Jumat, 12 Oktober 2018

TIRAKAT MENJADI MAHAR ILMU YANG TAK TERPISAHKAN

Kata tirakat adalah penjawaan dari kata arab  "thariqoh" yang bermakna, jalan yang dilalui. Bahasa Indonesia kemudian menyerap kata ini menjadi tirakatan.

Dalam istilah lain, tirakat ialah riyadhoh. Riyadhoh menurut imam Ghozali dalam ihya' 'ulumiddin menuturkan :
الرياضة تكلف الأفعال الصادرة عن النفس إبتداء لتصير طبعا إنتهاء
riyadhoh ialah membudayakan kebiasaan yang sulit di terima oleh nafsu agar menjadi karakter (WATAK).
Penjelasan riyadhoh yang di sampaikan oleh Imam Ghozali menjadi acuan untuk seseorang dalam menjalani laku salik (mengambah jalan menuju Alloh). Jalan itu terkadang susah, mudah, terkadanf berliku, lurus, terkadang terjal, datar, terkadang mencuram, terkadang galau, bahagia.
Ibarat kata, orang yang ingin menikmati sunrise tak bisa hanya bayangan atau melihat gambar saja. Mereka harus bersusah payah mendaki gunung, mereka harus menikmati jalan setapak yang berliku, batu yang terjal, semak berlukar, sungai yang dalam, binatang buas yang kapan pun tak bisa di duga kedatangannya.
Begitupun dengan si salik (pelaku tirakat), mereka harus berproses melawan hawa nafsu sendiri, menyingkirkan kesenangan duniawi, meninggalkan ketergantungan pada selain sang Ilahi. Tirakatan dalam dunia pesantren memiliki berbagai cara dan karakter. mulai dari puasa, tidak pulang rumah, tidak tidur malam hari, berjama'ah dengan tak meninggalkan takbiratul ihramnya imam, doa-do'a, dan lain-lain.
Puasa pun memiliki banyak kategori, dari puasa biasa hingga puasa kelas dewa(hehe). ada puasa senin kemis, puasa hari weton (kelahiran), puasa hari putih (13, 14, 15), puasa dawud. ada juga puasa yang meninggalkan jenis makanan, yakni puasa ngrowot (makan jagung), puasa mutih (hanya makan nasi putih dan minum air putih saja), puasa tarku ruh (meninggalkan jenis makanan yang berasal dari hayawan). Ada juga puasa kelas super dewa, karena puasa ini sulit dan jarang di lakukan yakni puasa banyu dan puasa kunir.
Tirakat puasa menjadi dasar bagi para santri pelaku tirakat dalam menjalani kehidupan tholabul ilmi di pesantren. Karena puasa ialah ibadah yang melawan hawa nafsu sekaligus ibadah yang menyehatkan sebagaimana sabda Nabi saw :
صوموا تصحوا
berpuasalah kalian semua, maka kaluan akan menjadi sehat.
Yang menjadi tujuan utama bagi santri pekalu riyadhoh ialah membuka pintu dan ketajaman mata hati supaya bisa membaca dan melihat warna kehidupan yang bijak sesuai dengan tuntutan al-Quran.
،وابتغ فيما أتاك الله الدار الأخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا.
"mengejar karunia terbesar Alloh di akhirota tanpa pernah melupakan bagian di dunia".
begitulah santri, mereka fokus mengejar ilmu dengan mengurangi hal-hal yang bersifat duniawi.
Sedangkan di dunia Kwagean, tirakat menjadi mahar ilmu yang tak terpisahkan. ada banyak jenis tirakat di Kwagean, namun yang menjadi unggulan ialah puasa ngrowot, gundulan, mutih, naung (tak pulang rumah tiga tahun). selain puasa juga ada tirakatan dalam bentuk wiridan,  jama'ah, dan ro'an. Namun Romo Yai selalu menekankan bahwa "jama'ah, gelem tandang ro'an, lan wiridan dadike ilmu ne gampang manfaat lan barokah" (jama'ah, Ikut serta dalam kegiatan pondok, dan dzikiran bisa menjadikan ilmunya manfaat serta barokah).
Ket. Grambar (Tiratak cukur gundul salah seorang santri di kwagean)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda untuk menambah silaturahim.