makhluk oleh Allah. Ia
berdiri di atas kuburanku jika aku meninggal. Maka tidak ada seorang pun yang
menyampaikan shalawat kepadaku kecuali si malaikat berkata, “Wahai Muhammad!
fulan bin fulan telah menyampaikan shalawat untukmu”. Rasulullah berkata, “Rabb
Tabaraka wa Ta’ala merahmatinya. Untuk satu shalawat dibalas 10 rahmat”. Dalam Al-
Kabiir At-Thabaraani meriwayatkan hadits seperti ini.
Meskipun Rasulullah SAW telah wafat namun keutamaan, kedudukan dan derajatnya di
sisi Allah tetap abadi. Mereka yang beriman tidak akan ragu akan fakta ini. Karena itu,
bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW pada dasarnya kembali kepada keyakinan
keberadaan hal-hal di muka dan meyakini beliau dicintai dan dimuliakan Allah serta
keimanan kepada beliau dan kepada risalahnya. Dan tawassul bukanlah berarti beribadah
kepada Nabi SAW. Karena beliau betapapun tinggi derajat dan kedudukannya tetaplah
seorang makhluk yang tidak mampu menolak bahaya dan memberi manfaat tanpa izin
Allah. Allah SWT berfirman yang Artinya, : “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini
manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan
kamu itu adalah Tuhan yang Esa". (Q.S. Al-Kahfi : 110)

Oleh :
Imam Ahlussunnah Wal Jamaah Abad 21
Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani
Posting Komentar