Rabu, 01 September 2010

filsafat tasawuf

FILSAFAT TASAWUF

Ringkasan Kata Pengantar
Prof. Dr. HM. Amin Syukur dan Dr. Abdul Muhayya, MA.

Sayyid Husain Nashr dalam suatu survei menyimpulkan, dalam beberapa dekade terahir sufisme mengalami kebangkitan di dunia muslim sejak Syiria, Iran, Turki, Pakistan sampai Asia Tenggara. Terdapat peningkatan signifikn, terutm dikalangan pendidik.
Di Indonesia sendiri juga muncul gejala tasawuf ke panggung keagamaan juga terlihat lebih jelas. Munculnya kursus-kursus tasawuf yang diselenggarakan semacam LSAF (lembaga studi agama dan filasafat) dan paramadina menarik minat cukup tinggi , terutama bagi kaum kota yang terdidik secara modern. Kehidupan ini juga meramba para penyair- penyair Sufistik, antara lain Cak Nun dan Gus Mus.
Kebangkitan tasawuf dan tharekat ini telah menimbulkan banyak pertanyaan dari kalangan pengkaji sosiologi agama dan modernisasi. Mengapa dalam situasi di mana kemjuan ilmu dan teghnologi kian marak, justru semakin banyak orang tertarik pada tasawuf ?. Naisbitt dan Aburdene dalam Megatrends 2000 agaknya menarik untuk dicatat. Menurut mereka, ilmu pengetahuan dan teghnologi yang melaju cepat di era modern sekarang ini tidak memberikan makna tentang kehidupan. dalam era modernisasi ini kecepatan informasi dan mobilisasi antara manusia di muka bumi ini mengkibatkan interaksi social budaya. Demikianlah, modernisasi dipandang gagal memberikan kehidupn yang lebih bermakna kepada manusia, karena itu tidak heran bila mereka kembali pada agama yang memang berfungsi antara lain untuk memberikan makna dan tujuan hidup. Modernism dan mderenrinasi ternyata gagal menyingkirkan agama dari kehidupan masyarakat. Naisbitt dan Aburdene berpendpat bahwa yang mengalami kebangkitan dalam masa abad agama ini adalah spiritualitas bukan agama-agama formal (organized religion). Seperti Yahudi, Nasrani, Islam adalah tidak memiliki masa depan.
Karena mereka berpandangan bahwa agama-agama itu mempersempit universalitas ajaran tuhan, menurutnya lagi bahwa optimisme dan ramalan penganut deisme (beriman kepada Tuhan) alami itu, setelah berjalan berates-ratus lamanya, ternyata tidak semuanya benar, untuk tidak mengtakan meleset sama sekali. Tetapi, sekarang fonemena itu terbalik. Seperti agama Yahudi semakin kuat di peluk oleh orang-orang Israel. Agama Kristen juga tetap di peluk orang barat walaupun trendnya drastis untuk kehadiran di gereja. Islam juga semakin menunjukkan revevalismenya walaupun hanya sebatas ukuran kualitas karena semakin bertambahnya bangsa-bangsa lain beralih memeluk yang asalnya non Muslim beralih ke Muslim. Menurut Azzumardi, perkembangan pasca masyarakat modern ini tidak memdahi lagi untuk dipenuhi dengan sekedar literalisme doktriner dengan ibadah-ibadah pokok, tetapi orang lebih memerlukan pengalaman keagaman lebih intens dalam proses pencarian makna. Dn jawaban ini hanya diberikan oleh sufisme, tidak oleh fundamentalisme yang kering karena sifat literalnya tadi. Lebih jauh lagi Fazlur Rahman mengtakan bahwa fundamentalisme pasca modernis elan dasarnya anti barat.
Kasus Indonesia
Secara kronologis, krisis yang melanda bangsa kita ini bermula dari krisis keimanan, yang kemudian menyebabkan krisis moralitas, dan diikuti social budaya. Berbagai kerusuhan, pelanggaran HAM, kesimpangan sosial, kebocoran uang Negara, monopoli dan lain-lainnya yang terjadi di Indonesia itu sendiri karena lupa kepada allah SWT. Dalam hal ini cara kebergamaan bangsa Indonesian lebih cenderung pada formalitas dan cenderung melupakan makna serta esensi dari ajaran agama. Karena itulah mungk dengan terbitnya buku Tasawuf dan Krisis ini dapat member manfaat dan dan tetesan air sejuk di musim panas.

BAGIAN PERTAMA
TASAWUF DAN KRISIS SPIRITUALITAS
ISLAM DAN MASYARAKAT MODERN
Prof. DR. Simuh
Masyarakat modern dewasa ini tumbuh dari pengembangan kebudayaan Yunani purba yang puncaknya ajaran filsafat rasional yang menyebar ke timur tengah lantaran pengembangan dan penaklukan raja Alexander yang agung. Kebudayaan Yunani Purba memang sangat unik, karena dai sinilah muncul pemikiran filsafat yang rasional dan ilmiah, maka dalam perkembangan filsafat dan kebudayaan yunani purba ini dinamakan zaman klasik atau zaman embrio dari masyarakat modern dewasa ini. Yang mana memunculkan pemikiran-pemikiran yang rasional ilmiah.
Kami mencoba mengambil arti kutipan S. Takdir Ali Syahbana, mengenai perbedaan yng fundamental antara filsafat rasional dari barat dan filsafat kebatinan dari timur ( India, Persia, Cina, Kejawen, Tasawuf dan sebagainya). Pokok perbedaan itu antara lain :
1. Barat memandang manusia bukan alam dan berbeda dengan alam. Menurut timur manusia itu sebagai mikrokosmos (jagat cilik).
2. Budaya barat mengakui adanya hukum alam yang mekanistik yang perlu dikaji dan dimanfaatkan bagi pengembangan cara berfikir dan ilmu pengetahuan. Dan sebaliknya dalam filsafat kebatinan dan mistik timur tidak memperdulikan adanya hukum alam.
3. Filsafat barat menggerakkan manusia untuk mengkaji rahasia-rahasia hukum alam untuk memanfaatkan bagi kemajuan hidup manusia. Sedangkan filsafat timur menggerakkan kegandrungan manusia untuk menyingkap rahasia-rahasia alam ghaib yang di balik alam nyata ini.
Melihat kutipan diatas, bahwa yang punya pemikiran yang sejajar dan seirama dengan budaya barat adalah agama yahudi, Kristen dan islam. Terutama Islam Sunni (Islam Sar'i) bukannya Islam Sufi.
Ajaran tasawuf menurut kodratnya adalah ekstrim kerohanian dan anti kritik penalaran kerohanian. Akhirnya dalam pengembangannya mampu mendominasi alam pikiran islam sejak runtuhnya bagdad dan cordova.
PERAN TASAWUF
DALAM MENANGGULANGI KRISIS SPIRITUAL

Secara teologis, manusia adalah mahkluk allah, ia adalah ciptaannya yang ditunjuk sebagai hamba dan kholifahnya di muka bumi ini. Manusia diciptakan oleh allah daria tanah liat, allah berfirman:
  •         
7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
         
71. (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah".
Di samping jasad, manusia juga mempunyai ruh. Allah berfirman:
         
29. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Sejalan dengan al-quran, para filosof islam juga mengakui bahwa manusia itu tersusun dari element materi dan immateri.
Dalam pandangan al-hallaj, allah dan manusia masing-masing memiliki aspek lahut dan nasut. Nasut Allah berada dalam bentuk adam yang dimilikiNya, sedangkan lahut manusia berwujud ru yang berasal dariNya. Manakala lahut dan nasut bercampur itu dinamakan Hulul.
Mengingat ruh memiliki fungsi yang sangat dominan dalam diri manusia maka krisis spiritual bagi manusia menyebabkan terjadinya berbagai penyakit jiwa dapat menimbulkan berbagai kemadharatan baik bagi sendiri maupun orang lain. Demikian juga krisis spiritual akan juga akan menurunkan martabat manusia kejurang kehancuran yang mengancam peradapan dan eksistensi manusia
Problem spiritualitas bagi manusia modern merupaka suatu hal yang tidak mudah untuk di pecahkan begitu saja. Karena itu manusia modern telah kehilangan keyakinan-keyakinan metafisis dan eskatologis (ilmu tentang akhirat).
Jadi manusia modern keberadaanya tidak lebih dari keberadaan seperti mobil yang tersusun dari berbagai bagian dengan sebab akibat. Sehingga dengan dasar itu manusia modern selalu di hinggapi oleh rasa tidak aman dan kadang malah terasa terancam oleh kemajuan yang diperolehn ya sendiri.





TASAWUF SEBAGAI TERAPI KRISIS SPIRITUAL

Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan tasawuf, meskipun demikian mereka sepakat bahwa tasawuf adalah moralitas yang berdasarkan islam (adab).karena itu seorang sufi adalah mereka yang bermoral. Sebab semakin ia bermoral semakin bersih dan bening (shafa) jiwanya. Jadi hokum islam tanpa taswuf (moral) adalah ibarat badan tanpa nyawa atau wadah tanpa isi.
Moralitas yang di ajarkan oleh tasawuf akan mengangkat manusia ke tingkatan shafa al-tauhid. Pada tahab inilah manusia akan memiliki moralitas allah (al-Takhalluq bi akhlaq Allah), dengan itu maka terjadilah keselarasan dan keharmonisan antara kehendak manusia dan iradah-Nya.
Lebih lanjut tasawuf berfungsi sebagai terapi krisis spiritual. Sebab:
1. Tasawuf secara psikologis, merupakan pengalaman dari hasil spiritual dan bentuk dari pengetahuan langsung mengenai realitas-realitas ketuhanan yang cenderung menjadi innovator dalam agama.
2. Kehadiran tuhan dalam bentuk pengalaman mistik dapat menimbulkan keyakinan yang sangat kuat.
3. Dalam tasawuf, hubungan seorang dengan allah di jalin atas rasa kecintaan.
Dengan kata lain, moralitas yang menjadi inti dari ajaran tasawuf dapat mendorong manusia untuk memelihara dirinya dari menelantarkan kebutuhan-kebutuhan spiritualitasnya.

CARA MEMELIHARA JIWA YANG ADA DALAM DIRI MANUSIA

Tasawuf sebagai sebagai salah satu ilmu keislaman memberikan perhatian khusus pada aspek spiritual yang dimiliki manusia. Yang selanjutnya mengajarkan proses pembersihan, memperdayaan penyatuan dengan sumber kesempurnaan dan keindahan allah.
Maka proses pertama di sebut tahalli. Untuk mencapai tujuan ini mereka harus melalui maqomat-maqomat:
1. Taubat; secara etimologi berarti kembali, dalam tahapan ini seseorang dituntut kembali dari nyang baik menuju yang lebih baik (inti dari inabah) dan yang lebih baik menuju yang terbaik.
2. Wara’; menahan diri dari dari berbuat maksiat dan perkara yang subhat. Dengan tujuan menjaga kebersihan dan kesucian jiwa dari berbagai dosa yang dapat menyelimutinya (hijab).
3. Zuhud; (عدم الإهتمام) tidak adanya perhatian, bertujuan memalingkan jiwa dari hal-hal yang kekinian menuju hal-hal yang berorientasi besok dan abadi.
Proses kedua disebut tahalli, dalam tahapan ini seorang diharuskan memiliki sifat qona’ah, ridla, tawakal, taslim, tafwidh dan sebagainya.
Menurut al-hakim al-tirmizdi secara psikologis ada empat tingkatan batin yang ada dalam diri manusia, yaitu;
1. Shadr; tempat penyimpanan ilmu yang dapat menjadikan orang mampu dan mau mengerjakan aturan syari’ah
2. Qolb; yang ada didalam shadr, sumber dari cahaya keimanan.
3. Fu’ad; yang berada di dalam qolb merupakan sumber dari cahaya ma’rifat. Fu’ad ini berfungsi untuk mengetahui realitas.
4. Lubb; aspek spiritual yang ada di dalam fu’ad, merupakan simbul dari cahaya tauhid. Cahaya tauhid ini merupakan basis dari ketiga cahaya sebelumnya dan dialah yang menerima rahmat Allah.

Secara ringkas penjelasan al-hakim al-tirmidzi dapat disingkat dalam gambar sebagai berikut:
Tingkatan spiritual Shadr Qolb Fu’ad Lubb
Cahaya di peroleh Nur al-Islam belajar membaca Nur al-iman pemberian allah Nur al-ma’rifat pemberian allah Nur al-tauhid pemberian allah
Kualitas Dapat lupa Mengetahui realitas Melihat realitas Iluminasi tuhan
Predikat jiwa yang ada Muslim al-nafsu al-amarah Mu’min al-nafsu al-mulhimah ‘arif al-nafs allawwamah Muwahhid al-nafs al-muthmainah

Keempat tingkatan spiritualitas tersebut adalah cahaya ilahi yang memancar dalam tubuh manusia. Semuanya dapat berfungsi dengan baik manakala al-nafs al-amarah yang ada dalam diri manusia dapat di training dan diarahkan supaya menjadi al-nafs al-mutmainnah melalui berbagai maqomat dan mujahadah.

MASA DEPAN TASAWUF
Prof. DR. HM. Amin Syukur, MA.

a. Landasan Normatif Tasawuf
Islam adalah agama pertengahan jika di bandingkan dengan dua agama samawi pendahulunya. Agama yahudi lebih menekankan legalistic yang berorientasi kepada kemasyarakatan, sementara agama Kristen lebih menekankan aspek spiritualistic seperti pengalaman rohani sehingga agama itu terkesan lembut (kasih).
Islam sebagai system ajaran yang tawasuth serta lengkap dan utuh. Memberikan gambaran atau tempat penghayatan keagamaan baik yang eksoterik (dhohiri) maupun yang esoteric (bathini).

b. Neo-Sufisme
Ketika prof. Hamka menulis bukunya yang terkenal Tasawuf Modern, beliau sungguh-sungguh telah meletakkan dasar-dasar bagi neo-sufisme di tanah air kita. Dalam bukunya terdapat alur pikiran yan memberi apresiasi yang wajar kepada penghayatan esoteric islam, namun sekaligus disertakan peringatan bahwa esoterisme itu harus tetap terkendalikan oleh ajaran –ajaran standart syari’ah.
Tokoh-tokoh neo-sufisme sangat mementingkan hadis sebagai sumber inspirasi dalam upaya merekontruksi etis-sosial kaum Muslimin dengan catatan bahwa hadis tersebut benar-benar dari isnad yang dapat di percaya.
Tokoh-tokoh neo-sufisme, seperti al-Qushoshi guru dar abd rauf al-Sinkili dan muhamad yusuf al-Makassari-tidak menekankan pentingnya aktivisme intelektual, tetapi menekankan aktivisme dalam bentuk-bentuk yang lebih praktis.
Jadi, neo-sufisme sangat menekankan perlunya pelibatan diri dalam masyaraat secara lebih kuat dari pada sufisme lama.


BAGIAN KEDUA
ALTERNATIF METODOLOGIS
DALAM MENJAWAB PERSOALAN KRISIS SPIRITUAL
TAFSIR ISYARI
PROF. DR. NASHRUDDIN BAIDAN
I
Salah satu kenytaan empiric yang tak dapat di bantah berkenan dengan ayat-ayat suci alquran ialah kemungkinan untuk ditafsirkan dalam berbagai bentuk dan metode sesuai latar belakang keahlian mufassir dan tujuan yang hendak dicapainya. Berdasarkan inilah Dr. Darraz menyatakan bahwa ayat-ayat Al-Quran itu bagaikan batu pertama yang setiap sudutnya memantulkan cahaya, dan pantulannya pun tidak sama sesuai dengan kesanya masing-masing sisi, tergantung sudut pandang orang melihatnya, misalnya kaum teolog cenderung menfsirkan Al-Quran dari sudut pandang teologis, para Fuqoha dari sudut pandang fiqih. Ahli bahasa dari sudut pandang kaidah-kaidah bahasa, filosof dari pemikiran-pemikiran filosuf, kaum sufi dari ajaran-ajaran tasawuf, yang kemudian karya tafsir mreka terkenal dengan julukan TAFSIR ISYARI atau TAFSIR SUFI, begitu seterusnya.
II
Tafsir isyari adalah salah satu corak tafsir yang populer, sama halnya dengan corak falsafi, fiqhi, kalami, social kemasyarakatan, dan lain-lain. Jika demikian, maka tafsir isyari adalah satu sub bahasan atai kajian dari ilmu tafsir. Untuk lebih jelasnya lihat skema terlampir. Tafsir isyari ini adalah termasuk tafsir yang tertua karena ia telah terlahir sejak Nabi Muhammad saw.
Secara etimologi ISYARI berasal dari bahasa arab asyara-yusyiru isyaratan yang mempunyai arti isyarat atau petunjuk. Dengan demikian tafsir isyari berarti sebuah penafsiran Al-Quran yang berangkat dari isyarat atau petunjuk.
Ajaran tasawuf di bagi menjadi dua kategori, yaitu tasawuf nazhari yakni tasawuf yang mengembangkan pemikiran dan analisis rasional, dan tasawuf amali yaitu yang mengembangkan sikap hidup sederhana, zuhud dan memusatkan perhatian semata-mata untuk beribadah kepada Allah.



FIQIH DAN TASAWUF
WACANA DIALOGIS?
DR. AHMAD ROFIQ, MA

MUQODDIMAH

Ada perbedaan prinsipil antara fiqih dan tasawuf dalam tataran empiric perilaku masyarakat. Fiqih bercorak esoteric-formalistik, cenderung melihat sebuah tindakan dari syarat dan rukun. Karena itu masih bersifat hitam putih, sah dan tidak sah. Sedangkan tasawuf bercorak isoterik, yang lebih berorientasi pada kedalaman spiritualitas, dan mengutamakan pendekatan diri kepada allah.

RASULULLAH MUHAMMAD SAW ANTARA FIQIH DAN TASAWUF
Allah menegaskan bahwa muhammad adalah figur teladan (uswah hasanah) bagi hamba-hambaNya yang mengharap rahmatNya, kebahagiaan hari kiamat, dan banyak berdzikir kepadaNya. Memang ada spesifik pada diri Rasulullah. Selain sebagai pembawa syari’ah yang kemudian dicoba fahami para Sahabat diformulasiakan ke dalam fiqih. Kecen drungan sufistik Rasulullah saw telah dilakukan sebelum dia menerima wahyu kerasulan, sebagai pembawa risalah kenabian tentu beliau konsisten menjalankannya, baik dalam bentuk ibadah murni maupun sosial. secara harfiah Fiqih berarti memahami dalam (QS.al-Nisa”:78)
                       
78. di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?

Dalam QS. Al-Taubah: 122 allah menegaskan:
                        
122. tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Rasulullah saw meski telah dijamin segal-galanya oleh allah, namun beliau menghabiskan 2/3 malam harinya untuk taqorrub dan munajat kepada allah. Karenaitu tidak ada alasan yang cukup reasonable bagi siapapun yang ingin memisahkan diametral antara fiqih dan tasawuf.


SUBTANSI FIQIH: PENDEKATAN SUFISTIK
Banyak Al-Quran yang mengisyaratkan bahwa pelaksanaan ibadah – pengalaman fiqih – yang bersifat habl minallah baik dalam kontek kejiwaan maupun material, lebih ditempatkan sebagai simbolisme meski tetap wajib dilaksanakan. QS. Al-Hajj, 22:37 menegaskan bahwa: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.dalam QS. Al-Baqoroh, 2.177 “ bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.
Ayat di atas menunjukkan secara rinci bahwa substansi pelaksanaan ibadah yang terdiri dari iman, amal dan ikhsan adalah ketaqwaan kepada Allah SWT.
Dalam rumusan Iman. Islam dan ihksan, sebagaimana dalam sabda nabi saw,

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : بينما نحن جلوس عند رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب شديد سواد الشعر , لا يرى عليه أثر السفر , ولا يعرفه منا أحد حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم فأسند ركبته إلى ركبتيه ووضح كفيه على فخذيه , وقال : يا محمد أخبرني عن الإسلام , فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم " الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا " قال صدقت فعجبا له يسأله ويصدقه , قال : أخبرني عن الإيمان قال " أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره " قال : صدقت , قال : فأخبرني عن الإحسان , قال " أن تعبد الله كأنك تراه , فإن لم تكن تراه فإنه يراك " قال , فأخبرني عن الساعة , قال " ما المسئول بأعلم من السائل " قال فأخبرني عن اماراتها . قال " أن تلد الأمة ربتها وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان " . ثم انطلق فلبث مليا , ثم قال " يا عمر , أتدري من السائل ؟" , قلت : الله ورسوله أعلم , قال " فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم " رواه مسلم
“Dari Umar bin Al-Khathab radhiallahu 'anh, dia berkata: ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata," Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam " Rasulullah menjawab,"Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya." Orang itu berkata,"Engkau benar," kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya Orang itu berkata lagi," Beritahukan kepadaku tentang Iman" Rasulullah menjawab,"Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk" Orang tadi berkata," Engkau benar" Orang itu berkata lagi," Beritahukan kepadaku tentang Ihsan" Rasulullah menjawab,"Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu." Orang itu berkata lagi,"Beritahukan kepadaku tentang kiamat" Rasulullah menjawab," Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya." selanjutnya orang itu berkata lagi,"beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya" Rasulullah menjawab," Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan." Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?" Saya menjawab," Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui" Rasulullah berkata," Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu"
Al-Gozali (w.1111 M) adalah sosok fiqih yang sufi, sekaligus fillosuf dan ahli kalam. Karya monumentalnya Ikhya’ Ulumuddin adalah cermin dari al-Ghizali melakukan substansiasin fiqih dengan tasawuf. Diantaranya ia mengatakan, “ilmu bagi saya lebih mudah dari pada mengamalkan
Dengan memperhatikan uraian di atas dapat difahami bahwa fiqih saja tanpa di isi dengan tasawuf maka hasil yang akan di peroleh adalah kulinya saj, atau bisa dikataka basa basi seorang hamba dengan sang khaliqnya.

KHOTIMAH

Kita telah cukup mendapatkan pelajaran berharga, pengalaman fiqih saja akan menghasilkan manusia-manusian formalistic, namun kering dalam bahasa nuansa etika, sehingga melahirkan sebuah masyarakat yang cenderung mengalami keterpecahan integritas moralnya.

IBNU TAIMIYYAH DAN PEMBARUAN TASAWUF
H. MASHARUDDIN
A. Pendahuluan

Ketika islam memasuki periode perkembangan dan memaafkan kebudayaan (filsafat) yunani, ajaran islam mulai dipahami dengan semangat rasionalisme yang berbeda dengan masa awal (generasi salaf al-salihin), di masa islam difahami dan diamalkan secara sederhana, murni, utuh dan penuh semangat. Abdul al-Qodir Mahmud mengelompokkan aliran tasawuf ke dalam tiga aliran; pertama tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran dan metodenya berdasarkan alquran dan al-sunnah nabi serta praktek-praktek kerohanian generasi salaf. Kedua tasawuf sunni merupakan tasawuf yang ajarannya berusaha memadukan aspek syariah dan hakikat namun diberi interprestasi dan metode baru yang belum dikenal pada masa Salaf al-sholih. Ketiga tasawuf falsafi adalah jenis tasawuf yang ajarannya berusaha memadukan antara fisi tasawuf dan falsafah, sehingga cenderung melampaui batas-batas syariah.
Dalam pertumbuhannya, tasawuf suni dan falsafi lebih berkembang dan lebih popular serta lebih menarik minat banyak orang. Tasawuf sunni mencapai puncaknya di tangan Al-Ghozali, tasawuf falsafi di tangan Ibn Arabi, dan tasawuf salafi di kembangkan oleh mazhab Hambali, diantaranya Ibnu Taimiyyah. Para pengikut tasawuf falsafi mengembangkan sayapnya dengan dua metode : pertama, motifasi moral sufisme lebih ditekankan dan sebagian dari tehnik dzikir dan muroqobah diterima pula. Kedua,formulasi tasawuf yang diperbarui ini di arahkan untuk memperbarui aktifisme ortodok dan menanamkan sikap positif terhadap dunia.
Dengan demikian Tasawuf Ibnu Taimiyyah pada dasarnya bukan merupaan tasawuf yang baru sama sekali, melaikan sebagai pengembangan dan pembaruan yang telah ada, khususnya pada aspek antologi, epistomologis dan aksiologis.

A. Latar Belakang Pembaharuan
Taqiyy al-Din Ibnu Taimiyah lahir di Haran, Mesopotamia utara 22 Juni 1263 H. dari keluarga intlektual penganut madzhab Hambali, ia dihadapkan dengan berbagai macam problema social budaya, utamanya politik, kemasyarakatan dan keamanan.
Dalam politik, pada waktu itu di dunia timur Bagdad di hancurkan tentara Mongol di bawah Komando Hulagu Khan (Qomaruddin Khan, 1983;37) di barat muncul kejayaan Spayol-Cordoba, yang akhirnya kaum muslimin harus menerima nasib buruk karena harus keluar dari Spayol-Cordoba.
Dalam bidang social kemasyarakatan, khususnya tempat kelahiran ia hidup. Yakni Damaskus dan sekitarnya terjadi kehidupan rakyat yang majmuk. Sehingga rentan terjadi benturan yang tidak sedikit melahirkan peperengan.
Dengan problem yang semakin carut-marut itu mendorong ibnu Taimiyah untuk memilih mazhab Hambali yang bercorak normatif literatis dalam memahami agama. Dan muncullah jargo Keagamaan yang dijadikan dasar pandangan keagamaannya yaitu kembali kepada Al-Quran dan al-Sunnah serta dibuka kembali pintu ijtihad.

Atas dasar diatas maka ada tiga asas pandangan keagamaan Ibnu Taimiyah:
1. Dalam masalah agama dan keagamaan tidak ada otoritas apapun yang sah yang dijadikan acuan normative selain Al-Quran dan al-Sunnah.
2. Dalam masalah agama dan keagamaan tidak ada paradikma apapun yang dipandang falid selain contoh dan teladan dari praktek-preaktek keagamaan generasi salaf.
3. Dalam memahami dan mengamalkan agama harus dipandang sebagai satu kesatuan system Ilahi yang harus didekatkan secara integral dan utuh, tidak boleh sepotong-potong.

Musthofa Hilmi mendiskripsikan problem tasawuf yang di hadapi Ibnu Taimiyah mencakup lima hal;
1. Problem Aqidah Tauhid
2. Problem Kenabian
3. Problem Kewalian
4. Problem Mkjizat dan Karomah
5. Problem Ibadah masyru’ah dan Ibadah Bid’ah

B. Pembaruan Tasawuf Ibnu Taimiyah
Pembaruan taswuf Ibnu Taimiyah merupakan kelanjutan dari faham yang secara historis mengidealkan pemahaman dan pengamalan ajaran islam pada generasi salaf al-sholihin dan secara normatif dan selalu merujuk dan berada dalam control al-quran dan al-sunnah. Kecuali ia juga dikenal sebagai tokoh pembaharu islam klasik yang memiliki corak reformis yakni suatu pemaharuan yang bercorak sintesis abtara pemikiran tradisional-koservatif dengan pemikiran modern-progresif.
Dengan melihat ketiga aspek tersebut maka dapat diketahui karakteristik dan sosok tasawuf Ibnu Taimiyah secara komprehersif.
1. Pembaruan aspek antologis
2. Pembaruan aspek epistemologis
3. Pembaruan aspek aksiologis


C. Karakteristik Tasawuf Ibnu Taimiyah
Engan melihat aspek-aspek diatas dapat disimpulkan karakteristik ibnu Taimiyah sebagai berikut:
1. Puritanis
2. Aktifis
3. Populis

D. Tasawuf Ibnu Taimiyah dan Model Spiritualitas Masa Kini

Masa kini pada hakikatnya merupakan rangkaian evolusi sejarah peradapan manusia terutama sejak memasuki babak modern yang melahirkan peradapan modern sebagai produk dan perubahan sikap serta mentalitas manusia agar dapat hidup sesuai dengan tuntunan dan dinamika zaman.
Dengan demikian sesungguhnya sejak semula modernisasi telah menolak bahkan mendekontruksi realitas yang berada diluar jangkauan indra dan rasio manusia. Menurut Nasr, sebagai akibat masyarakat modern menjadi kehilangan visi keilahian dan pada gilirannya melahirkan gejala psikologis dan juga problem spiritual yang merupakan kehampaan spiritual. Untuk menghilangkan problem spiritual masakini yang salah satunya karena akibat hilangnya visi keilahian setelah manusia bergerak menjauh dari pusat Eksistensi, maka tidak ada jalan lain kecuali kembali ke pusat Eksistensi tersebut. Dan jalan yang paling signifikan adalah lewat tasawuf. Karena dalam tasawuf tersebut dapat member jawaban terhadap kebutuhan intelektual maupun spiritual masa kini.


KONFIGUTASI IMAN MENUJU “TASAWUF MODERN”

A. Pendahuluan
Cangkupan konsep dalam konfigurasi spiritual islam berbeda dengan konfigurasi iman karena lingkup yang kedua lebih luas dan sejalan dengan cangkupan konsep “Taswuf Modern”
Meskipun dalam misi religious manusia modern lebih melihat penekanan pada esensial prilaku dalam hubungannya dengan alam, manusia dan tuhan, namun sosok dunia modern dapat diamati dalam dunia literature yang lain. Karena manusia modern ternyata memerlukan sentuhan yang lain yang mampu memanusiakan dirinya sendiri.

B. Tasawuf sebagai produk sejarah
Meskipun Abu Nasr Al-Sarraj dalam kitabnya Al-luma’ fi al-tasawufmenyatakan bahwa kata sufi sudah dipakai pada masa Tabi’in, namun literature pada umumnya terlebih dahulu membahas zuhud. Sebagai suatu gejala social, cirri-ciri zuhud dirumuskan oleh abu al-wafa al-aftazani sebagai berikut; berpola piker menjahui dunia untuk memperoleh kemenangan akhirat. Bersifat amali, dengan motifasu takut kepada allah dan kecintaan kepadanya.
Literature tasawuf tidak selamanya memberikan susunan yang sama tentang gejala ini. Abu bakat muhamad al-kalabadzi merumuskannya menjadi; taubat – zuhud – sabar – faqir - rendah hati – taqwa – tawakal – ridha - mahabbah dan makrifat. Imam al-ghozali juga merumuskan; taubat – sabar – faqir – zuhud – tawakal - cinta atau mahabbah dan makrifat. Menurut abu al-qosim “abd al-karim al-qusyairi, maqomat adalah sebagai berikut: taubat – wara’ – zuhud – tawakal – sabar – dan ridho. Pengalaman lain yang perlu dikemukakan adalah pebedaan antara maqomat dan akhwal. Jika yang pertama meupakan buah karya dan usaha manusia, maka akhwal diperoleh semata-mata karena anugrah dari allah SWT.

C. Mengalami keberadaan dan perintah tuhan
Uraian tentang sufi dan taswuf adalah deskripsi pengalaman sepanjang sufi menelusuri perjalanan mendekati tuhan seperti dilaporkan oleh kenyataan sejarah. Akan tetapi menyikapi bentuk suatu keberagaman yang final dan kemudian dapat di sampaikan sebagaimana adanya umat dibelakang hari berarti menunjuk pada normativitas identik dengan historisitas dalam islam. Jika tasawuf dalam sejarah bukan bentuk tunggal dalam mndekati tuhan, maka peluang alternative menjadi terbuka. Sikap paling tepat adalah mendudukkan tasawuf kedalam bingkai keberadagaman islam, kemudian menyikapi tahap perkembangan yang ada pada dinamika social dalam pelaksanaan ajaran islam. Sebagai bagian utuh keberagaman, periodesasi tasawuf menjadi tahap benuh.

D. Tasawuf social
Unsur dasar yang menjadi perhatian utama visi ini adalah sifat kehidupan manusia yang senantiasa berubah, artinya konteks kehidupan tasawuf di abad lalu berbeda dengan masa kini. Karena Herbert Blumer sudah dengan tegas menyatakan bahwa masyarakat manusia adalah realitas yang senantiasa berubah dan mencair. Jadi tasawuf yang di praktekkan masa kini harus dengan memperhatikan bahwa masalah kemanusiaan dalam kehidupan social merupakan bagian dari keberagaman para sufi, tujuan yang di capai tetap sama yaitu ketenangan, kedamaian, kebahagiaan intuitif tetapi kemudian dilebarkan bukan hanya untuk individu melainkan juga untuk dan dalam bentuk kesalehan social.

E. Kesimpulan
Upaya pegembangan kualitas keberagamaan untuk menghayati tuhan dalam islam sudah diamalkan pada masa Rasululah, meskipun term khusus sebagai konseptualisasi gejala ini baru tumbuh dalam sejarah dikemudian hari, alternatifnya adalah tasawuf social yang pada dasranya memiliki kerangka maqomat dan akhwal namun dengan akhir yang tidak terbatas.


MAQOMAT DAN AKHWAL (TINJAUAN METODOLOGIS)


Maqamat dan Ahwal adalah dua istilah penting dalam dunia tasawuf. Keduanaya merupakan sarana spiritual seseorang dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Dengan itu maqam dan hal merupakan cara untuk mencapai tujuan ideal para sufi, maka untuk mencapai tujuna tersebut para sufi menciptakan jalan spiritual untuk merangkai hubungan dengan sang Tuhan yang disebut maqamat.
Pada sisi lain ahwal merupakan keadaan yang diberikan Tuhan di tengah seorang melakukan perjalanan kerohanian melalui maqam tertentu. Ketika Tuhan memanifestasikan keagungan maupun keindahan-Nya, seseorang akan mencintai manifestasi tersebut dengan merasakan kegembiraan tertentu, hati mereka dekat (qurb), rasa cinta (mahabbah) ,harap-harap cemas (raja',) tentram (tuma'ninah) dan rasa yaqin, yang kesemuanya itu disebut ahwal

Maqamat dan Ahwal dalam wacana

Secara historis konsep ini muncul abad pertama Hijriyyah. Dan yang memperkenalkan adalah Ali bain Abu Thalib, ketika beliau ditanya menjawab: bahwa iman itu adalah bersumber pada beberapa pondasi yaitu sabar, adil dan jihad yang masing-masing pondasi punya sepuluh tingkat maqamat. Pada permulaan abad kedua Hijriyah terjadi pergeseran pola hidup kaum sufi dari pola zuhud kepada pola perbincangan pengalaman-pengalaman spiritual. Literatul tasawuf tidak selamanya memberikan susunan yang sama tentang gejala ini.
Maqam yang artinya " tempat berdiri" dalam termilogi sufistik berarti tempat atau martabat seorang hamba di hadapan Allah pada saat dia berdiri menghadap kepada-Nya, yang hal tersebut merupakan proses training terhadap kerohanian (riyadlah), memerangi hawa nafsu (mujahadah) dan melepaskan kegiatan dunia semata-mata berbakti pada Allah. Bagi al-Gazali seluruh tingkatan keagamaan (maqamat al-din) terdiri dari tiga bagia pokok, yaitu pengetahuan (ma'rifat), keadaan (ahwal), dan tindakan ('amal)
Sejalan dengan pemikiran di atas maka langkah-langka dalam proses ini adalah (a). Bangkitnya kesadaran (b). Pembersihan (c). Penerangan (d). Malam gelap jiwa dan (e). Kesadaran berastu, yang kesemuanya adalah bertahap dan butuh perjuangan untuk mencapai terwuhudnya keninginan dan cita-cita bersama Tuhannya. Dalam bahasa tasawuf hal ini mengarah pada pengertian bahwa maqamat mempunyai tiga tahapan. Pertama : mengosongkan dan membersihkan diri dari segala sifat keduniaan dan maksiat yang biasa disebut tahliyah. Kedua : mengisi kembali dan menghiasi jiwa dengan jalan membiasakan diri dengan sifat, sikap dan perbuatan baik yang disebut tahliyah. Ketiga : yaitu tajliyah, stratifikasi dimana hati telah bersih yang berdampak pada lenyapnya hijab dari sifat-sifat kemanusiaan dan tersembulnya sinar Ilahi.
Sama dengan maqamat, hal juga merupakan kondisi kesadaran spiritual seseorang hamba menghadap kepada Tuhan-Nya dengan berbekal amal dan perbuatan baik, Tuhan pun akan memanifestasikan diri-Nya kedalam sanubari yang dampaknya hati akan merasa takut, cinta, ketentraman dan kedamaian dan keadaan ini disebut sebagai ahwal
Dengan demikian terdapat perbedaan normative antara keduanya. Yang pertama adanya usaha serius dan intensif seseorang, dan yang kedua merupakan dari pemberian Allah semata. Oleh karena itu dapat dikatkan bahwa seseorang pemilik maqam tentu adalah aktif dan dinamis dalam berekspresi, sedangkan yang pemilik hal adalah pasif khususnya pada hal yang telah didapatinya. Namun perbedaan ini hanyalah pada aspek teoritis saja.

Mencari Akar Ilmiah Maqamat dan Ahwal
Sebagai penglaman keagaman sufidtik tidak dilihat saja secara ekstrinsi, namun juga intrinsik. Ekstrisik berarti Sufisme dipandang sebagai suatu gejala kebatinan yang tampak dari luar yaitu faktor sosiologis dimana kebatinan seseorang dapat dilihat dari gerakan keagamaan. Intrinsik : yaitu memandangnya sebagai keterlibatan yang menyeluruh dan pengendalian kesatuan motivasi yang mengatur seluruh hidup manusia, dimana seorang terlibat di dalam maupun di luar ibadah yang dilakukannya.
Dalam terminologi, psikologi transedental identik dengan tataran akhir pengalaman beragama seseorang, yang disebut Religi of Spontanity. Tujuan agama spontanitas lebih dari sekedar melepaskan diri dari bentuk-bentuk kehidupan agama yang mengekang doktrin, pola ibadah dan keaneka kelembagaan. Tujua jalan mistis adalah mengatasi keterbatasan sejarah, budaya dan kepribadian agar mencapai kesatuan dengan Ilahi.
Melihat pemikiran tersebut setidaknya ada tiga aspek esensial. Pertama, eksistensi manusia. Kedua, esensi manusia. Ketiga, konsep tentang otoritas Tuhan (qudrat). Berangkat dari konsep di atas psikologi transedental melihat pengalaman spiritual menuju kebersamaan dengan Tuhan yang melewati berbagai tingkatan dan keadaan ruhani tertentu dapat ditelusuri melalui konsep keterpaduan kesadaran secara integral. Kesadaran paling rendah adalah kesadran benda-benda mati, biasanya disebut kitidaksadaran, yang menjadi eksistensi benda-benda lain disekitarnya sebagai objek.
Kesadaran manusia yang lebih tinggi adalah kesadaran akan prioritas dari berbagai alternatif tersebut. Kesadaran ini mengantarkan nilai-nilai yang dianut seseorang bekerja diatas kesadaran tanpa disadarinya. Jika seorang menyadari sumber tersebut maka kesadaran ini dikenal sebagai kesadaran transedental. Sebuah kesadaran trasedental individu berhubungan secara terpadu dan serasi dengan lingkungan. Bersama itu pula seseorang mengalami keterpaduan ketiga tingkatan kesadarannya, atau dalm istilah lain kesadaran sufistik tertinggi merupakan gabungan antara pemikiran, pemahaman dan pengalaman mistik. Berhubung kesadaran mistik itu bersifat subyektif maka jalan untuk mempercayainya atau tingkat kualitas penghayatannya adalah beraneka ragam tergantung pada karekter psikologis dan kondisi sosial kultur tesebut.

PESANTREN DAN TASAWUF

Kaitan antara Peasantren dan Tasawuf tidaklah sulit mencarinya.karena keduanya memiliki persamaan sebagai subkultural masyarakat Indonesia. Usia pesantren di Indonesia sudah sangat tua, menurut Tengara Matsuhu, Pesantren di Indonesia berusia sekitar 300-400 tahun. Tradisi pesantren masuk menjadi budaya lokal dan begitu sebaliknya. Pada masa-masa pengislaman Indonesia yaitu bad 13-17, tidak ada pesantren yang terlepas dari pengaruh tasawuf, sehingga rangkaian tiga kata ini sering di pakai yaitu, pesantren, tasawuf, Indonesia.
Zamachsjari Dhofier (1980:263) menulis bahwa pedagang Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-8 untuk berbisnis dengan orang pribumi. Menurut catatan Matsuhu (1994-20) memang telah ada orang yang masuk Islam, bahkan pada abad 5 M. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya batu nisan yang bertulis nama Islam, seperti Fatimah binti Maimun di Leran Gresik yang meninggal tahun 474H atau 1082M , Malikus Saleh di Sumatra abad 13M, dan Tuhar Amisuri di Barus, pantai Barat pulau Sumatra tahun 602 H.
Pada saat para penyiar agama Islam datang di Indonesia,para penduduk pribumi masih beragama Hindu-Budha. Komunitas muslim baru terbentuk sekitar abad 13-17, yakni ketika tasawuf memiliki pengaruh yang dominan di dunia Islam . Dalam ungkapan lain pengislaman di Indonesia adalah berkat kerja tasawuf atau para sufi . Pada abad 12-13 kaum Muslimin sedang mengalami kemunduran di bidang politik, militer, maupun intelektul, kaum sufi berusaha semangat dan jiwa keagamaan di kalangan Muslimin, kemudian kaum sufi membawa Islam keluar dari Timur Tengah menuju Asia Tenggara dan pedalaman Afrika.
S.Q.Fatimi (1963) mengungkapkan bahwa Islam masuk ke Indonesia di bawa oleh para da’i atau misionaris (mistik) Islam atau sufi melalui wilayah Bengal. Para sufi berperan sebagai juru Tabligh pada daerah-daerah yang mereka lalui. Oleh karena itu dapat di pahamijika Islam di Indonesia sangat berscorak sufistik dan mistik (Abdurrahman Wahid, 1988). Baru setelah pengislaman lebih lanjut dilakukan oleh ulama-ulama Fiqh dan ahli kalam.
Menurut Nurcholish Majid(1988) melaporkan , gerakan tasawuf pada masa ini demikian kuat sehingga mampu mempengaruhi dan membentuk masyarakat tasawuf. Salah satu ciri penyebaran Islam bersifat tasawuf adalah dibangun dan ditemuknnya pemondokan atau zawiyah, yang pada waktu itu digunakan untuk menampung orang-orang miskin yng akan melakukan suluk atau wirid. Pada akhirnya pesantren berkembang sebagai tempt pengajaran. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren merupakan tulang punggung perkembangan islam di Indonesia.
Sabardi dan A.Jhon, mengutip dari Z.Dhofier (1982:17-18) tentang peran pesantren di Indonesia mengatakan:
Lembaga-lembaga pesantren yang paling menentukan watak ke-Islaman dari kerajaan-kerajaan Islam , dan yang peranan yang paling penting bagi penyebaran Islam sampai ke pelosojk-pelosok.
Lembaga pesantren mengajarkan agama Islam sebagai pedoman hidup, atau disebut Tafaquh fi al-din. Namun disisi lain masih ada anggapan bahwa yang namanya ibadah adalah kegiatan yang berorientasi pada keakhiratann seperti sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Sebaliknya kegiatan duniawi seperti, pengembangan ekonomi, peningkatan etos kerja, kesehatan dan sebagainya kurang mendapat perhatian dan tidak di pandang sebagai ibadah. Memang ada pesantren yng berusaha menyikapin perubahan zaman dengan menyesuaikan pola pemikiran dan pengajaran namun masih menemui hambatan karena terdapat image itu bukan merupakan ibadah.
Ajaran tasawuf yang mengajarkan membersihkan hati dri sift-sifat tercela (tafsiyatul qalbi anis shifatil madzmumah) yang bertujuan mendekatkan diri kepada Tuhan. Cara mendekatkan diri kepada Tuhan adalah dengan cara Tarekat. Tarekat meliputi dua macam yaitu: Pertama : Tarekat ‘am (umum), yaitu segala sesuatu yang dilakukan secara istiqomah seperti shalat, wirit, infaq, sedekah, menolong orang, amar ma’ruf nahi munkar dsb. Kedua : Tarekat khas (khusus) yang meluiputi tata wirit yang dipraktikkan secara istiqomah yang diterima dari guru-guru tertentu dan berkesinambungan dan bersanad muttasil sampai pada Rasulullah. Dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah aspek intelektual, sedangkan tarekat adalah aspek praktikalnya.
Untuk melaksanakan ajaran-ajaran Islam, diperlukan pemahaman tasawuf dan fiqh secara bersama-sama. Tasawuf adalah aspek kerohanian yang paling dalam sedangkan fiqh adalah standar tata nilai yang harus di anut. Seseorang yang akan mengamalkan tasawuf harus mempelajari Fiqh lebih dulu. Inilah yang menjadi ciri khas tasawuf di pesantren, yaitu tasawuf fiqhiyah atau fiqh-sufistik. Dalam perkembangannya fiqh dan tasawuf saling melengkapi, misalnya apabila seseorang terkena najis, untuk beribadah bukan berarti ia harus mengiris bagian tubuh yang terkena najis, melainkan di bersihkan dengan cara tertentu. Dengan dmikian tasawuf yang berkembng di pesantren adalah tasawuf yang berdimensi pda kemanusiaan tasawuf empiris.
Akibat yang ditimbulkan dari adanya pembatasan fiqhiyah terhadap pelaksanaan tasawuf di pesantren, misalnya perjalanan batin/atau penafsiran yang cenderung kaku dan formal, yang akhirnya hidup terasa dikuasai oleh doktrin-doktrin. Akibat lainnya adalah hilngnya penonjolan kegiatan magis, meskipun tidak hilang sama sekali, yang menjadi cirri khas kegiatan tarekat.
Dalam praktiknya tidak semua pesantren mengajarkan tasawuf. Namun dilihat dari segi orientasinya , pengelolaan, interaksi didalamnya , kepemimpinan dan sebagainya , jelas ajaran tasawuf sangat terefleksi dalam pesantren. `Sistem pendidikan yang Wholstik-menyeluruh di pesantren, menjadikan tasawuf menemukan untuk bersemi. Dengan posisi yang sentral ini menjadikan pesantren sebagai pembentuk kultur di Indonesia.

TASAWUF SEBAGAI SUBKULTURAL PONDOK PESANTREN

A.Pendahuluan
Adanya segolangan umat Islam yang merasa belum puas, dan belum merasa dekat dengan Tuhan jika hanya beribadah seperti sholat, zakat, puasa, maupun haji . Dalam hal ini untuk merasa dekat dengan Tuhan, mereka menggunakan jalan Tasawuf.
Islamisasi di Indonesia berawal ketika tasawuf merupakan corak pemikiran yang dominan di dunia Islam. Pemikiran para sufi terkemuka, seperti Ibnu Arabi dan Al-Ghozali sangat berpengaruh terhadap Pengarang-pengarang muslim di Indonesia, yang hamper semuanya menjadi pengikut suatu tarekat.
Sebenarnya bidang tasawuf adalah bidang yang menarik dalam struktur kehidupan beragama, tetapi masih belum banyak pesantren yang secara sungguh-sungguh menggarapnya. Padahal tasawuf merupakan bidang yang sangat potensial untuk memupuk rasa keagamaan para santri, dan menuntun mereka memiliki budi pekerti yang mulia.
B.Esensi Tasawuf
Pada hakekatnya tasawuf adalah tashfiyatul qalbi anis shifatl madzmumah,yang berarti membersihkn hati dari sifat-sifat yang tercela.Dengan kata lain Tasafuf adalah suatu ajaran Islam yang mengajarkan bagaimana seseorang bersikap mental dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan sesame manusia,dengan lingkungannya yang didasarkan petunjuk al-Qur’an dan Al-Sunnah.
Tasawuf ada dua yaitu : Pertama, Tasawuf ‘ammah(yang umum), berupa semua bentuk kegiatan untuk meningkatkan moral dan ahlak misalnya; Shalat, wirid, infak, sedekah, amar ma’ruf nahi mungkr bahkan kegiatan mencari nafkah yang yang didasari nit yang benar.
Kedua tasawuf Khashshah (yang khusus), berupa kegiatan tata wirid yang dilaksanakan secara istiqomah , yang diterima dari guru-guru tertentu yang berkesinambungan secara berangkai (bersanad muttawasil) sampai kepada Rasulullah SAW.
Prof.Dr.Amin Syukur, MA., dalm penelitiannya menyebutkan tasawuf adalah kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung antara seorang Muslim dengan Tuhan . Dengan kata lain bahwa esensi tasawuf terletak pada pengejawantahan dari ajaran tentang ihsan. Esetorisme sufi tentang ihsan adalah sabda Nabi, yaitu suatu keadaandimana ketika kita menyembah Allah seolah-olah kita melihat-Nya, kalaupun kita tidak melihat-nya Dia melihat kita.
Prof.Dr.Simuh memandang ada dua hal yang berbeda yaitu : Pertama memandang esensi tasawuf pada ajaran zuhud, yaitu ajaran untuk bertekun dalam beribadah serta menjauhi kemewahan dunia. Kedua upaya memperoleh penghayatan fana’ dan ma’ rifat secara langsung terhadap dzat Tuhan yakni mencapai penghayatan face to face, kan bersatu dengan Tuhan di dalam suasana extasy (fana’ dan ma’rifat)
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa esensi tasawuf adalah pengejawantahan al-ihsan, zuhuddan penghayatan fana’ dan ma’rifat. Para ahli sufi memiliki perumpamaan kebulatan agama Islam terdiri atas syari’at, haqiqat, dan ma’rifat. Dalam hal ini Imam Malik menyatakan bahwa: Pertama, barang siapa mengamalkan Fiqh tanpa bertasawuf maka dia adalah fasiq (tidak bermoral), Kedua, siapa yang bertasawuf tanpa mengamalkan fiqh maka dia adalah zindiq(menyeleweng), dan ketiga , siapa yang menggabungkan keduanya maka dia telah berhaqiqah (menemukan kebenaran).
C.Esensi pondok Pesantren
Pesantren berarti sebagai lembaga lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati danmengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman prilaku moral sehari-hari. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa esensi pesantren adalah pembinaan kepribadian muhsin dalam melaksanakan ihsan dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip Pondok Pesantren dalam system pendidikan yaitu (1) theosentri, (2) suka rela dan mengabdi (3) kearifan, (4) kesederhanaan, (5) kolektivitas, (6) mengatur kegiatan bersama, (7) kebebasan terpimpin, (8) tempat mencari ilmu dan mengabdi, (9) mengamalkan ajaran agama, (10) tanpa ijazah, (11) restu kyai
D. Tasawuf sebagai subkultural Pondok pesantren
Pondok Pesantren dipandang sebagai subkultural ditandai aspek-aspek sebagai berikut:
(1) Eksistensi pesantren sebagai sebuah lembaga kehidupan yang tidak sama dengan kehidupan umum
(2) Terdapat sejumlah penunjang yang menjadi tulang punggung kehidupan pesantren
(3) Berlangsungnya proses pembentukan tata nilai yang tersendiri dalam pesantren lengkap dengan simbol-simbolnya.
(4) Adany daya tarik keluar sehingga masyarakat luar memandang pesantren sebagai alternative ideal.
(5) Berkembangnya proses pengaruh-mempengaruhi dengan masyarakat luar sehingga terjadi transformasi
Jika pesantren esensinya adalah sebagai pembentuk kepribadian muhsin dipandang sebagai subkultul, maka tasawuf esensinya adalah pengejawantahan ihsan, maka tentunya tasawuf dapat dipandang sebagai subkultural pesantren dengan karakteristik yang sama.

MUHAMMADIYAH DAN TASAWUF

I.Pendahuluan
Pada tahun 1912 K.H.Ahmad Dahlan telah mendirikan Muhammadiyah yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah al Shohihiyah, dan berkrakteristik sebagai :
(1).Gerakan Islam
(2).Gerakan tajdid
(3).Gerakan dakwah,dan
(4).Gerakan amal social keagamaan

II.Metode pemahaman agama
Dalam pemahaman dan pengamalan agama Islam Muhammadiyah dilandasi oleh semangat tajdid. Yang berdasar pada sebuah Hadits
انّ الله يبعث لهذه الامة على رءس كل مائة سنة من يجد د لها دينها (رواه ابو داود)
“Sesungguhnya Allah mengutus bagi umat ini (umat Islam)pada tiap-tiap penghujung abad,seorang pembaharui agamanya baginya.”
Dan muncullah para Mujaddid yang berpengaruh terhadap pola pikir muhammadiyah antara lain : Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, dan Muhammad Ibn Abdul Wahab yang dikenal sebagai tokoh Wahabi. Kemudian diteruskan oleh pembaharu pra modernis antara lain : Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha yang kemudian di kenal dengan tokoh-tokoh gerakan salafi. Pembaharu pemikiran Islam juga dicetuskan oleh Sayyid Ahmaf Khan dari India yang dikenal dengan gerakan Aligarf yang bercorak rasionalis yang menyeru pada umat Islam agar :
1. Kembali pada ajaran Islam yang asli dan murni (al-ruju’ ila l-Qur’an wa al-Sunnah)
2. Memberantas syirik, bid’ah, khurafat dan takhayaul
3. Menganjurkan ijtihat dan tidak membenarkan taklid
Bagi Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha yang hidup di zaman yang modern, dan berhadapan dengan bangsa barat yang ilmu pengetahuan dan teknologinya berkembang pesat, mereka menganjurkan umat Islam agar dalam memahami ajaran agama menyesuaikan dengan tuntunan zaman memanfaatkan ilmu pengetahuan dan tehnologi demi untuk kemajuan umat dan meninggalkan faham fatalism (jabariyah).yang mengakibatkan umat Islam terbelakang implementasinya dengan mengadakan reiintepretasi terhadap ajaran Islam, reformulasi ajaran-ajaran Islam, reformulasi doktrin-doktrin ajaran Islam, dan memajukan pendidikan,,dengan mendirikan sekolah modern.
Pembaharuan pemikiran Islam tersebut diikuti oleh Muhammadiah dengan dua wajah yaitu:
1. Reformasi dan purifikasi, yaitu pembaharuan yang mengarah kepada keaslian dan pemurnian Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah al-Shohihah, khususnya dalam bidang ibadah mahdhah.
2. Modernisasi, yaitu pembaharuan dalam pemahaman dan pengalaman ajaran Islam sesuai dengan tuntutan zaman atau kemajuan Ilmu pengetahuan dan tehnologi.
Untuk dapat melakukan tajdid diperlukan ijtihad. Yang dimaksud ijtihad disini adalah mengerahkan segala kemampuan/kesanggupan seseorang (mujtahid) untuk memperoleh ketentuan hokum yang bersifat zhanni. Salah satu cara berijtihad Muhammadiyah adalah dengan cara tarjih, yaitu memilih dalil yang lebih kuat dari dua,atau beberapa dalil yang berlawanan.
Muhammadiyah yang berpegang pada al-Qur’an, aal-Sunnanah dan ijtihad tersebut bukan berarti mengabaikan para ijtihad terdahulu melainkan hanya menyederhanakan kerangka penggalian hokum Islam , sebab ijtihad itu sendiri bias meliputi dua sumber lain yang disepakati (ijma’ dan qias) dan tujuh sumber yang diperselisihkan (ihtihsan, mashlahah mursalah, istish- hab, ‘urf, madzhab shahabi, syar’man qablana, dan sdd al dzariyah)
Demikian cara Muhammadiyah memahami ajaran Islam, dengan meneliti kekuatan hukum dasarnya , termasuk dalam menelaah ajaran yang berkaitan dengan kehidupan esoteric (tasawuf).

III.Akhlak dan Tasawuf
Untuk mengetahui bagaimana Muhammadiyah bertasawuf dapat kita lihat dari prilaku K.H.Ahmad Dahlan dalam kehidupan pribadinya, ketika menginjak dewasa beliau dikirim ayahnya ke Mekkah untuk ibadah Haji dan belajar agama. Sepulang di Indonesia Dia melihat keadaan masyarakat disekitarnya perlu di reformasi , yaitu
1. Kehidupan agama yang sinkretis, yaitu keadaan beragama yang masih bercampur baur dengan kepercayaan lama.
2. Pola piker masyarakat yang masih diliputi paham feodalisme, formalism, dan tradisionalisme (konservatif)
3. Kondisi keterbelakangan bangsa Indonesia menghadapi kaum penjajah Belanda yang terkesan maju dan terpelajar.
Kemudian Dia mendirikan organisasi Hoofdbestuur Moehammadijah Djokjakarta, dan mendirikan sekolah yang bertempat dirumahnya . Dalam perkembangannya dia juga mendirikan sekolah agama (Alqismul Arqa) yang didalamnya diajarkan bahasa asing (bahasa Belanda dn Inggris), dan pengetahuan umum, disamping ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, hadis, fiqh, kalam tsawuf dan lain-lain. K.H.Ahmad Dahlan berprinsip sedikit bicara banyak bekerja, yang kemudian oleh Bung Karno diganti Banyak bicara dan banyak bekerja , karena seorang ulama’selain bekerja fatwanya juga diperlukan dalam masyarakat.
Dari uraian sifat-sifat K.H.Ahmad Dahlan tersebut terlihat dia berhasil menjelmakan spirit atau nilai-nilai subtansial tasawuf kedalam ajaran moral praktis yang menjadi sebuah etos kerja. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman terhadap al- Qur’an dan Al-Hadits menghasilkan amal-amal keagamaan yang sangat luas dan timbul bermacam-macam istilh yang dikembalikan pada tiga bidang yaitu : Aqidah, syari’ah dan Akhlak.

IV. Dimensi spiritualitas
Didalam masyarakat ada anggapan bahwa Muhammadiyah adalah ormas yang beribadat dengan cara praktis , misalnya memilih sholat tarawih yang pendek, memilih do’a-do’a yang pendek setelah sholat , hal tersebut dilaksanakan karena Muhammadiah berpegang pada hadits-hadits Nabi yang shohih saja, dan takut tergelincir pada perbuatan yang disebut bid’ah, khurafat, dan syirik, baik syirik ashghar, syirik akbar, maupaun syirik khofi.
Dalam bertasawuf Muhammadiyah cenderung menggunakan pendapat Abdl Qasim bahwa tasawuf adalah menerapkan ajaran konsekwen A-Qur’an dan Al-Sunnah, berjuang menekan hawa nafsu, menjauhi mengikuti sahwat , dan menjauhi meringan-ringan ibadah.

PARADIGMA TASAWUF NU DAN IMPLKASI SOSIALNYA

NU berdiri pada tahun 1926, menetapkan paradigma keagamaan berdasarkan mazhab (sekarang berupah paham) Ahlusunnah wal Jama’ah (ASWAJA). selain itu berdasarkan kepada factor elaborasi penegasan jumhur ulama’ berdasarkan factor purifikasi dan pemurnian penafsiran ajaran Islam yang dinilai paling kecil mengandung penyimpangan (bid’ah). Yang orang barat menyebutnya penganut mazhab Orthodox Sunni School.
Diskursus keagamaan paham ASWAJA sama dengan para ulama’ pada umumnya yaitu diskursus tiga dimensi yang saling integrated dalam bentuk piramida, yaitu dua sisi kanan-kiri bawah menggambarkan qidah dan syariah,sedangkan puncaknya adalah tasawuf yang bahasa lainnya adalah akhlak. puncak adalah ultimate goal dari tujuan keberagamaan yang dilandasi aqidah dan syari’ah. Manusia perfect adalah manusia yang telah dapat menaiki tangga posisi tasawuf lewat stasion atau muqamat perjenjangan dalam sistem tasawuf yang diajarkan sufi terdahulu

TASAWUF SEBAGAI ILMU
Tasawuf sebagai ilmu telah berkembang sejak abad pertengahan Islam. Sedangkan tasawuf sebagai bagian dari dimensi kehidupan telah ada sejak ajaran Islam diturunkan.Mislnya ayat Al-Qur’an yang berbunyi
ونحن اقرب اليه من حبل الوريدز(ق:16)
“....dan kami telah dekat kepada-Nya dari pada urat nadinya”(Q.S.Qaf.16)
yang Atas dasar itu tasawuf memiliki dua pengertian , yaitu tassawuf ilmu (tasawuf falsafi) dan tasawuf sebagai pengalaman(tasawuf amali)

TASAWUF DAN NU
Corak Islam pertama yang dapat diteima oleh bangsa Indonesia adalah corak sufistik (tasawuf) dan baru berciri Fiqh-sufistik setelah banyak lulusan uama’ Indonesia Timur Tengah.Demikian perkembangan tasawuf di NU , tasawuf tidak sekedar sebagai pedoman –pengalaman keagamaan Islam yang bersifat esoteris , disamping yang eksoteris, tetapi sudah ada kecenderungan analisis lebih mendalam dan luas
Namun tidak dapt dipungkiri dengan jumlah yang sangat banyak, NU berpedoman tasawuf sebagai bagian dari integritas area pengalaman keagamaan Islam menuju the perfect man (insan kamil). tasawuf bukan sekedar untuk dikaji atau dipelajari tetapi untuk dijadikan wacana dan pedoman menjadi muslim yang taat yang baik sebagai implikasi dari suatu paradigma.

WAHDAT AL-ADYAN (PLURALISME AGAMA ),PENEMU,DAN LATAR BELAKANG SOSIALNYA

A.Konsep Wahdat al-Adyan
Didalam tasawuf dikenal adanya konsep al-wahdah, seperti Al-wahwat ai-ummah, al-wahdat al-wujud,al-wahdat al-adyan yang menurut Ahmad Amin merupakan penjabaran dari Laa ilaaha illallah yang mempunyai implikasi sangat dalam bagi kehidupan umat tauhid.Dalam konsep itu ada rangkuman secara universal bagaimana manusia memandang diri,manusia dan alam yang kaitannya dengan yang mutlak (Tuhan).Dimana seorang sufi memandang segala sesuatu dialam yang tampak hanyalah Penciptanya.
Salah satu ajaran al-wahdat adalah Wahdat al-adyan(kesatuan agama –agama) yang banyak ditanggapi pro dan kontra sejakdulu sampai sekarang.Orang yang pertama menyodorkan hal ini adalah al-hallaj, yang selanjutnya diikuti oleh pemikir-pemikir Islam antara lain Ibnu Arabi, Jalaluddin al-Runi, Hazrat Inayat Khan dan lainnya.Dalam ajaran ini menerangkan karena nur Muhammad merupakan jalan hidayah maka ajaran yang dibawa para nabi sama pula.Nabi merupakan emanasi wujud saja,maka agama-agama berasal dari dan akan kembali kepada pokok yang sama karena memancar dari cahaya yang satu.
Pandangan al-hallaj tegas ,bahwa agama yang dipeluk seseorang merupakan hasil pilihan dan kehendak Tuhan, bukan sepenuhnya pilihan manusia itu sendiri. John Hick sependapat bahwa99% keyakinan beragama bergantung pada seseorang tersebut dilahirkan. Maka jangan m,engajak seseorang kepada sesuatu agama, karena akan menghalangi kepada tujuan yang kokoh. Tetapi ajaklah melihat asal/sumber segala kemuliaan dan makna maka dia akan memahaminya. Wahdatul adyan disini memandang bahwa sumber agama adalah satu yaitu Tuhan. Paham wahdatul adyan berlandaskan atas tauhid,yang segala sesuatu berasal dari Tuhan.
Oleh karena itu penyembahan kepada Tuhan dilakukan dengan cara monoteisme, maupun politeisme tidak masalah menurut al-hallaj. Bahwa wujud-Nya hanya satu, Tuhan menampakkan wujud-Nya(tajalla) dalam banyak bentuk dan tidak terbatas pada alam.

B.BIOGRAFI AL-HALLAJ SI PENEMU WAHDAT AL-ADYAN
Abu Al-mughits al-Hasan ibnManshur Ibn Muhammad al-Baidlawi nama sebenarnya dari al-hallaj al-asror (seorang pemintal kapas dilubuk hati karena mengetahui segala didalam hati dan jiwa manusia). Al-Hallaj lahir di Tustar,dekat Baidla, Persia. Al-hallaj banyak bergaul dengan para sufi sejak masih muda, ketika usja 16 tahun, dia berguru kepada Sahal Ibnu Abdullah al-Tusturi selama 2 tahun. Pada tahun 876M/262 H dia beerkelana ke Bashrah dan Baghdad bersama Tusturi,Utsman al-Makki, dan Abu Qasim al-Junaidi al-Baghdadi, namun terjadi ketidak cocokan diantara mereka. Hal tersebut karena ada perbedaan pandang terutama dalam bidang Hulul, yang menurut hallaj adanya hubungan yang sangat unik antara manusia dan Tuhan yang anggap mereka menyesatkan.
Al-Hallaj juga pernah mengadakan perjalanan keduniantimur untuk belajar sihir,sekembalinya dari sana dia membawa kertas negeri Cina ke Negara Islam hasiilnya tanah-tanah yang di datangi seperti Hindia, Gujarat , Persia, Turki dan lain-lain muncul puisi mistik.setelah agak lama berkelana, pada tahun 909 M/295 H kembali ke Baghdad untuk mengajar tasawuf, dan ajaran-ajarannya menimbulkan polemik yang mengikuti dan mengaguminya membentuk aliran Hallajiyyah, sedangkan yang benci dan kontra terhadapnya juga tidak sedikit diantaranya :
1. Berasal dari kalangan Fuqaha,terutama aliran al-Dhahiriyah yang menganggap al-Hallaj menganggap ringan hukum-hukum Islam karena al-hallaj berpendapat pelbagai tugas keagamaan dapat digantikan dengan hal-hal yang lebih bermanfaat terutama dari dimensi social, Haji bagi yang pernah melakukannya tidak perlu melakukan lagi dananya untuk sosial saja.
2. Kalangan sufi termasuk mertuanya Abu yaqub dan Mantan gurunya al-junaid yang menudah al-hallaj menyimpang dari ajaran sufi dan memakai ilmu sihir.Pada waktu itu pecahlah orang-orang sufi menjadi dua yaitu golongan sunni(ahl-al-sunnah/syu’bah al-Surriyah)di bawah pimpinan al-junaid, dan golongan bebas(Syu’bah al-Ahrar)
3. Kalangan ahli teologi yang menuduh Al-Hallaj mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan tauhid.
4. Dari politisi , menteri Ali Ibnu Al-furat dan Ibnu Isa , menganggap al-hallaj sebagai orang yang berbahaya karena mempengaruhi rohaniawan, dan sosial yang dihawatirkan merembet ke struktur politik. Akibatnya dia dua kali masuk penjara dan akhirnya di eksekusi pada tanggal 26 Maret tahun 922 M/308 H, jasadnya dibakar dan abunya dihanyutkan di sungai Tigris atau daljah.

C.KARYA-KARYA DAN AJARAN AL-HALLAJ
Al-hallaj banyak menuliskan karyanya dalam bentuk puisi dan ujaran-ujaran yang bagus. Al-hujwiri pernah melihat 50 karyanya di Baghdad, menurut Ibn-al-nadim 66 karya. Al-hallaj menguasai berbagai macam disiplin ilmu seperti, fiqh, tauhid, kimia, bahasa, filsafat dan tentunya adalah tasawuf. Diantara banyak hasil karyanya yang paling terkenal adalah Thasawin,yang ditulis dengan bahasa arab berbentuk prosa lirik terdiri dari sebelas pasal yang ringkas, dengan bahasa yang sentimental. simbolis, dan samar yang tidak mudah untuk memahaminya.

Ajaran-ajaran al-Hallaj :
1. Penjelmaan tuhan kedalam manusia (hulul)
2. Asal-usul kejadian alam semesta dari nur Muhammad (cahaya Muhammadiyah)
3. Konsep kesatuan agama (wahdad al-adyan)
Hullul atau infusion
Ajaran ini menjelaskan tentang keadaan kerasukan Tuhan, atau Tuhan menitis pada diri seseorang yang telah mampu menyatu dengan-Nya. ketika terjadi hullul pada manusia , Allah menjadi pendengaran, penglihatan, artinya semua yang dikehendaki sesuai kehendak atas perintah Allah.


Nur Muhammad
Menurut al-hallaj , Muhammad mempunyai dua hakikat,yaitu hakikat cahaya azali yang telah ada sebelum adanya segala sesuatu yang menjadi landasan segala ilmu serta ma’rifat, kedua hakikat yang baru dalam kedudukan nya sebagai seorang nabi pada ruang waktu tertentu. Ibn arabi berpendapat manusia adalah wujud satu-satunya yang didalam prinsipnya Nur Muhammad ini dimanesfestasikan dengan derajat yang sangat tinggi ,sehingga patut disebut al-khalifah atau wakil Tuhandan image dari tuhan.

D.KONDISI SOSIAL POLITIK DAN KEAGAMAAN SEKITAR MASA HIDUP AL-HALLAJ
AL-Hallaj hidup pada dinasti Abbasiyah,sejarawan membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah dalam 5 periode, yaitu :
1. Periode pengaruh Persia pertama ( tahun 750-847 M / 132-232 H), menampilkan38 orang kholifah, pusat pemerihtahan di Baghdad, mengalami banyak kemajuan di bidang politik, social dan budaya, teruma pemerintahan harun al-rasyid.
2. Periode pengaruh Turki, (tahun 847-945 M / 232-334 H) meskipun pemerintahan al-Makmun mempunyai zaman kejayaan, namun disitu awal kemunduran Islam kebijakan-kebijakan al-Makmun banyak mengakibatkan kemunduran.
3. Periode kekuasaan bani Buwaihi, atau periode Pengaruh Persia kedua (945-1055M/334-447H)
4. Periode kekuasaan Bani Saljuk, atau periode pengaruh turki kedua (1055-1194M/ 447-590H)
5. Periode bebas pengaruh, namun kekuasaan khalifah efektif sekitar Baghdad (1194-1258M/ 590-656H)
Jika dilihat dari periodesasi al-hallaj hidup pada periode kedua.

TASAWUF MERAWAT KORBAN MADAT
Istilah madat kini lebih popular dengan sebutan narkotika,obat terlarang , heroin dan lain-lain. Narkotika yang banyak meracuni kaum muda, baik yang berada di desa maupun dikota. Penggunaan zat aditif ini banyak meresahkan masyarakat. Untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan pengamalan ilmu tasawuf seperti yang dilakukan oleh pesantren suryalaya sekitar 90 km dari kota Bandung, Pesantren ini menggunakan metode Inabah untuk menanggulanginya, yaitu berupa terapi dan wirid.
Landasan tobat yang dilaksanakan di Pesantren ini bersumber dari Al-qur’an, Hadits dan ijtihad, arena tobat adalah stasiun pertama dari beberapa stasiun yang harus ditempuh oleh orang untuk mendekatkan diri pada Allah.


semoga ada manfaat dan gunanya..................................?
ringkasan mata kuliah filsafat tasawuf dosen Drs. harun Kusaijin mi. fil
Poskan Komentar