Jumat, 16 September 2011

ISTRI SHOLIHAH

Dikisahkan bahwa Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah, Seorang istri Ahmad
bin Abu Al huwari, suatu hari memasak makanan yang enak. Masakan itu di
beri campuran aroma yang harum. Suami Rabi’ah juga mempunyai istri yang
lain. Setelah masak dan menyantap makanan itu, Rabi’ah berkata pada
suaminya:”pergilah kamu keistri yang lain dengan tenaga yang baru”.
Rabi’ah yang satu ini memang mirip dengan rabi’ah Adawiyah yang
berdomisili di bashrah. Rabi’ah Asy Syamsiah ini setelah menunaikan shalat
‘isya ia berdandan lengkap dengan busananya. Setelah itu baru mendekati
tempat tidur suaminya. Ia tawarkan pada suaminya, ”Apakah malam ini kamu
membutuhkan kehadiranku atau tidak”. Jika suaminya sedang berhasrat
untuk menggaulinya, maka ia melayaninya hingga puas. kalau malam itu
suaminya sedang tidak berminat menggaulinya, maka ia menukar pakaian
yang ia kenakan tadi dan berganti dengan pakaian lain yang di gunakan untuk
beribadah. malam itu ia tenggelam di tempat shalatnya hingga subuh.
Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah bersuamikan Ahmad bin Abu huwar itu
memang dikehendaki Rabi’ah sendiri. Ia pula yang pertama-tama melamar
syeikh Ahmad supaya berkenan memperistri dirinya.
Ceritanya demikian, Rabi’ah binti Ismail itu semula mempunyai suami yang
kaya. Setelah kematiannyaIa memperoleh harta waris yang sangat besar. Ia
kesulitan menafkahkan harta itu, Mengingat ia seorang perempuan yang
terbata gerakannya. maka ia bermaksud melamar syeikh Ahmad, dengan
tujuan agar dapat menasarufkan (menghibahkan) hartanya demi kepentingan
islam dan di berikan kepada orang orang yang membutuhkan. yang
deemikian itu karena Rabi’ah binti Ismail memandang syeikh Ahmad sebagai
orang yang dapat menjalankan amanat, sedang Rabi’ah sendiri seorang yang
adil.
Ketika mendapat lamaran dari Rabi’ah syeikh Ahmad berkat :”Demi Allah,
sesungguhnya aku tidak berminat lagi untuk menikah. Sebab aku ingin
berkonsentrasi untuk beribadah”.
Rabi’ah menjawab :”Syeikh Ahmad, sesungguhnnya kosentrasiku dalam
beribadah adalah lebih tinggi dari pada kamu. Aku sendiri sudah memutuskan
untuk tidak menikah lagi. tetapi tujuanku menikah kali ini tidak lain adalah
agar dapat menasarufkan harta kekayaan yang kumiliki kepada saudarasaudara
yang muslim, Dan untuk kepentingan islam sendiri. Akupun mengerti
bahwa engkau itu orang yang shalih, tapi justru dengan begitu aku akan
memperoleh keridhoan dari Allah S.W.T”.
Syeikh Ahmad berkata :”Baiklah, tapi aku minta waktu, Aku hendak meminta
izin dari Guruku”. Lalu syeikh Ahmad mengahadap gurunya, yakni Syeikh Abu
Sulaiman AD Darani. Sebab gurunya itu dulu pernah melarang dirinya untuk
menikah lagi. Katanya:”Setiap orang yang menikah, sedikit atau banyak pasti
akan terjadi perobahan atas dirinya”.
Tetapi setelah Abu Sulaiman mendapat penjelasan dari muridnya mengenai
rencana Rabi’ah, ia berkata:”kalau begitu Nikahilah Ia. Karena perempuan itu
seorang wali”.
Kisah kisah yang serupa seperti kisah Rabi’ah Adawiyah itu sesunggguhnya
cukup banyak. lazimnya terjadi pada masa lalu, tetapi untuk masa sekarang,
hampir tidak pernah di jumpai, adanya seorang wanita yang bertingkah baik
seperti mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda untuk menambah silaturahim.