Minggu, 02 Desember 2012

Nabi Musa dan Khidhir: Ujian Kesabaran bagi Nabi Musa

www.majalah-alkisah.com“Mengapa Tuan melubangi perahu itu, yang akibatnya bisa menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya Tuan telah berbuat suatu kesalahan yang besar.”

Di dalam Al-Quran nama “Khidhir” RA tidak disebut secara sharih (tegas dan lugas). Namun, ada ceri­tera Nabi Musa yang mendapat perintah Allah SWT untuk berguru kepada salah seorang hamba-Nya yang shalih dan di­rahmati dengan ilmu ladunni, yaitu ilmu ghaib yang secara khusus diberikan oleh Allah SWT langsung dari sisi-Nya tanpa perantara guru zhahir (dari golongan manusia).

Orang shalih yang ditemui Nabi Musa AS dan dijadikan guru tersebut menurut pendapat jumhur ulama tafsir (mufas­siriin) adalah seorang yang terkenal de­ngan julukan “Khidhir” RA. Nama panggil­annya adalah Abal Abbas, nama aslinya Balya bin Mulkan bin Faaligh bin ‘Aabir bin Syaalikh bin Arfakhsyad bin Syam bin Nuh AS. Dia adalah keturunan para raja.
Adapun sebab dari datangnya perin­tah Allah SWT kepada Nabi Musa AS un­tuk belajar kepada Khidhir adalah se­bagai berikut:
Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas dari Ubai bin Ka’ab, Rasulullah SAW bersabda: Ketika bangsa Israel sudah terbebas dari kejaran Fir’aun, Nabi Musa AS berkhutbah di depan Bani Israel, umatnya.
Isi khutbah itu sangat menyentuh kesadaran para pendengarnya, maka bercucuran air mata mereka. Hati mereka juga bergetar hebat, karena sangat terkesan.
Dalam kesempatan tersebut, datang seorang laki-laki dari Bani Israel dan bertanya kepada Nabi Musa AS, “Ya Rasulullah, adakah di muka bumi ini seorang yang lebih pandai dari Tuan?”
Nabi Musa menjawab, “Tidak ada.”
Kemudian Allah SWT memberikan teguran keras kepada Nabi Musa AS, karena ia lalai, tidak menyandarkan ilmu­nya kepada Allah SWT (tidak mengata­kan ‘Allaahu a’lam’). Allah juga memberi tahu kepada Nabi Musa AS bahwa ada seorang hamba di antara hamba hamba-Nya yang lebih pandai darinya. Dan ham­ba itu adalah Khidhir, yang tinggal di pulau kecil terletak di pertemuan dua lautan.
Mendengar bahwa ada orang yang lebih pandai dari dirinya, Nabi Musa AS berniat untuk berguru kepadanya.
Setelah mempersiapkan segala se­suatu yang diperlukan dalam perjalanan jauh, Nabi Musa AS, atas petunjuk Allah SWT, berangkat bersama seorang murid­nya yang bernama Yusya’ bin Nun. Se­bagaimana dikisahkan dalam Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 60-82:
Ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya (menurut ahli tafsir yang dimak­sud dengan murid Nabi Musa di sini ada­lah Yusya bin Nun), “Aku tidak akan ber­henti (berjalan) sebelum sampai ke per­temuan dua lautan, atau aku berjalan sam­pai bertahun-tahun”.
Maka tatkala mereka bertemu dengan pertemuan dua lautan itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut.
Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita, sesung­guhnya kita telah merasa letih dengan perjalanan kita ini.”
Muridnya menjawab, “Tahukah Tuan tatkala kita mencari tempat berlindung tadi? Maka sesungguhnya aku lupa untuk menceriterakan ihwal ikan itu. Dan tidak adalah yang melupakan aku untuk men­ceriterakannya kecuali setan. Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”
Musa berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali meng­ikuti jejak mereka semula.
“Lalu mereka bertemu dengan se­orang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepada­nya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu langsung dari sisi Kami (ilmu ladunni).” Menurut beberapa ahli tafsir, beberapa kalimat yang ada di dalam Al-Quran surah Al-Kahfi itu menunjuk kepada kisah Nabi Musa bertemu dengan Khidhir.
“Seorang hamba di antara hamba hamba Kami”, menurut ahli tafsir, yang dimaksud “hamba” di sini adalah Khidhir RA. “Yang telah Kami ajarkan kepada­nya ilmu”, maksudnya ilmu khusus, yaitu ilmu tentang yang ghaib, “langsung dari sisi Kami (ilmu ladunni).”
Musa berkata kepada Khidhir RA, “Bolehkah saya mengikuti Tuan supaya Tuan mengajarkan kepada saya ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepada Tuan?”
Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup ten­tang hal itu?”
Musa berkata, “Insya Allah, Tuan akan mendapati saya sebagai orang yang sabar. Dan saya tidak akan menentang Tuan dalam sesuatu urusan pun.”
Dia berkata, “Jika kamu mengikutiku, janganlah kamu menanyakan sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerang­kannya kepadamu.”
Maka berjalanlah keduanya, hingga keduanya menaiki perahu lalu Khidhir RA melubanginya.
Musa berkata, “Mengapa Tuan melu­bangi perahu itu, yang akibatnya bisa me­nenggelamkan penumpangnya? Se­sung­guhnya Tuan telah berbuat suatu ke­salahan yang besar.”
Khidhir berkata, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu se­kali kali tidak akan sabar bersama dengan aku’?”
Musa berkata, “Janganlah Tuan meng­hukum saya karena kelupaan saya, dan janganlah Tuan membebani saya dengan kesulitan dalam urusan saya.”
Maka berjalanlah keduanya. Tatkala mereka berjumpa dengan seorang re­maja, Khidhir RA membunuhnya.
Musa berkata, “Mengapa Tuan bunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya Tuan telah melakukan sesuatu yang munkar.”
Khidhir berkata, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu se­kali-kali tidak akan sabar bersama de­nganku’?”
Musa berkata, “Jika saya bertanya kepada Tuan tentang sesuatu sesudah ini, Tuan jangan memperbolehkan saya me­nyertai Tuan, sesungguhnya Tuan su­dah cukup  memberikan ‘udzur (tole­ransi) kepada saya.”
Maka keduanya berjalan, hingga sam­pai kepada penduduk suatu negeri. Mereka minta dijamu kepada pen­duduk negeri itu. Tapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian kedua­nya mendapatkan din­ding rumah yang hampir roboh. Maka Khidhir menegakkan (memperbaiki) dinding itu.
Musa berkata, “Jikalau Tuan mau, niscaya Tuan mengambil upah untuk itu.”
Khidhir berkata, “Inilah perpisahan kita. Aku akan mem­beri­tahukan kepada­mu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak sabar terha­dapnya.
Adapun bahtera atau kapal itu kepu­nyaan orang orang miskin yang bekerja di laut. Dan aku merusak bahtera itu (dengan tujuan menyelamatkan), karena di depan mereka ada seorang raja yang selalu merampas tiap-tiap bahtera.
Tentang anak muda itu, kedua orang­tuanya adalah orang mukmin. Dan kami khawatir dia akan mendorong mereka pada kesesatan dan kekafiran.
Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih kasih sayang­nya (kepada ibu-bapaknya).
Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua. Sedang­kan ayahnya adalah seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar me­reka sampai kepada kedewasaan dan mengeluarkan simpanan itu. Sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan bukanlah aku melakukan semua itu atas kemauanku sen­diri. Demikian itu adalah tujuan per­buatan-perbuatan yang kamu tidak sabar terhadapnya.”
Keterangan Ahli Tafsir
Dalam kitab Tafsir Al-Jalalain, karya Al ‘Allamah Jalaluddin bin Ahmad Al-Mahalli dan diteruskan oleh muridnya, Al-’Allamah Jalaluddin bin Abi Bakar As-Suyuthi, ditulis sebagai berikut:
Ayat yang berkenaan langsung de­ngan status Khidhir apakah ia nabi atau wali adalah surah Al-Kahfi ayat 65, de­ngan penafsiran sebagai berikut: “Lalu me­reka berdua (Nabi Musa AS dan mu­ridnya) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami (menurut ahli tafsir yang dimaksud hamba di sini adalah Khidhir RA), dan telah Kami beri­kan kepadanya rahmat dari sisi kami (mak­sudnya derajat kenabian).” Itu me­nurut pendapat sebagian ulama. Tapi ulama yang setuju dengan pendapat kedua, yakni Khidhir RA sebagai wali, lebih banyak.
Dalam kitab Badai’uz Zuhur fi Wa­qaai’id Duhur diceriterakan, Khidhir lahir di sebuah gua. Ketika ia masih bayi, ibun­danya memberinya susu kambing segar setiap hari. Kemudian dia diadopsi oleh seorang penggembala dan mendapat didikan darinya hingga dewasa.
Dia memang seorang anak yang cer­das dan terampil, terutama dalam bidang baca tulis. Sehingga dia bisa mendalami Shuhuf, kitab Allah yang diturunkan ke­pada Nabi Ibrahim Al-Khalil AS.
Mengenai nama, aslinya ia bernama Balya bin Mulkan, sedangkan nama pang­gilannya adalah Abul Abbas. Gelar­nya adalah “Khidhir”.
Berkenaan dengan gelar itu, juga ba­nyak versi. Menurut hadits riwayat Imam Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW ber­sabda, “Sesungguhnya dia disebut Khidhra’ (Khidhir) karena dia duduk memakai kain dari bulu unta berwarna putih, jika di­ge­rakkan keluar sinar warna hijau di bawah­nya.” (HR Ahmad). Dalam bahasa Arab, khidir bermakna “hijau”.
Sedang menurut versi Imam Bukhari, “Sesungguhnya dia disebut Khidhir karena dia duduk memakai kain dari bulu unta berwarna putih, jika digerakkan ke­luar sinar warna hijau.” (HR Bukhari).
Versi lain, menurut riwayat Abu Nashr Muhammad bin Al-Fadh Al-Khaza’i, dari Abu Bakar Muhammad bin Al-Hasan Al-Qasar, dari Ahmad bin Yusuf As-Salami, dari Muhammad bin Yusuf Al-Faryani, ia berkata, “Sufyan telah menuturkan dari Mansur, dari Mujahid, ia berkata, Dinama­kan Khidhir kerena, setiap kali ia shalat, di sekitarnya memancar warna hijau.”
Al-Khatabi mengatakan, “Ia dijuluki Khidhir karena cahaya wajahnya ber­war­na hijau.”
Sedangkan menurut Mujahid, “Ia di­juluki Khidhir karena, kalau ia shalat, tem­pat sujudnya menjadi hijau.”
Wallaahu a’lam.
Posting Komentar