Jumat, 01 Juni 2012

TA'LIM MUTA'ALIM KITAB PARA PENCARI ILMU

             Kitab TA'LIM MUTA'ALIM, yang disusun dan di karang oleh Syekh Az-Zarnuji, merupaka kitab dan acuhan sekaligus bimbingan bagi seorang penuntut ilmu agar mendapatkan ilmu yang bermamfaat bagi dirinya pada khusussnya dan masyarakat pada umumnya.
Dalam kitab ini terdapat banyak sekali petunjuk – petunjuk bagi seorang penuntut ilmu, seperti halnya memilih guru dan teman yang akan di jadikan seorang guru dan teman untuk berdiskusi dan mencari solusi dalam permasalahan yang ada dalam masyarakat, cara memuliakan ilmu dan shohibul ilmi dan masih banyak hal – hal yang berhubungan tentang hak dan kewajiban penuntut ilmu.
 
Tentang Pengarang
 
Imam al-Zarnji Terlahir dengan nama Burhanuddin al-Zarnuji, sebagian menyebutkan bahwa namanya adalah Syeikh Ibrahim bin Isma'il Al Zarnuji. Jika dilihat dari nisbahnya, yaitu Az-Zarnuji, maka sebagian peneliti mengatakan bahwa ia berasal dari Zaradj, yakni suatu daerah yang kini dikenal dengan nama Afganistan. Adapula yang menyebutkan bahwa ia berasal dari daerah Ma Warâ’a al-Nahar (Transoxinia). Tidak diketahui secara pasti mengenai tanggal kelahiran meupun sejarah kehidupannya, namun ada dua pendapat yang menjelaskan tentang wafatnya, yakni Pertama, pendapat yang mengatakan beliau wafat pada tahun 591 H./1195 M. Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan bahwa Az-Zarnuji wafat pada tahun 840 H./1243 M.
Karya Az-Zarnuji yang berjudul Ta’allim al-Muta’allim ditulis dengan bahasa Arab. Kemampuannya berbahasa Arab tidak bisa dijadikan alasan bahwa beliau keturunan Arab. Beberapa referensi telah penulis telaah dan tidak ditemukan bahwa az-Zarnurji adalah bangsa Arab, namun bisa jadi hal itu benar, sebab pada masa penyebaran agama Islam banyak orang Arab yang menyebarkan agama Islam ke berbagai negeri, kemudian bermukim di tempat di mana ia menyebarkan agama Islam.
Az-Zarnuji menuntut ilmu di Bukhara dan Samarkan, yaitu ibu kota yang menjadi pusat keilmuan, pengajaran dan lain-lainnya. masjid-masjid di kedua kota tersebut dijadikan sebagai lembaga pendidikan dan diasuh oleh beberapa guru besar seperti Burhanuddin Ali bin Abi Bakr Al-Marginani (Th. 1197) pembesar ulama’ Hanafiyah pengarang kitab al Hidayah , Syamsuddin Abdil Wajdi Muhammad bin Muhammad bin Abdul Satar, selain itu banyak guru Az- Zarnuji yang pendapat-pendapat mereka banyak diangkat dalam karyanya Ta’allim al-Muta’allim.
Selain tiga orang di atas, Az-Zarnuji juga berguru kepada Ali Bin Abi Bakar Bin Abdul Jalil Al Farhani, Ruknul Islam Muhammad bin Abu Bakar yang dikenal dengan nama Khawahir Zada, seorang mufti Bukhara yang ahli dalam bidang fiqih, sastra dan syair, Hammad Bin Ibrahim ahli fiqih, sastra dan ilmu kalam, Fakhuruddin Al-Kasyani, Rukhnuddin al-Farhami ahli fiqih, sastra dan syair. Ia juga belajar kepada Al-Imam Sadiduddin Asy-Syirazi.
Dari karya beliau Kitab Ta’lim Muta’alim ini, dapat di ketahui bahwa beliau adalah sosok yang yang ‘Alim Fiqh yang bermadzham Hanafi dan fanatik terhadap Madzhabnya, terbukti beliau sering menyebutkan pendapat dari para ulama’ hanafiyah, bahkan beliau dalam mencontohkan kitab yang harus di pelajari dalam tahapan belajar, beliau menyebutkan Kitab2 Hanafiyah.
 
ISI KITAB
 
Pada dasarnya ada beberapa konsep pendidikan Zarnuji yang banyak berpengaruh dan patut diindahkan, yakni :
1)     Motivasi dan penghargaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan ulama
2)     Konsep filter terhadap ilmu pengetahuan dan ulama
3)     Pendekatan-pendekatan teknis pendayagunaan potensi otak, baik dalam terapi alamiyah atau moral-psikologis.
Point-point ini semuanya disampaikan Zarnuji dalam konteks moral yang ketat. Maka, dalam banyak hal, ia tidak hanya berbicara tentang metode belajar, tetapi ia juga menguraikannya dalam bentuk-bentuk teknis. Namun walaupun demikan, bentuk-bentuk teknis pendidikan ala Zarnuji ketika dibawa ke dalam wilayah dengan basis budaya modern, terkesan canggung. Saat itulah, Ta’lim kemudian banyak dipandang secara “tidak adil” (baca: apriori), ditolak dan disudutkan. Tetapi menurut penulis, terlepas dari pro-kontra kelayakannya sebagai metodologi pendidikan, yang jelas Zarnuji dalam cermin besarnya telah memberikan sebuah nuansa tentang pendidikan ideal; sebuah pendidikan yang bermuara pada pembentukan moral.
Secara umum kitab ini berisikan tiga belas pasal yang singkat-singkat, yaitu;
1)     Pengertian Ilmu dan Keutamaannya
2)     Niat di kala belajar
3)     Memilih ilmu, guru dan teman serta ketahanan dalam belajar
4)     Menghormati ilmu dan ulama
5)     Ketekunan, kontiunitas dan cita-cita luhur
6)     Permulaan dan intensitas belajar serta tata tertibnya
7)     Tawakal kepada Allah
8)     Masa belajar
9)     Kasih sayang dan memberi nasehat
10)Mengambil pelajaran
11)Wara (menjaga diri dari yang haram dan syubhat) pada masa belajar
12)Penyebab hafal dan lupa, dan
13)Masalah rezeki dan umur.
Dari ke 13 bab pembahasan di atas, dapat kita lihat bahwa dari segi metode belajar yang dimuat Zarnuji dalam kitabnya itu meliputi dua kategori. Pertama, metode bersifat etik. Kedua, metode yang bersifat strategi. Metode yang bersifat etik antara lain mencakup niat dalam belajar; sedangkan metode yang bersifat teknik strategi meliputi cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman dan langkah-langkah dalam belajar. Apabila dianalisa maka akan kelihatan dengan jelas Zarnuji mengutakan metode yang bersifat etik, karena dalam pembahasannya beliau cenderung mengutamakan masalah-masalah yang bernuansa pesan moral.
 
1.     Pengertian Ilmu dan Keutamaannya
Pada bagian awal kitab ini, beliau menguraikan dengan jelas dan gambling bagalman keutamaan ilmu dan Shohibul Ilmi, sekaligus keutamaan Ahli Fiqih. Sebab setiap para penuntut ilmu harus tahu bagaimana tata cara sholat, zakat,, dan lain- lainnya, hal-hal itu merupakan cabang-cabang ilmu dari ilmu Fiqih yang wajib di cari dan di pelajarinya.
Bukan saja mempelajari ilmu Fiqih yang Fardhu Ain hukumnya, tetapi ilmu Tauhid sama saja hukumnya, yaitu Fardhu Ain, sebab berkaitan dengan tentang keyakinan dan aqidah yang dimilki oleh seorang muslim, agar keyakinan tidak luntur dan goyah seiring dengan perubahan zaman, apalagi jika kita pad saat sekarang ini banyak keyakinan dan aliran keagaman yang bermunculan bak bagaikan jamur yang bertaburan, yang mungkin akan menyerang dan merusak keyakinan dan aqidah kita semua selaku umat islam yang menyakini bahwa Allah adalah tuhan yang Esa da Nabi Muhamad adalah Rasul yang terakhir.
 
2.     Niat di kala belajar
Pada Fashl ini, syekh Az-zurnuju, menjelaskan secara gambelang tentang masalah niat. Karena niat merupakan pokok dan harus di milki oleh para penuntut ilmu. Beliau menjelaskan secara gambelang bagalman seorang penuntut ilmu berniat, karena denga niat yang sungguh-sungguh dalam melakuakan aktifitas belajar maka akan mendapatkan pahala baik di dunia dan di akhirat.
Syekh az-Zarnuji menjelaskan bahwa niat adalah azas segala perbuatan, maka dari itu adalah wajib berniat dalam belajar. Konsep niat dalam belajar ini mengacu kepada hadis Nabi saw yang artinya “Hanyasanya semua pekerjaan itu harus mempunya niat, dan hanyasanya setiap pekerjaan itu apa yang ia niatkan".(HR. Bukhari)
Dengan demikan amal yang berbentuk duniawi seperti makan, minum dan tidur bisa jadi amal ukhrawi dengan niat yang baik. Dan sebaliknya amal yang berbentuk ukhrawi seperti shalat, membaca zikir jadi amal duniawi dengan niat yang jelek seperti riya. Zarnuji berpendapat bahwa belajar adalah suatu pekerjaan, ia harus mempunya niat belajar.
Zarnuji menjelaskan bahwasanya dalam belajar hendaklah berniat untuk:
         Mencari ridha Allah ‘Azza wa Jalla
         Memperoleh kebahagiaan akhirat
         Berusaha memerangi kebodohan pada diri sendiri dan kaum yang bodoh
         Mengembangkan dan melestarikan Islam
         Mensukuri nikmat akal dan badan yang sehat.
 Sebagaimana kutipan Syekh Burhanudin yang artinya Sungguh merupakan kehancuran yang besar seorang alim yang tak peduli, dan lebih parah dari itu seorang bodoh yang beribadah tanpa aturan, keduanya merupakan fitnah yang besar di alam semesta bagi orang-orang yang menjadikan keduanya sebagai pedoman. Ini mengisyaratkan bahwa orang yang pandai tetapi kependaiannya hanya untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain itu tidak berarti, begitu juga orang bodoh beribadah ibadahnya bias batal atau ia akan mudah terjerumus ke aliran sesat.
Di samping itu Zarnuji menyebutkan agar penuntut ilmu yang telah bersusah payah belajar, agar tidak memanfaatkan ilmunya untuk urusan-urusanduniawi yang hina dan rendah nilainya. Untuk itu kata Zarnuji hendaklah seseorang itu selalu menghiasi dirinya dengan akhlak mulia. Jadi yang perlu dicamkan adalah bahwa dalam mencari ilmu harus dengan niat yang baik sebab dengan niat itu dapat menghantarkan pada pencapaian keberhasilan. Niat yang sungguh-sungguh dalam mencari ilmu adalah keridhaan Allah akan mendapatkan pahala. Tidak diperkenankan dalam mencari ilmu untuk mendapatkan harta banyak.
 
3.     Memilih ilmu, guru dan teman serta ketahanan dalam belajar
Syekh Az-zarnuji bukan saja menjelaskan tentang niat, akan tetapi beliau juga bagalmana kita mencari seorang guru yang akan di jadikan sebagai pembimbing, penuntun dan pentransper ilmu pengetahuan kepada kita, dan juga menjelaskan bagalmana kita mencari teman yang akan kita jadikan sebagai patner dalam mencari ilmu, sebab dengan berteman denga yang malas secara otomatis kita akan ikut menjadi malas pula, begitu juga sebaliknya. Sebagai mana syair mengatakan :
 
لا تصحب الكسلان فى حالاته # كم صالح بفساد اخر يفسد
Yang artinya.
"janganlah engkau bergauk denga seorang yang pemalas, banyak orang yang baik lantaran bergaul denga orang yang rusak tingkah lakunya, akhirnya ia menjadi rusak."
 
4.     Menghormati ilmu dan ulama
Beliau juga menjelaskan cara memuliakan ilmu dan cara memuliakan para guru dan Kiai selaku shohibul ilmi. Perlu kita ketahui, seorang yang mencari ilmu tidak nakan mendapatkan ilmu dan keutamaannya, terkecuali menghormati ilmu dan para guru dan Kiai, dan termasuk memulyakan ilmu adalah adalah menulis dengan tulisan yang baik dan jelas, agar kita tidak menyesal dan di caci maki oleh anak cucu kita.
 
Adab yang tidak boleh dilakukan terhadap guru:
  1. Tidak berjalan di depan guru.
  2. Tidak menduduki tempat yang di duduki seorang guru .
  3. Tidak mendahului bicara di hadapan guru kecuali dengan izinnya.
  4. Tidak bertanya dengan pertanyaan yang membosankan guru.
  5. Tidak mengganggu istirahat guru.
  6. Tidak menyakiti hati guru 
  7. Jangan duduk terlalu dekat dengan guru.
sumber: http://saifanshori.blogspot.com/






Posting Komentar