Jumat, 04 Oktober 2013

DIPLOMASI SANG PEMIMPIN DUNIA

Assalamu'alaikum
kali ini saya akan share tentang cara diplomasi yang dilakukan baginda Muhammad SAW. selanjutnya baca dengan seksama. semoga bermanfaat.
Diplomasi ini bukan sembarang diplomasi. Karena pesan diplomasi yang disampaikan berupa hal yang sangat krusial, tentang agama, yang mungkin saja membawa seluruh negeri Arab, termasuk negara Islam Madinah yang tengah dibangun Rasulullah SAW, akan dicengkeram negara adidaya Persia maupun Romawi.

Dalam catatan sejarah Islam, banyak kejadian besar pada bulan Muharram, salah satunya ialah peristiwa pengutusan para duta Rasulullah SAW kepada raja-raja dan tokoh-tokoh dunia waktu itu.

Di suatu hari pada bulan Muharram tahun 8 H/629 M, Rasulullah SAW mengirim tim ekspedisi sebagai duta beliau kepada beberapa penguasa masa itu, seperti Kaisar Heraklius Romawi, Khasrou II Anusyirwan (Persia), kaisar Muqawqis (Mesir), Raja Najasyi (Abbessinia), Al-Harits bin Abi Syamr Al-Ghassani (Himyar-Yaman). Kegiatan diplomasi ini merupakan salah satu tonggak peristiwa besar dalam sejarah dakwah Islam, yang memberi arti bagi langkah Rasulullah dalam membina negara Madinah.

Peta Politik Dunia

Strategi diplomasi dakwah ini dilakukan Rasulullah SAW usai penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 H /628 M.

Pasca perjanjian itu, di tahun 7 H/629 M, Rasulullah bersama kaum muslimin hendak menuju Makkah untuk melaksanakan haji di bulan Dzulhijjah tahun 7 H. Turunnya surah Al-Fath memantik semangat mereka dalam perjalanan itu.

Selama tinggal di Hudaibiyah dan setelah kembali pulang dari Makkah, pada bulan Muharram 8 H/629 M, Rasulullah SAW berpikir tentang perlunya mengabarkan Islam kepada para penguasa di luar Makkah dan Madinah serta negeri-negeri di luar Jazirah Arab.

Secara eksternal di masa itu peta politik dunia didominasi oleh Kerajaan Bizantium Romawi dan Kerajaan Persia. Keduanya adalah negara superpower yang silih berganti berusaha merebut kekuasaan di Jazirah Arab. Mulanya Persia menang dalam penguasaan atas Palestina dan Mesir, menaklukkan Baitul Maqdis (Yerusalem) dan berhasil membawa Salib Besar (The True Cross). Pada momen berikutnya giliran Bizantium Romawi merebut Mesir, Suriah, dan Palestina. Heraklius, sang kaisar Bizantium Romawi, juga berhasil merebut salib, simbol kekuasaan di masa itu.

Betapa besarnya kedua nama itu dalam kekuasaan politik, sampai-sampai tiada sebuah kerajaan pun yang pernah berpikir hendak melawannya. Yang memungkinkan adalah membina persahabatan antar-negara atau serendah-rendahnya menjadi negeri blok masing-masing kedua negara adidaya. Yaman dan Irak kala itu berada di bawah pengaruh Persia, sedangkan Mesir sampai ke Syam di bawah pengaruh Bizantium Romawi.

Bagaimana dengan Hijaz? Di masa itu, ketika Rasulullah tengah memulai fundamen negara Madinah, seluruh wilayah Hijaz dan semenanjung jazirah terkurung dalam lingkaran pengaruh dua negara super itu. Kehidupan orang-orang Arab Hijaz pada masa itu hanya tergantung pada soal perdagangan dengan Yaman dan Syam. Pada sisi internal, orang-orang Arab, yang hidup dalam kelompok-kelompok kabilah, adakalanya saling bermusuhan dengan keras maupun lunak. Tak ada suatu ikatan apa pun di antara mereka dalam kesatuan politik yang dapat mereka pikirkan untuk menghadapi pengaruh kedua kerajaan raksasa itu.

Maka sungguh menakjubkan apa yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW, dengan melakukan diplomasi dakwah, dengan mengirimkan utusan-utusannya kepada kedua penguasa besar itu, juga kepada Bani Ghassan, Yaman, Mesir, dan Abbessinia.

Diplomasi ini bukan sembarang diplomasi. Karena pesan diplomasi yang disampaikan Rasulullah berupa hal yang sangat vital bagi pribadi dan masyarakat, yakni ajakan masuk agama dan meninggalkan agama atau pemahaman yang lama. Tanpa merasa khawatir akan segala dampak yang mungkin timbul karena langkahnya itu, yang mungkin saja membawa seluruh negeri Arab, termasuk negara Islam Madinah yang tengah dibangunnya, akan dicengkeram Persia maupun Bizantium.

Rasulullah SAW bukanlah seorang pemimpin yang ambigu, galau, dan terlalu banyak membuat hitung-hitungan politis. Dengan melakukan ajakan dakwah kepada semua raja itu untuk menganut Islam, beliau meyakini langkahnya itu dengan kekuatan iman dan segenap ketulusan niat. Kepada para sahabatnya beliau berkata, “Saudara-saudaraku, Allah Ta’ala mengutusku sebagai bentuk rahmat-Nya kepada seluruh umat manusia. Janganlah kalian berselisih pendapat tentangku, seperti kaum Hawariyun (pengikut-pengikut Almasih) tentang Isa anak Maryam.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana pengikut-pengikut Isa berselisih pendapat?”

“Ia (Isa AS) mengajak mereka kepada apa yang seperti aku ajak kepada kalian. Mereka yang diutus ke tempat yang dekat menerima dengan senang hati. Tetapi me­reka yang diutus ke tempat yang jauh tampak terpaksa dan enggan.”

Para sahabat pun mengiyakan apa yang disampaikan Rasulullah. Mereka memahami ajakan ini semata demi mengagungkan kalimah Allah dan mensyiarkan ajaran-Nya.

Rasulullah SAW mengutus beberapa orang sahabat untuk menghadap para penguasa dunia, seperti Heraklius, Khasrou II, Muqawqis, Al-Harits Al-Ghassani, Al-Harits Al-Himyari, Najasyi. Para sahabat menyatakan kesediaan melakukan langkah diplomasi dengan pengiriman para duta itu, bahkan mereka turut membantu menyiapkan segala keperluan, seperti menyiadakan perbekalan, kendaraan, menuliskan surat dakwah Nabi, hingga menyepuh sebentuk stempel terbuat dari perak bertuliskan nama Rasulullah untuk keperluan tanda surat dakwah itu.

Tim Duta Dakwah

Demi menyukseskan langkah dakwah ilallah ini, Rasulullah dibantu para sahabat membentuk sejumlah tim ekspedisi untuk menjadi duta beliau ke beberapa penguasa itu. Tentunya, mereka yang diutus adalah sosok-sosok yang dikenal dengan ketangguhannya melakukan rihlah yang jauh, kemampuan menjalin komunikasi, dan segala sesuatu yang menjadi bahan pertimbangan untuk membawa citra ajaran yang dibawa Rasulullah.

Beliau mengutus tim yang dikepalai Amr bin Umayyah Adh-Dhamri untuk ke Raja Najasyi di Abbesinia, Dihyah bin Khalifah ke Kaisar Romawi Heraklius, Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi ke Khasrou II Persia, Hathib bin Abi Baltha’ah Al-Lahkmi ke Kaisar Muqawqis Mesir, Amr bin Al-Ash ke Raja Jaifar Oman dan Raja ‘Abd Ibn Juland Azad, Salith bin Amr Al-Amiri ke Haudzah bin Ali pembesar Yamamah, Syuja’ bin Wahb Al-Asadi ke Al-Harits bin Abi Syamr Al-Ghassani Raja Balqa-Syam, Abu Umayyah Al-Makhzumi dan Muhajir bin Umayyah ke Al-Harits Al-Himyari Raja Himyar, Abu Musa Al-Asyari dan Muadz bin Jabal Al-Anshari ke Yaman, dan Al-Ala’ bin Al-Hadhrami ke Mundzir bin Sawa Al-‘Abdi Raja Bahrain.

Kepada masing-masing kepala tim ini, Rasulullah menyertakan sepucuk surat perkenalan sekaligus ajakan memeluk Islam. Isi surat-surat yang dikirimkan itu ada yang berbeda dalam susunan kalimatnya. Salah satunya ialah surat yang disampaikan kepada Heraklius yang maknanya:

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Penyayang.


Dari Muhammad hamba Allah kepada Heraklius pembesar Romawi. Salam sejahtera kepada orang yang sudi mengikut petunjuk yang benar. Kemudian daripada itu, dengan ini saya mengajak Tuan menuruti ajaran Islam. Masuk Islamlah, niscaya Tuan akan selamat. Tuhan akan memberi pahala dua kali kepada Tuan. Kalau Tuan mengelak, dosa orang-orang arisiyin (rakyatnya) menjadi tanggung jawab Tuan. Wahai orang-orang Ahli Kitab, marilah sama-sama kita berpegang pada kata yang sama antara kami dan kalian, yakni bahwa tak ada yang kita sembah selain Allah dan kita tidak akan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, bahwa yang satu tak ‘kan mengambil yang lain menjadi tuhan selain Allah.

Di akhir surat terdapat stempel Nabi, sebagai bukti bahwa surat ini benar-benar datang dari Rasulullah SAW.

Sambutan para Penguasa

Para duta ini berangkat menuju negeri-negeri yang telah ditugaskan Nabi. Mereka berangkat dalam waktu yang bersamaan menurut pendapat sebagian besar penulis sejarah, sebagian lagi berpendapat mereka berangkat dalam waktu berlain-lainan namun dalam waktu yang berdekatan, yakni bulan Muharram tahun 8 H/629 M.

Ada beragam reaksi para penguasa itu atas ajakan Nabi Muhammad SAW. Ada yang menerima dengan senang hati, ada yang berdiam diri tanpa merespons, ada yang menolak secara halus, tapi ada juga yang menolak dengan keras dan bahkan mengecam.

Raja Najasyi adalah salah satu contoh yang disebut pertama. Tatkala ia menerima surat Rasulullah SAW dari utusan tersebut, ia segera turun dari singgasananya dan duduk di atas lantai. Ia menerima ajakan Rasulullah itu dan menyatakan keislamannya di hadapan Ja’far bin Abi Thalib RA dan para sahabat duta lainnya. Sebagai bentuk apresiasi atas penerimaan dan pembelaannya bagi Islam dan kaum muslimin saat hijrah yang pertama, ketika Raja Najasyi wafat di negerinya, Nabi SAW melaksanakan shalat Ghaib baginya bersama seluruh sahabat di kota Madinah.

Begitu pula dengan Raja Oman dan pembesar Azd. Keduanya pun beriman dan memeluk Islam tatkala Amr bin Al-Ash menyampaikan ajakan Nabi. Bahkan keduanya menyuruh Amr untuk mengambil zakat dan mengaturnya. Amr juga menetap di sana sampai Rasulullah wafat.

Al-Ala’ bin Al-Hadhrami yang diutus ke Bahrain juga menuai hasil yang baik, dengan kesediaan sang Raja Bahrain, Munzdir bin Sawa, untuk masuk Islam. Demikian pula dengan Abu Musa Al-Asyari dan Muadz bin Jabal Al-Anshari yang diutus ke penduduk Yaman untuk menyeru kepada Islam. Penduduk Yaman dan para penguasanya pun masuk Islam tanpa adanya paksaan.

Sedangkan Kaisar Romawi Heraklius, dikisahkan, setelah dijelaskan ihwal sosok Rasulullah SAW dan meyakini kebenaran risalahnya, mulanya ia ingin memeluk Islam. Tapi lantaran khawatir rakyat Romawi tidak menyetujuinya dan takut kehilangan kekuasaannya, ia mengurungkan niatnya.

Adapun Raja Muqawqis Mesir menerima surat ajakan itu dengan baik. Ia mengomentari ajakan itu dengan baik, meskipun tidak masuk Islam. Namun ia menghadiahi Nabi SAW dua orang budak perempuan yang terpilih serta baik, yakni Maria Al-Qibthiyah dan saudarinya, Sirin. Ketika menerima hadiah budak ini, Nabi mengangkat derajat Sirin dengan menikahkannya kepada Hassan bin Tsabit, yang kemudian melahirkan anak yang bernama Abdurrahman bin Hassan. Sedangkan Maria terangkat derajatnya dengan diperistri Rasulullah SAW.

Lain Muqauqis, lain Heraklius, yang notabene penguasa besar, lain pula Haudzah bin Ali, penguasa Yamamah, yang melakukan tawar-menawar kekuasaan. Ia memang memuliakan surat Nabi, namun balasan suratnya kepada Nabi SAW seakan jawaban penolakan dengan cara halus. Ia menulis:

Alangkah mulia dan indahnya ajaran yang engkau serukan, wahai Muhammad. Aku adalah penyeru dan penyair kaumku. Berikanlah aku sebagian kekuasaanmu, nanti aku masuk Islam.

Rasulullah tidak mengabulkan keinginannya, dan ia pun tidak masuk Islam.

Sedangkan Harits bin Abi Syamr Al-Ghassani, raja Balqa, suatu daerah kecil di Syam, malah menantang Nabi. Syuja’, sang duta, berkata, “Setibanya aku di sana, Raja Balqa sedang berada di dataran rendah Syam. Tatkala aku menyampaikan surat Nabi, ia baca surat itu. Namun kemudian sekonyong-konyong ia buang surat itu seraya berkata, ‘Saya akan datang kepadanya.’ Tapi Kaisar Heraklius, yang membawahkan kekuasaan Balqa, mencegah tindakannya.”

Yang lebih menentang lagi ialah Khasrou II, kaisar Persia. Setelah menerima surat Nabi, ia merobek-robek surat itu, dan mengancam akan menghancurkan Nabi dan kaum muslimin di Madinah.

Sesampainya sang duta di Madinah, setelah mendengar jawaban kasar sang kaisar, Rasulullah SAW berdoa, “Semoga Allah SWT menghancurkan kerajaannya.” Dan doa beliau diijabah Allah SWT, dengan kehancuran Kerajaan Persia di tangan Bizantium Romawi.

Tindakan Rasulullah SAW mengirim utusan-utusan itu menakjubkan. Belum genap 30 tahun sesudah peristiwa itu, negeri-negeri ini dimasuki kaum muslimin dan sebagian besar penduduknya telah memeluk Islam.

Kedua imperium raksasa, Romawi dan Persia, yang mengemudikan jalannya roda kekuasaan dunia masa itu dengan segala peradabannya yang unggul, rontok oleh kerakusan kekuasaan dan materi. Sedangkan dari Madinah, Rasulullah SAW menawarkan kekuatan ruhani yang cahayanya berpendaran ke seluruh jagat semesta raya.


Sumber : Majalah Alkisah
Posting Komentar