Kamis, 28 Maret 2013

Tawasuth, tawazun, i'tidal dan tasamuh dalam perspektif Aswaja

Ada tiga karakteristik utama dari ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau apa yang kita sebut sebagai Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.Pertama, at-tawasuth (sikap moderat, tidak ekstrem kiri maupun ekstrem kanan). Prinsip ini terutama didasarkan pada sebuah ayat dalam Al Qur'an,




وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا

Dan dengan demikian telah kami membuat Anda menjadi umat dari midding berdiri bahwa Anda mungkin menjadi saksi atas umat manusia, dan utusan mungkin (a) saksi atas Anda. (QS al-Baqarah: 143). Kedua, at- tawazun yang berarti tinggal seimbang dalam segala hal, termasuk dalam menggunakan rasional " dalil aqli "pembenaran dan agama" dalil naqli "pembenaran (berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah). Allah SWT mengatakan dalam Al-Qur'an:



لقد أرسلنا رسلنا بالبينات وأنزلنا معهم الكتاب والميزان ليقوم الناس بالقسط

Kami telah pasti mengirim utusan kami dengan tanda-tanda yang jelas, dan dikirim bersama mereka Kitab dan neraca, sehingga manusia dapat berdiri dengan keadilan. (QS al-Hadid: 25)Ketiga, al-i'tidal (pemeliharaan harmoni). Dalam Al Qur'an Allah SWT mengatakan:



يا أيها الذين آمنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون

Oh orang yang beriman, berdiri tegas bersaksi bagi Allah dengan keadilan dan janganlah enemity bangsa menyebabkan Anda untuk melakukan dalam keadilan. Melakukan keadilan yang perkiraan kepada takwa, dan takut Allah. Tidak diragukan lagi Allah adalah Khabir (Maha Mengetahui) dengan semua yang Anda lakukan. (QS al-Maidah: 8) Selain memegang tiga prinsip, para pengikut Ahlussunnah wal Jamaah juga mempraktekkan apa yang disebut sebagai tasamuh (toleran sikap).Hal ini juga berarti menghargai perbedaan mungkin dan menghormati mereka yang tidak memiliki prinsip yang sama dalam hidup. Namun demikian, bukan berarti mengakui atau mengoreksi keyakinan mereka yang berbeda sehubungan dengan apa yang mereka yakini Allah SWT mengatakan dalam Al-Qur'an:



فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى

Dan berbicara dengannya ringan, mungkin dia dapat menerima nasihat atau bertakwalah kepada Allah. (QS. Thaha: 44) Ayat ini berbicara tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Musa (AS) dan Nabi Harun (AS) untuk berbicara dengan Fir'aun ringan. Al Hafizh Ibnu Katsir (701-774 H / 1302-1373) sebagai menjelaskan ayat ini mengatakan, "Memang dakwa Nabi Musa (AS) dan Nabi Harun (AS) ke Fir'aun adalah dengan menggunakan berkah, lembut, mudah dan ramah Semua kata-kata ini dimaksudkan untuk diharapkan menjadi lebih hati-menyentuh, dapat diterima dan bermanfaat.. ". (. Tafsir al-Qur'anil 'Azhim, vol III halaman 206) Pada tingkat praktis seperti yang dijelaskan oleh KH Ahmad Shiddiq (NU gambar) bahwa prinsip-prinsip ini dapat diwujudkan dalam aspek sebagai berikut: (Silakan lihat Nahdliyyah Khittah, halaman 40 -44) 1. Akidah (keyakinan) a. Saldo dalam menggunakan penalaran atau rasional fakultas berbasis pembenaran (dalil aqli) dan teks agama berbasis pembenaran ( dalil naqli ). b. Memurnikan akidah dari pengaruh luar. c. Berhati-hati dalam menyatakan fatwa seperti syirik (politeisme, penyembahan berhala), bid'ah (sesat) dan kafir (kafir).2. Sukuk a. Memegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah dengan cermat menggunakan metode ilmiah yang dapat diandalkan. b. Fakultas rasional hanya dapat digunakan sehubungan dengan hal-hal tersebut tidak memiliki (sharih / qoth'i) penjelasan yang jelas dalam nash (teks-teks agama).c. Mampu menerima perbedaan pendapat dalam berurusan dengan hal-hal yang mungkin memiliki pembenaran ditafsirkan ( zhanni ). 3. Tasawuf a. Tidak melarang dan bahkan menyerukan upaya dalam mengeksplorasi dan berlatih ajaran Islam asalkan menggunakan pendekatan tersebut yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. b. Melarang sikap berlebihan ( ghuluw ) dalam mengevaluasi apapun. c. Memegang teguh sikap mulia seperti syaja'ah (memiliki keberanian),tawadlu (rendah hati) dan filantropis. 4. Interaksi sosial a. Mengakui sifat manusia yang cenderung untuk mengumpulkan dan bersosialisasi sesuai dengan unsur-unsur mereka sendiri mengikat. b.Mengembangkan toleransi dalam kelompok-kelompok sosial yang berbeda. c. Interaksi sosial harus didasarkan pada saling pengertian dan penghargaan. d. Mengambil sikap tegas terhadap mereka yang benar-benar berperang melawan Islam. 5. Dalam kehidupan nasional a. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus dipertahankan karena merupakan konsensus dari semua elemen bangsa. b. Selalu menaati dan mematuhi aturan pemerintah asalkan mereka tidak bertentangan dengan ajaran Islam. c. Tidak terlibat dalam pemberontakan apapun atau melakukan kudeta terhadap pemerintah yang sah. d. Memberikan peringatan ringan kepada pemerintah karena dianggap memiliki penyimpangan berkomitmen.  6. Budaya a. Budaya harus diposisikan sebagai proporsional mungkin dan dievaluasi dan diukur sesuai dengan norma dan hukum agama.b. Budaya yang baik dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama yang diterima di mana pun mereka berasal. Jika tidak, setiap budaya yang buruk harus ditinggalkan. c. Mampu menerima budaya yang baik baru dan melestarikan budaya lama yang masih relevan ( al-alal muhafazhatu 'qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah ). 7. Dakwa (khotbah) a. Dakwa tidak dimaksudkan untuk kalimat atau menyatakan satu sebagai bersalah. Melainkan bertujuan untuk memanggil orang-orang untuk melakukan perbuatan baik diberkati oleh Tuhan. b. Dakwa dilakukan untuk memenuhi tujuan yang jelas dan tujuan. c. Dakwa dilakukan melalui bimbingan yang baik dan kata-kata yang jelas sesuai dengan kondisi lokal atau pemirsa yang ditargetkan.
sumber: disini
Posting Komentar