Kamis, 05 September 2019

Gus Baha’ : Soal Bismillah, Syaikh Sudais Takut Sama Orang Surabaya

“Sedunia shalat itu sama. Paling wong NU nyoal, Sudais tidak membaca Bismillah, seperti itu. Paling debatnya kan debat kecil.. Perkoro opo? Bismillah! Nanti, paling Ketua KBIB (mengatakan), yo membaca, tapi tidak banter…” Ungkap Gus Baha
.
“Tapi saya (pernah shalat) di belakangnya (Sudais) pas, itu tidak dengar (dia baca Bismillah). Padahal menggunakan mik, hehehe..” tutur anggota Dewan Tafsir Nasional ini.
.
“Tapi nanti, (saat) Sudais diundang di Surabaya, (dia) baca Bismillah. Ya, Sudais yang terkenal itu. Di Masjid Akbar Surabaya, baca Bismillah. Ternyata dia, ya takut juga. (Saat) ditanya, “Limadza taqara’ Bismillahirrahmanirrahim?” (Kenapa Anda kok baca Bismillah…?). “Khaufan minal fitnah,” Weddhi fitnah (Takut fitnah), jawabnya. Takut juga dia sama orang Surabaya, hahaha.. (Di Surabaya) Sudais bisa baca Bismillah…” Ungkap Gus Baha’ disambut tawa jamaah.
.
Pada intinya menurut Gus Baha’ jika seseorang mengajinya lengkap dan tuntas maka tidak akan mudah menyalahkan orang lain. Sebab, ia tahu dasar dari apa yang dilakukan orang lain meskipun tidak sama dengan apa yang ia lakukan sendiri atau berbeda dengan kebiasaan umum.
.
Gus Baha’ mengambil contoh, satu riwayat seorang Ulama Tabi’in yang menasehati anaknya yang membaca basmalah dalam surat Al-Fatihah saat shalat. “Saya ini pernah shalat di belakangnya Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali; saya tidak mendengar (Fa Lam Asma’) satu di antara mereka yang membaca Bismillah,” kata Gus Baha
.
Namun demikian, lanjut Gus Baha’, Imam Syafi’i punya pendapat lain dengan merujuk kepada sabda Nabi. Dalam sabdanya, Nabi SAW menyatakan ketika malaikat Jibril mengajari Surat Fath, ia membaca basmalah. Maka untuk menghindari resiko, Imam Syafi’i membaca basmalah dalam Surat Al-Fatihah. Sementara pendapat Tabi’in di atas, menggunakan redaksi Fa Lam Asma‘ : “Saya tidak mendengar,” sehingga bisa jadi para Sahabat Nabi itu membaca basmalah, namun Tabi’in tadi tidak mendengarnya. Mengingat, kata “Tidak mendengar,” bisa saja karena ia berada di barisan belakang saat jadi makmum, karena gangguan pendengaran, riuhnya keadaan dsb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda untuk menambah silaturahim.