Minggu, 18 September 2011

KHUSNUDHON YAAAA.....

♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokaatuh♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥

♥♪♫♫♫♫♪♥۞۞Bismillahirrahmanirrahim ۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥

♥♪♫♫♫♫♪♥۞۞ Alhamdulillahirabbil ‘alamiin۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥


♫♫♫♫
████♥♪♫♫♫♫♪♥██▀▀▀░░░♫♫ Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam ♫♫░░░▀▀▀▀▀██♥♪♫♫♫♫♪♥███



╠╦╦╦╦♥♪♫♫♫♫♪♥╦╦╦╦╦╣Sholawat salam selalu tercurahkan pada junjungan kita ter♥ Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam╠╦╦╦╦♥♪♫♫♫♫♪♥╦╦╦╦╦╣

Berperasangka buruk itu menunjukkan bahwa hati kita buruk, maka janganlah berperasangka buruk kepada sesama, lebih baik diam atau tanyakan langsung kepada yang bersangkutan,kan lebih baik.
Gossip (di gosok makin siiiip), apakah perlu, mengumbar aib seseorang, jika aibmu tidak mau di sebarkan, maka yo jangan mnyebarkan aib orang lain dunk.

Dalam sebuah hadist diterangkan “ berprasangka baikalah kepada sesama mukmin” disini jelas, berperasangka kepada sesama aja tidak boleh, apa lagi kapada Allah swt.

Hemm …
Biasanya orang yang mempunyai perasangka buruk itu niatnya jelek dan dalam hatinya ada sifat jahat.

Dalam hal ini Abu Thoyyib berkomentar lewat syairnya:
۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥ APABILA BURUK LAKU PERBUATAN SESEORANG,MAKA AKAN BURUK PULA PRASANGKANYA, IA AKAN MEMBENARKAN APA YANG IA ANGANKAN. ♪♫♫♫♫♪♥
♥♪♫♫♫♫♪♥ IA MEMUSUHI ORANG YANG MENCINTAINYA DAN MENUDUH MEMUSUHINYA, PADA TENGAH MALAM IA DI LIPUTI KEBIMBANGAN HINGGA PAGI HARI. ۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥


Sobatku semuanya apa yang kamu ucapkan, itulah letak kepribadianmu, dimana seseorang tergantung suara yang keluar dari mulutnya.
Jika ada orang yang menghinamu, biarkanlah dia, entar kan bosan sendiri, jika kamu melayaninya, berarti ia berhasil akan tingkahlaku yang ia kerjakan.

Kata pepatah: ۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥BIARKAN ANJING MENGONGGONG, KAFILAH TETAP BERLALU” ۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥ he he he he he

Sebagian Ulama mengatakan:

♥♪♫♫♥♪♫♫♫♫♪♥♫♫♪♥BIARKAN SAJA ORANG YANG BERBUAT JELEK KEPADAMU DAN KAMU TIDAK USAH MEMBALASNYA. LIPAT GANDAKAN PERBUATAN BAIKMU KEPADA SESEORANG. ♥♪♫♫♥♪♫♫♫♫♪♥♫♫♪♥
♥♪♫♫♫♫♪♥♥♪♫♫♫♫♪♥MAKA KAMU AKAN TERLINDUNG DARI SEMUA TIPU DAYA MUSUHMU DAN JIKA IA MENIPUMU TAK USAH KAU PEDULIKAN. ♥♪♫♫♫♫♪♥♥♪♫♫♫♫♪♥

Syeikh ‘Amid Abdul Fatah al-Basti juga mengatakan:
♥♪♫♫♫♫♪♥♪♫♫♫♫♪♥♥ORANG YANG BERAKAL BELUM TENTU BEBAS DARI ORANG BODOH YANG BERBUAT LALIM DAN MENGACAU♥♥♪♫♫♫♫♪♥♪♫♫♫♫♪♥.
♥♪♫♫♫♫♪♥♥♪♫♫♫♫♪♥HINDARI SAJA DIA TAK PERLU BALIK MENYERANG, BILA IA MENGUSIK, MAKA DIAMKAN SAJA. ♥♪♫♫♫♫♪♥♥♪♫♫♫♫♪♥

HEMMM …………… memang sulit, jika kita di gossip atau di jelek-jelekin orang, tapi mau apalagi. Jika diladenin tambah ruwet nanti jadinya. Bersabarlah dan serahkanlah kepada Allah, Dialah yang lebih mengerti.

Ambillah pelajaran setiap apa yang telah kita lakukan, berfikirlah agak kritis, agar kita tak terjerumus pada hal-hal yang kurang berarti dalam hidup kita.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, semoga uraian ini ada manfaat dan barokahnya.
Silahkan di share jika ada manfaatnya.

♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫Wa’alaikumussalam Warahmatullohi Wabarokaatuh♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥

KHUSNUDHON YAAAA.....

♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokaatuh♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥

♥♪♫♫♫♫♪♥۞۞Bismillahirrahmanirrahim ۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥

♥♪♫♫♫♫♪♥۞۞ Alhamdulillahirabbil ‘alamiin۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥


♫♫♫♫
████♥♪♫♫♫♫♪♥██▀▀▀░░░♫♫ Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam ♫♫░░░▀▀▀▀▀██♥♪♫♫♫♫♪♥███



╠╦╦╦╦♥♪♫♫♫♫♪♥╦╦╦╦╦╣Sholawat salam selalu tercurahkan pada junjungan kita ter♥ Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam╠╦╦╦╦♥♪♫♫♫♫♪♥╦╦╦╦╦╣

Berperasangka buruk itu menunjukkan bahwa hati kita buruk, maka janganlah berperasangka buruk kepada sesama, lebih baik diam atau tanyakan langsung kepada yang bersangkutan,kan lebih baik.
Gossip (di gosok makin siiiip), apakah perlu, mengumbar aib seseorang, jika aibmu tidak mau di sebarkan, maka yo jangan mnyebarkan aib orang lain dunk.

Dalam sebuah hadist diterangkan “ berprasangka baikalah kepada sesama mukmin” disini jelas, berperasangka kepada sesama aja tidak boleh, apa lagi kapada Allah swt.

Hemm …
Biasanya orang yang mempunyai perasangka buruk itu niatnya jelek dan dalam hatinya ada sifat jahat.

Dalam hal ini Abu Thoyyib berkomentar lewat syairnya:
۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥ APABILA BURUK LAKU PERBUATAN SESEORANG,MAKA AKAN BURUK PULA PRASANGKANYA, IA AKAN MEMBENARKAN APA YANG IA ANGANKAN. ♪♫♫♫♫♪♥
♥♪♫♫♫♫♪♥ IA MEMUSUHI ORANG YANG MENCINTAINYA DAN MENUDUH MEMUSUHINYA, PADA TENGAH MALAM IA DI LIPUTI KEBIMBANGAN HINGGA PAGI HARI. ۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥


Sobatku semuanya apa yang kamu ucapkan, itulah letak kepribadianmu, dimana seseorang tergantung suara yang keluar dari mulutnya.
Jika ada orang yang menghinamu, biarkanlah dia, entar kan bosan sendiri, jika kamu melayaninya, berarti ia berhasil akan tingkahlaku yang ia kerjakan.

Kata pepatah: ۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥BIARKAN ANJING MENGONGGONG, KAFILAH TETAP BERLALU” ۞۞♥♪♫♫♫♫♪♥ he he he he he

Sebagian Ulama mengatakan:

♥♪♫♫♥♪♫♫♫♫♪♥♫♫♪♥BIARKAN SAJA ORANG YANG BERBUAT JELEK KEPADAMU DAN KAMU TIDAK USAH MEMBALASNYA. LIPAT GANDAKAN PERBUATAN BAIKMU KEPADA SESEORANG. ♥♪♫♫♥♪♫♫♫♫♪♥♫♫♪♥
♥♪♫♫♫♫♪♥♥♪♫♫♫♫♪♥MAKA KAMU AKAN TERLINDUNG DARI SEMUA TIPU DAYA MUSUHMU DAN JIKA IA MENIPUMU TAK USAH KAU PEDULIKAN. ♥♪♫♫♫♫♪♥♥♪♫♫♫♫♪♥

Syeikh ‘Amid Abdul Fatah al-Basti juga mengatakan:
♥♪♫♫♫♫♪♥♪♫♫♫♫♪♥♥ORANG YANG BERAKAL BELUM TENTU BEBAS DARI ORANG BODOH YANG BERBUAT LALIM DAN MENGACAU♥♥♪♫♫♫♫♪♥♪♫♫♫♫♪♥.
♥♪♫♫♫♫♪♥♥♪♫♫♫♫♪♥HINDARI SAJA DIA TAK PERLU BALIK MENYERANG, BILA IA MENGUSIK, MAKA DIAMKAN SAJA. ♥♪♫♫♫♫♪♥♥♪♫♫♫♫♪♥

HEMMM …………… memang sulit, jika kita di gossip atau di jelek-jelekin orang, tapi mau apalagi. Jika diladenin tambah ruwet nanti jadinya. Bersabarlah dan serahkanlah kepada Allah, Dialah yang lebih mengerti.

Ambillah pelajaran setiap apa yang telah kita lakukan, berfikirlah agak kritis, agar kita tak terjerumus pada hal-hal yang kurang berarti dalam hidup kita.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, semoga uraian ini ada manfaat dan barokahnya.
Silahkan di share jika ada manfaatnya.

♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫Wa’alaikumussalam Warahmatullohi Wabarokaatuh♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥

MENJAUHI PERSELISIHAN

♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokaatuh♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥

♥♪♫♫♫♫♪♥= ۞۞Bismillahirrahmanirrahim ۞۞=♥♪♫♫♫♫♪♥

♥♪♫♫♫♫♫♫░░░♥♥♫♪♥۞۞ Alhamdulillahirabbil ‘alamiin۞۞♥♪♫♫♫♫♫░░░♥♥♫♫♪♥


██████▀▀▀░░░♫♫ Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam ♫♫░░░▀▀▀▀▀█████



Semakin lama resensi kehidupan semakin tidak menentu, entah dari sudut pandang mana, material dan spiritual, social budaya.
Ana akan mencoba sedikit ulasan mengenai tentang MENJAUHI PERSELISIHAN.
Semoga ada manfaat dan barokahnya.

Ana ambil dari rujukan kitab lawas “Ta’limul Muta’alim” kenapa kita dianjurkan menjauhi perselisihan.
Bismillah…

Hindarkanlah melibatkandiri dari permusuhan dengan seseorang, karena hal ini menyia-nyiakan waktu.
Dikatakan, bahwa orang yang berbuat baik selalu diberi pahala sesuai dengan kebijakannya dan yang berbuat jelek akan mendapatkan siska yang setimpal.

Syaikh az-Zahid Ruknuddin Muhammad bin Abu Bakar yang di kenal dengan nama Imam Khawahir Zadah al-Mufti mengatakan: Sultan as-Syariah Yusuf al-Hamdani mendedangkan syair untukku:

“♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥=”JANGAN KAU PERDULIKAN ORANG-ORANG YANG BERBUAT JELEK KEPADAMU, KELAK KARENA PERBUATANNYA IA AKAN MENDAPAT BALASAN YANG SEPADAN” ♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥.

Dalam syair di atas jelas,bahwa kita dianjurkan mejauhi permusuhan, biarkanlah mereka menganggap kita bodoh, miskin, dan lain sebagainya. Asalkan kita menjalani Agama bersasarkan Al-Quran dan Al-Hadist.
Ada suatu ungkapan “Jika agamamu tidak mau diolok-olok / hina orang lain, maka janganlah kamu mengolok-olok agamanya”.

Dikatakan pula, bahwa barang siapa hendak memutus hidung lawannya, maka simaklah trik dalam syair berikut:

♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥JIKA ENGKAU MENGINGINKAN MUSUHMU JATUH HINA, MATI SENGSARA, DAN TERBAKAR DERITA. ♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥


♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥MAKA RAIHLAH KEMULIAAN DAN KEJARLAH ILMU, SEHINGGA ORANG YANG MEMUSUHIMU AKAN MENJADI HINA DAN DALAM TEKANAN DERITA. ♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥


Dikatakan pula, bahwa yang harus kau pehatikan disini adalah usaha dengan kebaikan-kebaikan dirimu sendiri, bukan menghancurkan musuhmu. Apabila dirimu telah dipenuhi oleh kebaikan, maka musuhmu akan hancur dengan sendirinya.

Carilah jalan yang lurus, yang bisa menghantarkanmu kekeadaanmu yang lebih baik. Entah dengan jalan apa kamu mencarinya.

Kembali ke masalah, Hindarilah permusuhan…..!
Sebab permusuhan di samping akan membuang-buang waktu juga berakibat membuka aib, berusahalah menahan diri dan bersabarlah dalam menghadapi orang-orang yang dungu.
Nabi Isa as, putra Mariyam berkata: satu kali menahan diri dalam menghadapi orang bodoh, maka engkau mendapat sepuluh kebaikan.

Terakhir dikatakan dalam sebuah syair klasik:

♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥Telah berabad-abad manusia di uji, tapi tak kulihat yang seberat MENIPU DAN MENGGOSIP♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥.

♫♫♫░░░♥♥”Tak kulihat masalah yang sangat menyusahkan dan menyengsarakan selain PERMUSUHAN DI ANTARA MANUSIA♫♫♫░░░♥♥.

♫♫♫░♫♫♫░░░♥♥░░♥♥dan telah kucoba pahitnya segala rasa tetapi masih lebih pahit daripada MENGEMIS♫♫♫░♫♫♫░░░♥♥░░♥♥.

Kita bisanya hanya berusaha semaksimal mungkin dan setelah itu kita serahkan kepada Allah SWT. Yang mana Dialah yang menentukan semua langkah kita.

Yaa Allah berikanlah ampunan kepadaku, Bapak Ibuku, Kakek dan nenekku, guru-guruku, saudara-saudaraku, murid-muridku, dan semua orang islam dimanapun berada.
Tunjukkanlah jalan kami untuk meraih Ridlo-Mu.
Aamiin aamiin aamiin yaa Rabbal ‘alamiin.

♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, semoga uraian ini ada manfaat dan barokahnya. ♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥.
Silahkan di share jika ada manfaatnya.

♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫░░░♥♥♫♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥
Wa’alaikumussalam Warahmatullohi Wabarokaatuh♥♥♥♥♥♥♫♫♫♫♫♫♫░░░♥♥♫♫♫♫♥♥♥♥♥♥

Jumat, 16 September 2011

BERDO'A


BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM.....

Wahai Allah, Jadikanlah kebaikan kepada kami, keluarga kami, anak cucu kami dan segenap kaum muslimin. Segala puji bagi-Mu ya Allah, Tuhan semesta Alam. Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menyempurnakan berbagai kebaikkan dengan nikmat-Nya, dan dengan anugerah-Nya kita berbahagia memperoleh syorga.

Shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan Kita Nabi Muhammad S.A.W, dan semoga terlimpahkan pula kapada keluarga, sahabat, dan istri-istrinya selama masih ada langit dan bumi.

Segala puji bagi Allah sendiri-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan daya dan kekuatan Allah Yang Maha Tinggi lagi Besar. Cukuplah Allah menjadi penolong kita dan memberi kenikmatan kepada kita.
aamiin.....

ISTRI SHOLIHAH

Dikisahkan bahwa Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah, Seorang istri Ahmad
bin Abu Al huwari, suatu hari memasak makanan yang enak. Masakan itu di
beri campuran aroma yang harum. Suami Rabi’ah juga mempunyai istri yang
lain. Setelah masak dan menyantap makanan itu, Rabi’ah berkata pada
suaminya:”pergilah kamu keistri yang lain dengan tenaga yang baru”.
Rabi’ah yang satu ini memang mirip dengan rabi’ah Adawiyah yang
berdomisili di bashrah. Rabi’ah Asy Syamsiah ini setelah menunaikan shalat
‘isya ia berdandan lengkap dengan busananya. Setelah itu baru mendekati
tempat tidur suaminya. Ia tawarkan pada suaminya, ”Apakah malam ini kamu
membutuhkan kehadiranku atau tidak”. Jika suaminya sedang berhasrat
untuk menggaulinya, maka ia melayaninya hingga puas. kalau malam itu
suaminya sedang tidak berminat menggaulinya, maka ia menukar pakaian
yang ia kenakan tadi dan berganti dengan pakaian lain yang di gunakan untuk
beribadah. malam itu ia tenggelam di tempat shalatnya hingga subuh.
Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah bersuamikan Ahmad bin Abu huwar itu
memang dikehendaki Rabi’ah sendiri. Ia pula yang pertama-tama melamar
syeikh Ahmad supaya berkenan memperistri dirinya.
Ceritanya demikian, Rabi’ah binti Ismail itu semula mempunyai suami yang
kaya. Setelah kematiannyaIa memperoleh harta waris yang sangat besar. Ia
kesulitan menafkahkan harta itu, Mengingat ia seorang perempuan yang
terbata gerakannya. maka ia bermaksud melamar syeikh Ahmad, dengan
tujuan agar dapat menasarufkan (menghibahkan) hartanya demi kepentingan
islam dan di berikan kepada orang orang yang membutuhkan. yang
deemikian itu karena Rabi’ah binti Ismail memandang syeikh Ahmad sebagai
orang yang dapat menjalankan amanat, sedang Rabi’ah sendiri seorang yang
adil.
Ketika mendapat lamaran dari Rabi’ah syeikh Ahmad berkat :”Demi Allah,
sesungguhnya aku tidak berminat lagi untuk menikah. Sebab aku ingin
berkonsentrasi untuk beribadah”.
Rabi’ah menjawab :”Syeikh Ahmad, sesungguhnnya kosentrasiku dalam
beribadah adalah lebih tinggi dari pada kamu. Aku sendiri sudah memutuskan
untuk tidak menikah lagi. tetapi tujuanku menikah kali ini tidak lain adalah
agar dapat menasarufkan harta kekayaan yang kumiliki kepada saudarasaudara
yang muslim, Dan untuk kepentingan islam sendiri. Akupun mengerti
bahwa engkau itu orang yang shalih, tapi justru dengan begitu aku akan
memperoleh keridhoan dari Allah S.W.T”.
Syeikh Ahmad berkata :”Baiklah, tapi aku minta waktu, Aku hendak meminta
izin dari Guruku”. Lalu syeikh Ahmad mengahadap gurunya, yakni Syeikh Abu
Sulaiman AD Darani. Sebab gurunya itu dulu pernah melarang dirinya untuk
menikah lagi. Katanya:”Setiap orang yang menikah, sedikit atau banyak pasti
akan terjadi perobahan atas dirinya”.
Tetapi setelah Abu Sulaiman mendapat penjelasan dari muridnya mengenai
rencana Rabi’ah, ia berkata:”kalau begitu Nikahilah Ia. Karena perempuan itu
seorang wali”.
Kisah kisah yang serupa seperti kisah Rabi’ah Adawiyah itu sesunggguhnya
cukup banyak. lazimnya terjadi pada masa lalu, tetapi untuk masa sekarang,
hampir tidak pernah di jumpai, adanya seorang wanita yang bertingkah baik
seperti mereka.

PENGANTAR PERKAWINAN

Tema pernikahan atau membentuk rumah tangga islami adalah masalah yang
selalu hangat dibicarakan dan bahkan harus dibicarakan! Tentunya jangan
hanya dibicarakan dan difikirkan tapi di laksanakan .... InsyaAllah.
Dalam Islam pernikahan itu mempunyai nilai yang sangat suci, agung dan
sakral. Ijab kabul sebagai transaksi pernikahan merupakan ucapan yang
ringan dilafalkan tapi berat sekali tanggung jawabnya. Allah sendiri menyebut
ijab kabul itu sebagai ikatan yang kuat/kokoh (Mitsaqon Gholizho).
"Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu
telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka
(isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat." (QS. 4:21).
Dalam AlQur an Allah hanya dua kali menggunakan istilah perjanjian yang
kuat ini, pertama untuk pernikahan dan kedua untuk perjanjian dengan bani
Israil (di masa Nabi Musa As): "Dan telah kami angkat ke atas (kepala)
mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil
dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka: "Masukilah pintu
gerbang itu sambil bersujud", dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka:
"Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami telah
mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh." (QS. 4:154).
Setelah Ijab Kabul terucapkan, maka konsekwensinya:
1. Halal lah apa yang tadinya haram. Jangankan berpegang-pegangan, saling
pandang-pandangan saja sebelum menikah antara 2 jenis kelamin dilarang
oleh Islam. Tapi setelah ijab kabul, maka lenyaplah tabir tsb.
"Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka
datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu
kehendaki.
Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada
Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah
kabar gembira orang-orang yang beriman." (QS. 2:223)
2. Terjadilah pemindahan tanggung jawab seorang wanita dari orang tua/wali
ke suaminya. Sebelum menikah segala tanggung jawab seorang anak
terletak di pundak Ayahnya, setelah menikah maka kewajiban tsb
berpindah ke suami.
Suami harus memenuhi segala kebutuhan lahir bathin istri. Suami yang
akan di minta pertanggung jawabannya di akhirat kelak bagaimana ia
mendidik istri dan anak-anaknya. Seperti Hadist yang diriwayatkan oleh
Hakim: Manusia yang paling besar tanggung jawabnya kepada wanita ialah
suaminya.
3. Keihlasan seorang wanita dipimpin oleh suami dan taat pada suami.
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang
lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian
dari harta mereka. Sebab itu maka Wanita yang saleh, ialah yang ta'at
kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena
Allah telah memelihara (mereka).
Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah
mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta'atimu, maka
janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." [QS An-Nisa' 4:34]
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi S.A.W beliau bersabda, seandainya aku boleh
menyuruh orang untuk bersujud kepada seseorang, niscaya aku menyuruh
seorang istri bersujud kepada suaminya. (HR Turmudzi). Dari Ummu Salamah
ra. Berkata, Roaulullah bersabda: setiap istri yang meninggal dunia
sedangkan suaminya meredhoinya, niscaya ia masuk surga (HR Turmudzi)
Pernikahan dalam rangka membentuk rumah tangga yang islami merupakan
basis penting dalam perjalanan pembangunan ummat. Rumah tanga
merupakan organisasi terkecil yang bisa menjadi gambaran mikrokondisi
sebuah masyarakat.Ia juga merupakan pijakan kedua setelah pembinaan
individu muslim, dan wadah praktis untuk pengamalan-pengalaman syariat
Islam secara berkelompok dan terorganisasi.
Fungsi-fungsi dalam rumah tangga yang teratur dan terstruktur rapi disertai
semangat amanah dan tanggung jawab masing-masing anggotanya akan
menciptakan kondisi yang tentram dan di ridhai Allah S.W.T. Jika suami
sebagai qawwam (pemimpin) dan istri sebagai ribatul bait (pengatur ) rumah
tangga menyadari amanat tsb akan dipertanggung jawabkan di akhirat, maka
kecermelangan rumah tangga yang samara (sakinah, mawaddah, rahmah)
menjadi niscaya adanya..
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih
(mawaddah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. 30:21)
Mawaddah dalam ayat diatas lebih berkonotasi ke fisik, tidak hanya masalah
kecantikan istri, ketampanan suami, kemolekan tubuh, tapi juga menyangkut
tingkat sosial, ekonomi, pendidikan dan peradaban. Karena Islam juga
memandang faktor ke-sekufu-an (selevel) merupakan salah satu faktor
kebahagiaan rumah tangga.
Semakin jauh perbedaan latar belakang kesekufuan ini akan sering terjadi
culture schok yang dapat menimbulkan perselisihan/percekcokan. Tapi bukan
berarti Islam melarang pernikahan antar si kaya dengan si miskin. Dalam
sejarah sahabat, hal ini terjadi pada kasus pernikahan sahabiyah Zainab
dengan Zaid yang Allah abadikan di dalam surat Al Ahzab (33) ayat 37.
"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah
melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat
kepadanya:"Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah", sedang
kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan
menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang
lebih berhak untuk kamu takuti.
Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya
(menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada
keberatan bagi orang mu'min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat
mereka, apabila anak-anak Angkat itu telah menyelesaikan keperluannya
daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi." [QS Al-Ahzab
33:37].
Sedangkan Rahmah pada surat Ar Rum 21 diatas, adalah faktor kasih sayang
yang bersifat batiniyah, menyangkut kepahaman terhadap Dien (agama),
keimanan, akhlak, selera dan ideologi. Dan faktor-faktor ini sangat penting.
Pilihlah yang utama berdasarkan Diennya. Seperti hadist yang telah ita sering
dengar: Wanita itu dinikahi karena 4 perkara: karena hartanya, keturunannya,
kecantikannya dan Dien nya. Maka dapatkan lah wanita yang memiliki Dien
(H.R Bukhari).
Bagaimana kita "menilai" calon pasangan agar bisa diketahui apakah pas
secara mawaddah dan cocok secara rahmah? .... ini yang penting yak ... :)
Saat ini masih banyak muslim melakukan taaruf (perkenalan) dalam rangka
penilaian calon pasangannya itu dengan cara budaya yang non-Islami:
BERPACARAN. Mungkin dengan pacaran akan diperoleh data-data yang
diperlukan, tapi karena ini bukan dari Islam, maka harus dihindari, dan
biasanya dalam masa berpacaran tsb, yang ditampilkan oleh masing-masing
adalah sifat ya ng baik-baiknya saja. Banyak kejadian (apalagi di Jerman) dua
orang yang telah bertahun-tahun berpacaran, tapi setelah menikah beberapa
saat kemudian bercerai dengan alasan tidak cocok.. Jadi bagaimana yang
islami? ...... hmmmmm ..... ;)
Allah telah memberikan solusinya, dalam surat Annur ayat 32 "Dan
nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang
yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika
mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan
Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. 24:32).
Ayat ini dikhususkan oleh orang-orang yang telah menikah. Nikahkanlah
.....berarti disini Allah sedang berbicara kepada orang-orang yang telah
menikah.
Dan mereka ini merupakan mediator untuk menciptakan media taaruf yang
islami. Di masa tempo doeloe, antar orang tua telah saling menpersiapkan diri
untuk saling menjodohkan anak-anaknya. Pada jaman sekarang cara tsb
akan dianggap kolot, feodal dan menghalangi kebebasan.
Sebenarnya ketidak cocokan ini karena adanya kesenjangan pemahaman,
bila pihak orang tua maupun anak ada keterbukaan, dan anak didik oleh
orang tua dengan nilai-nilai Islam sejak awal, maka anak akan percaya penuh
terhadap pilihan orang tua. Selain orang tua, guru ngaji atau teman yang
dapat dipercaya yang berakhlak baik dan sudah menikah dapat sebagai
mediator.
Walaupun begitu Allah telah membuat katub pengaman sebagai tolok
ukurnya "Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik,
an laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula),
dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki
yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang di
tuduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka
ampunan dan rezki yang mulia (yaitu surga)." (QS. 24:26)
Dalam ayat diatas Allah telah memilihkan wanita-wanita yang baik untuk lakilaki
yang baik, oleh sebab itu bagi yang ingin cepat menikah, maka harus
meningkatkan terus nilai keimanannya agar mendapatkan sesuai dengan
kualitas dirinya. Itu janji Allah. Sekian dulu dari salah, kalau ada salah kata
saya mohon ampun kepada Allah dan minta maaf pada rekan semua.

DEMONTRASI

Latar Belakang Mas’alah :
Seringkali terjadi tuntutan masyarakat / karyawan pabrik tentang hak hak mereka dengan berbagai cara. Termasuk mengadakan unjuk rasa / demonstrasi dengan mogok makan. Dan mereka yakin bahwa unjuk rasa adalah satu satunya jalan untuk bisa terpenuhinya tuntutan mereka.
Pertanyaan :
a. Bagaimana hukum unjuk rasa / demonstrasi dengan cara tersebut di atas ?
b. Bagaimana sikap pihak yang dituntut apabila mengetahui bahwa si pengunjuk rasa tidak akan berhenti mogok makan bila tuntutannya tidak terpenuhi ?


Pon. Pes. Langitan Langitan Widang Tuban

Rumusan Jawaban :

a. Unjuk rasa (upaya melahirkan rasa kekecewaan serta tuntutan hak) apabila hak tersebut dibenarkan syara’. Dan dengan cara yang juga dibenarkan syara’, hukumnya boleh dan bahkan bisa wajib. Adapun unjuk rasa dengan cara mogok makan itu diperbolehkan selama tidak sampai pada batas dloror. Baik yang muhaqqoq atau yang madznun.

b. Bagi pihak yang dituntut wajib memenuhi tuntutan tersebut apabila yang dituntut dibenarkan oleh syara’. Seperti kesepakatan antara pihak manager dan karyawan bahwa upah yang diterima sebesar Rp. 10.000,- secara kontan. Sedangkan pelaksanaannya tidak sesuai perjanjian.

Referensi :
1. Is’adurrofiq juz II hal. 139 – 140 (Daru Ihya’il Kutub Al Arobiyah)
2. Ihya’ Ulumuddin juz II hal. 315 – 316 (Daru Ihy’il Kutub Al Arobiyah)
3. Al Majalisus Saniyah hal. 99
4. Tafsir Al Qur’anil Adzim lil Imam Ibnu Katsir juz I hal. 229(Thoha Putra)
5. Mafrohul Qulubil Mahzun hal. 63

1. إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص : 139-140 (دار إحياء الكتب العربية)
(و) منها (الوصال فى الصوم) ولو نفلا للنهى عنه وفسره فى المجموع نقلا عن الجمهور بأن يصوم يومين فأكثر من غير تناول مطعوم عمدا بلا عذر وتعبيره بمطعوم للغالب فالجماع يمنعه وليست العلة الضعف فقط وإلا لم تزل الحرمة بتناول قطرة ماء ليلا بل مع مراعاة أن ذلك من خصوصياته عليه الصلاة والسلام ففطم الناس عنه ولذا لو ترك غير الصائم الأكل يومين فأكثر عمدا لم يحرم والتعبير بصوم يومين للغالب إذ المأمور بالإمساك كتارك النية مع عدم تعاطيه المفطر ليلا وصال محرم لإجراء أحكام الصائم عليه ألا ترى أن الصائم لو أكل ولو كثيرا ناسيا حرم عليه الوصال قال الرويانى: ولو فعل الوصال لا على قصد التقرب به لم يأثم كما فى الفتح وأصله
2. إحياء علوم الدين الجزء الثانى ص : 315 - 316 (دار إحياء الكتب العربية)
فإن قيل: فما معنى قوله تعالى "ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة ؟ قلنا لا خلاف فى أن المسلم الواحد له أن يهجم على صف الكفار ويقاتل وإن علم أنه يقتل وهذا ربما يظن أنه مخالف لموجب الآية وليس كذلك فقد قال ابن عباس  ليس التهلكة ذلك بل ترك النفقة فى طاعة الله تعالى أى من لم يفعل ذلك فقد أهلك نفسه وقال البراء بن عازب التهلكة هو أن يذنب الذنب ثم يقول لا يتاب علىّ وقال أبو عبيدة هو أن يذنب ثم لا يعمل بعده خيرا حتى يهلك وإذا جاز أن يقاتل الكفار حتى يقتل جاز أيضا له ذلك فى الحسبة ولكن لو علم أنه لا نكاية لهجومه على الكفار كالأعمى يطرح نفسه على الصف أو العاجز فذلك حرام وداخل تحت عموم آية التهلكة وإنما جاز له الإقدام إذا علم أنه يقاتل إلى أن يقتل أو علم أنه يكسر قلوب الكفار بمشاهدتهم جراءته واعتقادهم فى سائر المسلمين قلة المبالاة وحبهم للشهادة فى سبيل الله فتنكسر بذلك شوكتهم فكذلك يجوز للمحتسب بل يستحب أن يعرض نفسه للضرب والقتل إذا كان لحسبته تأثير فى رفع المنكر أو فى كسر جاه الفاسق أو فى تقوية قلوب أهل الدين وأما إن رأى فاسقا متغلبا وعنده سيف وبيده قدح وعلم أنه لو أنكر عليه لشرب القدح وضرب رقبته فهذا مما لا أرى للحسبة فيه وجها وهو عين الهلاك فإن المطلوب أن يؤثر فى الدين أثرا ويفديه بنفسه فأما تعريض النفس للهلاك من غير أثر فلا وجه له بل ينبغى أن يكون حراماوإنما يستحب له الإنكار إذا قدر على إبطال المنكر أو ظهر لفعله فائدة ذلك بشرط أن يقتصر المكروه عليه فإن علم أنه يضرب معه غيره من أصحابه أو أقاربه أو رفقائه فلا تجوز له الحسبة بل تحرم لأنه عجز عن دفع المنكر إلا بأن يفضى ذلك إلى منكر آخر وليس ذلك من القدرة فى شىء بل لو علم أنه لو احتسب لبطل ذلك المنكر ولكن كان ذلك سببا لمنكر آخر يتعاطاه غير المحتسب عليه فلا يحل له الإنكار على الأظهر لأن المقصود عدم مناكير الشرع مطلقا لا من زيد أو عمرو
3. المجالس السنية ص : 99
ولنذكر جملة من أنواع الظلم والضرر ليكون الشخص منها على حذر من ذلك المكس وأكل مال اليتيم والمماطلة بحق عليه مع قدرته على وفائه -إلى أن قال- ومن الظلم والضرر أيضا عدم إيفاء الأجير حقه
4. تفسير القرآن العظيم للإمام ابن كثير الجزء الأول ص : 229 (طه فوترا سماراغ)
وقال أبو بكر بن عياش عن أبى إسحاق السبيعى قال قال رجل للبراء بن عازب إن حملت على العدو وحدى فقتلونى أكنت ألقيت بيدى إلى التهلكة قال لا قال الله لرسوله (فقاتلوا فى سبيل الله لا تكلف إلا نفسك) وإنما هذه فى النفقة رواه ابن مردويه وأخرجه الحاكم فى مستدركه من حديث إسرائيل عن أبى إسحاق به وقال صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه ورواه الترمذى وقيس بن الربيع عن أبى إسحاق عن البراء فذكره وقال بعد (قوله لا تكلف إلا نفسك) ولكن التهلكة أن يذنب الرجل الذنب فيلقى بيده إلى التهلكة ولا يتوب وقال ابن أبى حاتم حدثنا أبى حدثنا أبو صالح كاتب الليث حدثنى الليث حدثنا عبد الرحمن بن خالد بن مسافر عن ابن شهاب عن أبى بكر بن عبد الرحمن بن الحارث بن هشام أن عبد الرحمن والأسود بن عبد يغوث أخبراه أنهم حاصروا دمشق فانطلق رجل من أزد شنوءة فأسرع إلى العدو وحده ليستقبل فعاب ذلك عليه المسلمون ورفعوا حديثه إلى عمرو بن العاص فأرسل إليه عمرو فرده وقال عمرو قال الله (ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة) وقال عطاء بن السائب عن سعيد بن جبير عن ابن عباس فى قوله تعالى (وأنفقوا فى سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة) قال ليس ذلك فى القتال إنما هو فى النفقة أن تمسك بيدك عن النفقة فى سبيل الله ولا تلقى بيدك إلى التهلكة وقال حماد بن سلمة عن داود عن الشعبى عن الضحاك بن أبى جبير قال كانت الأنصار يتصدقون وينفقون من أموالهم فأصابتهم سنة فأمسكوا عن النفقة فى سبيل الله فنزلت ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وقال الحسن البصرى ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة قال هو البخل وقال سماك بن حرب عن النعمان بن بشير فى قوله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة أن يذنب الرجل الذنب فيقول لا يغفر لى فأنزل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وأحسنوا إن الله يحب المحسنين رواه ابن مردويه وقال ابن أبى حاتم وروى عن عبيدة السلمانى والحسن وابن سيرين وأبى قلابة نحو ذلك يعنى نحو قول النعمان بن بشير أنها فى الرجل يذنب الذنب فيعتقد أنه لا يغفر له فيلقى بيده إلى التهلكة أى يستكثر من الذنوب فيهلك ولهذا روى على بن أبى طلحة عن ابن عباس التهلكة عذاب الله وقال ابن أبى حاتم وابن جرير جميعا حدثنا يونس حدثنا أبن وهب أخبرنى أبو صخر عن القرظى محمد بن كعب أنه كان يقول فى هذه الآية ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة قال كان القوم فى سبيل الله قيتزود الرجل فكان أفضل زادا من الآخر أنفق البائس من زاده حتى لا يبقى من زاده شىء أحب أن يواسى صاحبه فأنزل الله وأنفقوا فى سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وقال ابن وهب أيضا أخبرنى عبد الله بن عياش عن زيد ابن أسلم فى قول الله وأنفقوا فى سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وذلك أن رجالا كانوا يخرجون فى بعوث يبعثها رسول الله  بغير نفقة فإما أن يقطع بهم وإما كانوا عيالا فأمرهم الله أن يستنفقوا مما رزقهم الله ولا يلقوا بأيديهم إلى التهلكة والتهلكة أن يهلك رجال من الجوع والعطش أو من المشى وقال لمن بيده فضل وأحسنوا إن الله يحب المحسنين ومضمون الآية الأمر بالإنفاق فى سبيل الله فى سائر وجوه القربات ووجوه الطاعات وخاصة صرف الأموال فى قتال الأعداء وبذلها فيما يقوى به المسلمون على عدوهم والإخبار عن ترك فعل ذلك بأنه هلاك ودمار لمن لزمه واعتاده ثم عطف بالأمر بالإحسان وهو أعلى مقامات الطاعة فقال وأحسنوا إن الله يحب المحسنين
5. مفرح القلوب المحزون ص : 63
وقال رسول الله  أكبر الكبائر عند الله قتل النفس التى حرم الله قتلها بغير حق ولا يحل تعذيب النفس

SILAHAN SHARE
2. Latar Belakang Mas’alah :
Seringkali terjadi tuntutan masyarakat / karyawan pabrik tentang hak hak mereka dengan berbagai cara. Termasuk mengadakan unjuk rasa / demonstrasi dengan mogok makan. Dan mereka yakin bahwa unjuk rasa adalah satu satunya jalan untuk bisa terpenuhinya tuntutan mereka.
Pertanyaan :
a. Bagaimana hukum unjuk rasa / demonstrasi dengan cara tersebut di atas ?
b. Bagaimana sikap pihak yang dituntut apabila mengetahui bahwa si pengunjuk rasa tidak akan berhenti mogok makan bila tuntutannya tidak terpenuhi ?
Pon. Pes. Langitan Langitan Widang Tuban
Rumusan Jawaban :
a. Unjuk rasa (upaya melahirkan rasa kekecewaan serta tuntutan hak) apabila hak tersebut dibenarkan syara’. Dan dengan cara yang juga dibenarkan syara’, hukumnya boleh dan bahkan bisa wajib. Adapun unjuk rasa dengan cara mogok makan itu diperbolehkan selama tidak sampai pada batas dloror. Baik yang muhaqqoq atau yang madznun.
b. Bagi pihak yang dituntut wajib memenuhi tuntutan tersebut apabila yang dituntut dibenarkan oleh syara’. Seperti kesepakatan antara pihak manager dan karyawan bahwa upah yang diterima sebesar Rp. 10.000,- secara kontan. Sedangkan pelaksanaannya tidak sesuai perjanjian.
Referensi :
1. Is’adurrofiq juz II hal. 139 – 140 (Daru Ihya’il Kutub Al Arobiyah)
2. Ihya’ Ulumuddin juz II hal. 315 – 316 (Daru Ihy’il Kutub Al Arobiyah)
3. Al Majalisus Saniyah hal. 99
4. Tafsir Al Qur’anil Adzim lil Imam Ibnu Katsir juz I hal. 229(Thoha Putra)
5. Mafrohul Qulubil Mahzun hal. 63
1. إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص : 139-140 (دار إحياء الكتب العربية)
(و) منها (الوصال فى الصوم) ولو نفلا للنهى عنه وفسره فى المجموع نقلا عن الجمهور بأن يصوم يومين فأكثر من غير تناول مطعوم عمدا بلا عذر وتعبيره بمطعوم للغالب فالجماع يمنعه وليست العلة الضعف فقط وإلا لم تزل الحرمة بتناول قطرة ماء ليلا بل مع مراعاة أن ذلك من خصوصياته عليه الصلاة والسلام ففطم الناس عنه ولذا لو ترك غير الصائم الأكل يومين فأكثر عمدا لم يحرم والتعبير بصوم يومين للغالب إذ المأمور بالإمساك كتارك النية مع عدم تعاطيه المفطر ليلا وصال محرم لإجراء أحكام الصائم عليه ألا ترى أن الصائم لو أكل ولو كثيرا ناسيا حرم عليه الوصال قال الرويانى: ولو فعل الوصال لا على قصد التقرب به لم يأثم كما فى الفتح وأصله
2. إحياء علوم الدين الجزء الثانى ص : 315 - 316 (دار إحياء الكتب العربية)
فإن قيل: فما معنى قوله تعالى "ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة ؟ قلنا لا خلاف فى أن المسلم الواحد له أن يهجم على صف الكفار ويقاتل وإن علم أنه يقتل وهذا ربما يظن أنه مخالف لموجب الآية وليس كذلك فقد قال ابن عباس  ليس التهلكة ذلك بل ترك النفقة فى طاعة الله تعالى أى من لم يفعل ذلك فقد أهلك نفسه وقال البراء بن عازب التهلكة هو أن يذنب الذنب ثم يقول لا يتاب علىّ وقال أبو عبيدة هو أن يذنب ثم لا يعمل بعده خيرا حتى يهلك وإذا جاز أن يقاتل الكفار حتى يقتل جاز أيضا له ذلك فى الحسبة ولكن لو علم أنه لا نكاية لهجومه على الكفار كالأعمى يطرح نفسه على الصف أو العاجز فذلك حرام وداخل تحت عموم آية التهلكة وإنما جاز له الإقدام إذا علم أنه يقاتل إلى أن يقتل أو علم أنه يكسر قلوب الكفار بمشاهدتهم جراءته واعتقادهم فى سائر المسلمين قلة المبالاة وحبهم للشهادة فى سبيل الله فتنكسر بذلك شوكتهم فكذلك يجوز للمحتسب بل يستحب أن يعرض نفسه للضرب والقتل إذا كان لحسبته تأثير فى رفع المنكر أو فى كسر جاه الفاسق أو فى تقوية قلوب أهل الدين وأما إن رأى فاسقا متغلبا وعنده سيف وبيده قدح وعلم أنه لو أنكر عليه لشرب القدح وضرب رقبته فهذا مما لا أرى للحسبة فيه وجها وهو عين الهلاك فإن المطلوب أن يؤثر فى الدين أثرا ويفديه بنفسه فأما تعريض النفس للهلاك من غير أثر فلا وجه له بل ينبغى أن يكون حراماوإنما يستحب له الإنكار إذا قدر على إبطال المنكر أو ظهر لفعله فائدة ذلك بشرط أن يقتصر المكروه عليه فإن علم أنه يضرب معه غيره من أصحابه أو أقاربه أو رفقائه فلا تجوز له الحسبة بل تحرم لأنه عجز عن دفع المنكر إلا بأن يفضى ذلك إلى منكر آخر وليس ذلك من القدرة فى شىء بل لو علم أنه لو احتسب لبطل ذلك المنكر ولكن كان ذلك سببا لمنكر آخر يتعاطاه غير المحتسب عليه فلا يحل له الإنكار على الأظهر لأن المقصود عدم مناكير الشرع مطلقا لا من زيد أو عمرو
3. المجالس السنية ص : 99
ولنذكر جملة من أنواع الظلم والضرر ليكون الشخص منها على حذر من ذلك المكس وأكل مال اليتيم والمماطلة بحق عليه مع قدرته على وفائه -إلى أن قال- ومن الظلم والضرر أيضا عدم إيفاء الأجير حقه
4. تفسير القرآن العظيم للإمام ابن كثير الجزء الأول ص : 229 (طه فوترا سماراغ)
وقال أبو بكر بن عياش عن أبى إسحاق السبيعى قال قال رجل للبراء بن عازب إن حملت على العدو وحدى فقتلونى أكنت ألقيت بيدى إلى التهلكة قال لا قال الله لرسوله (فقاتلوا فى سبيل الله لا تكلف إلا نفسك) وإنما هذه فى النفقة رواه ابن مردويه وأخرجه الحاكم فى مستدركه من حديث إسرائيل عن أبى إسحاق به وقال صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه ورواه الترمذى وقيس بن الربيع عن أبى إسحاق عن البراء فذكره وقال بعد (قوله لا تكلف إلا نفسك) ولكن التهلكة أن يذنب الرجل الذنب فيلقى بيده إلى التهلكة ولا يتوب وقال ابن أبى حاتم حدثنا أبى حدثنا أبو صالح كاتب الليث حدثنى الليث حدثنا عبد الرحمن بن خالد بن مسافر عن ابن شهاب عن أبى بكر بن عبد الرحمن بن الحارث بن هشام أن عبد الرحمن والأسود بن عبد يغوث أخبراه أنهم حاصروا دمشق فانطلق رجل من أزد شنوءة فأسرع إلى العدو وحده ليستقبل فعاب ذلك عليه المسلمون ورفعوا حديثه إلى عمرو بن العاص فأرسل إليه عمرو فرده وقال عمرو قال الله (ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة) وقال عطاء بن السائب عن سعيد بن جبير عن ابن عباس فى قوله تعالى (وأنفقوا فى سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة) قال ليس ذلك فى القتال إنما هو فى النفقة أن تمسك بيدك عن النفقة فى سبيل الله ولا تلقى بيدك إلى التهلكة وقال حماد بن سلمة عن داود عن الشعبى عن الضحاك بن أبى جبير قال كانت الأنصار يتصدقون وينفقون من أموالهم فأصابتهم سنة فأمسكوا عن النفقة فى سبيل الله فنزلت ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وقال الحسن البصرى ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة قال هو البخل وقال سماك بن حرب عن النعمان بن بشير فى قوله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة أن يذنب الرجل الذنب فيقول لا يغفر لى فأنزل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وأحسنوا إن الله يحب المحسنين رواه ابن مردويه وقال ابن أبى حاتم وروى عن عبيدة السلمانى والحسن وابن سيرين وأبى قلابة نحو ذلك يعنى نحو قول النعمان بن بشير أنها فى الرجل يذنب الذنب فيعتقد أنه لا يغفر له فيلقى بيده إلى التهلكة أى يستكثر من الذنوب فيهلك ولهذا روى على بن أبى طلحة عن ابن عباس التهلكة عذاب الله وقال ابن أبى حاتم وابن جرير جميعا حدثنا يونس حدثنا أبن وهب أخبرنى أبو صخر عن القرظى محمد بن كعب أنه كان يقول فى هذه الآية ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة قال كان القوم فى سبيل الله قيتزود الرجل فكان أفضل زادا من الآخر أنفق البائس من زاده حتى لا يبقى من زاده شىء أحب أن يواسى صاحبه فأنزل الله وأنفقوا فى سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وقال ابن وهب أيضا أخبرنى عبد الله بن عياش عن زيد ابن أسلم فى قول الله وأنفقوا فى سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وذلك أن رجالا كانوا يخرجون فى بعوث يبعثها رسول الله  بغير نفقة فإما أن يقطع بهم وإما كانوا عيالا فأمرهم الله أن يستنفقوا مما رزقهم الله ولا يلقوا بأيديهم إلى التهلكة والتهلكة أن يهلك رجال من الجوع والعطش أو من المشى وقال لمن بيده فضل وأحسنوا إن الله يحب المحسنين ومضمون الآية الأمر بالإنفاق فى سبيل الله فى سائر وجوه القربات ووجوه الطاعات وخاصة صرف الأموال فى قتال الأعداء وبذلها فيما يقوى به المسلمون على عدوهم والإخبار عن ترك فعل ذلك بأنه هلاك ودمار لمن لزمه واعتاده ثم عطف بالأمر بالإحسان وهو أعلى مقامات الطاعة فقال وأحسنوا إن الله يحب المحسنين
5. مفرح القلوب المحزون ص : 63
وقال رسول الله  أكبر الكبائر عند الله قتل النفس التى حرم الله قتلها بغير حق ولا يحل تعذيب النفس

ILUSTRASI MENEJEMEN WAKTU

Walaupun ilustrasi tapi ambillah apa yang terkandung di dalamnya..
selamat membaca waha sahabatku...


Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.

Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"

Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"

Kemudian dia berkata, "Benarkah?"

Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.

"Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang- ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswanya menjawab sekali lagi dia berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"

"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :

JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu.

Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.

Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".

semoga ada manfaatnya dan bisa mengaplikasikannya....

salam