Senin, 10 Januari 2011

PENDAHULUAN
Sebelum kami uraikan mengenai tasawuf modern yang ada pada zaman sekarang ini, maka lebih baiknya kami dahului beberapa kontek dasar untuk menunjang itu semua, Banyak Al-Quran yang mengisyaratkan bahwa pelaksanaan ibadah – pengalaman, fiqih – yang bersifat habl minallah baik dalam kontek kejiwaan maupun material, lebih ditempatkan sebagai simbolisme meski tetap wajib dilaksanakan. secara rinci bahwa substansi pelaksanaan ibadah yang terdiri dari iman, amal dan ikhsan adalah ketaqwaan kepada Allah SWT.
Dalam rumusan Iman. Islam dan ihksan, sebagaimana dalam sabda nabi saw,
“Dari Umar bin Al-Khathab radhiallahu 'anh, dia berkata: ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata," Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam " Rasulullah menjawab,"Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya." Orang itu berkata,"Engkau benar," kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya Orang itu berkata lagi," Beritahukan kepadaku tentang Iman" Rasulullah menjawab,"Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk" Orang tadi berkata," Engkau benar" Orang itu berkata lagi," Beritahukan kepadaku tentang Ihsan" Rasulullah menjawab,"Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu." Orang itu berkata lagi,"Beritahukan kepadaku tentang kiamat" Rasulullah menjawab," Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya." selanjutnya orang itu berkata lagi,"beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya" Rasulullah menjawab," Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan." Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?" Saya menjawab," Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui" Rasulullah berkata," Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu"
Secara teologis, manusia adalah mahkluk allah, ia adalah ciptaannya yang ditunjuk sebagai hamba dan kholifahnya di muka bumi ini. Manusia diciptakan oleh allah dari tanah liat, allah berfirman:
  •         
7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
         
71. (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah".
Di samping jasad, manusia juga mempunyai ruh. Allah berfirman:
         
29. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
LATAR BELAKANG
Karena semakin majunya peradapan masyarakat, entah dalam dunia bisnis, dunia kerja, sosial kemasyarakatan maupun kehidupan kita yang majmuk, disitu kita pasti akan menemukan kejenuhan tiada tara, kekosongan jiwa, yang tidak akan tau dari mana sumbernya, maka dengan sedikit pandangan dari kami memungkinkan kesemuanya nanti kembali kepada hasil yang diinginkan.
Dan juga gencarnya ajaran-ajaran yang memisahkan dunia dengan agama, sehingga proses interaksi sosial tidak ada batasnya, sehingga keduniawian adalah kebahagiaan yang tiadatara. Tidak itu saja kemajuan di Era ini memang banyak melupakan konsep-konsep Agama, mendewakan harta benda, memuja sang Artis, dan lain sebagainya.
Mau lari kemana mereka kalau sudah jenuh melakukan semua kegiatan didunia tanpa ada manfaat malah menjauhkan diri dari sang khaliq, adalah ketidakbebasan jikalau terus dikekang oleh hawa nafsu, mau lari kemana mereka itu?, tidak lain adalah bunuh diri, menyepi, dan melapiaskan nafsu hinanya.
Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, tidak pandang bulu, dari mana asalmu, mengajarkan semua konsep kehidupan mulai dari A – Z, tinggal kita mau mencari atau tidak.
Masyarakat modern dewasa ini tumbuh dari pengembangan kebudayaan Yunani purba yang puncaknya ajaran filsafat rasional yang menyebar ke timur tengah lantaran pengembangan dan penaklukan raja Alexander yang agung. Kebudayaan Yunani Purba memang sangat unik, karena dai sinilah muncul pemikiran filsafat yang rasional dan ilmiah, maka dalam perkembangan filsafat dan kebudayaan yunani purba ini dinamakan zaman klasik atau zaman embrio dari masyarakat modern dewasa ini. Yang mana memunculkan pemikiran-pemikiran yang rasional ilmiah.
Saya mencoba mengambil arti kutipan S. Takdir Ali Syahbana, mengenai perbedaan yng fundamental antara filsafat rasional dari barat dan filsafat kebatinan dari timur ( India, Persia, Cina, Kejawen, Tasawuf dan sebagainya). Pokok perbedaan itu antara lain :
1. Barat memandang manusia bukan alam dan berbeda dengan alam. Menurut timur manusia itu sebagai mikrokosmos (jagat cilik).
2. Budaya barat mengakui adanya hukum alam yang mekanistik yang perlu dikaji dan dimanfaatkan bagi pengembangan cara berfikir dan ilmu pengetahuan. Dan sebaliknya dalam filsafat kebatinan dan mistik timur tidak memperdulikan adanya hukum alam.
3. Filsafat barat menggerakkan manusia untuk mengkaji rahasia-rahasia hukum alam untuk memanfaatkan bagi kemajuan hidup manusia. Sedangkan filsafat timur menggerakkan kegandrungan manusia untuk menyingkap rahasia-rahasia alam ghaib yang di balik alam nyata ini.
Melihat kutipan diatas, bahwa yang punya pemikiran yang sejajar dan seirama dengan budaya barat adalah agama yahudi, Kristen dan islam. Terutama Islam Sunni (Islam Sar'i) bukannya Islam Sufi.





PENGEMBANGAN DALAM ILMU TASAWUF
Ajaran tasawuf menurut kodratnya adalah ekstrim kerohanian dan anti kritik penalaran kerohanian. Akhirnya dalam pengembangannya mampu mendominasi alam pikiran islam sejak runtuhnya bagdad dan cordova.

Tasawuf itu juga tidak berhenti pada masalah ukhrawi saja, tapi masalah sosial, budaya, dan kultur masyarakat juga menjadi segmen yang perlu dipertimbangkan, dan juga tidak lepas dari benturan-benturan politik dan sifat-sifat keduniawian.

Baiklah membicarakan Tasawuf pasti berkaitan sekali dengan yang dinamakan Thoriqoh, dan saya tidak akan memihak pada salah satu thoriqoh yang ada di Indonesia, tapi mencoba menggali dari semua yang menurut saya bagus tentang penyucian hati dalam khasanah keilmuan Agama Islam.
Dengan keterangan diatas saya mencoba menguraikan sesuatu yang terkandung dalam islam itu sendiri.
1. Keberadaan Allah
Al-Qur`an menginformasikan kepada kita tentang kebenaran sifat-sifat Allah,
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur, Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (al-Baqarah: 255)
Memahami kekuasaan Allah swt. dengan baik merupakan ikatan awal dalam rantai keimanan. Sesungguhnya, seorang mukmin akan meninggalkan pandangan masyarakat yang menyimpang tentang kekuasaan Allah swt. dan menolak keyakinan sesat dengan mengatakan, “Dan bahwasanya Orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.” (al-Jin: 4)
Kaum muslimin memercayai Allah swt. sesuai dengan penjelasan Al-Qur`an. Mereka melihat tanda-tanda keberadaan Allah pada dunia nyata dan alam gaib, kemudian mulai memercayai keagungan seni dan kekuasaan Allah.
Akan tetapi, jika umat berpaling dari Allah serta gagal bertafakur kepada Allah dan ciptaan-Nya, mereka akan mudah terpengaruh oleh keyakinan-keyakinan yang menyesatkan pada saat ditimpa kesusahan. Allah menyebutnya sebagai bahaya yang potensial, dalam surah Ali Imran: 154, mengenai umat yang menyerah dalam berperang, “... sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah....”
Seorang muslim seharusnya tidak melakukan kesalahan seperti itu. Karena itu, dia harus membebaskan hatinya dari segala sesuatu yang dapat memunculkan sangkaan jahiliah dan menerima keimanan yang nyata dengan segenap jiwa sebagaimana penjelasan dalam Al-Qur`an.
2. Taqwa kepada Allah Sesuai Kesanggupan
Bertaqwa kepada Allah adalah awal dari segalanya. Semakin tebal ketaqwaan seseorang kepada Allah, semakin tinggi kemampuannya merasakan kehadiran Allah. Al-Qur`an memberikan contoh beberapa rasul yang dapat kita bandingkan dengan diri kita sehingga paham bahwa kita dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt..
Allah swt. menginginkan manusia agar bertaqwa dengan sebenar-benarnya. Berbagai cara untuk menunjukkan penghormatan kepada Yang Mahakuasa dapat dilakukan, sebagai contoh: berjalan di jalan Allah, melakukan perbuatan baik, mengikuti contoh-contoh yang diberikan para rasul, menaati serta memperhatikan ajaran-ajaran Allah, dan sebagainya.

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (at-Taghaabun: 16)
3. Takdir
Tidak ada satu pun di alam ini yang terjadi secara kebetulan, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur`an, “... Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)….” (ar-Ra’d: 2) Dalam ayat lain dikatakan, “… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)....” (al-An’aam: 59) Dialah Allah Yang menciptakan dan mengatur semua peristiwa, bagaimana mereka berawal dan berakhir. Dia pulalah yang menentukan setiap gerakan bintang-bintang di jagat raya, kondisi setiap yang hidup di bumi, cara hidup seseorang, apa yang akan dikatakannya, apa yang akan dihadapinya, Kaum mukminin seharusnya menyadari kenyataan yang agung ini. Sebagai konsekuensinya, sudah seharusnya mereka tidak berbuat kebodohan seperti orang-orang yang menolak kenyataan dalam hidupnya. Dengan memahami bahwa hidup itu hanya ”mengikuti takdir”, mereka tidak akan pernah kecewa atau merasa takut terhadap apa pun. Mereka menjadi yakin dan tenang seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. yang bersabda kepada sahabatnya, “Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (at-Taubah: 40) ketika sahabatnya itu merasa khawatir ditemukan para pemuja berhala yang bermaksud membunuh mereka ketika bersembunyi di dalam gua.
4. Iman kepada Allah
Karena Allah adalah pembuat keputusan, setiap kejadian merupakan anugerah bagi makhluk-Nya: segala sesuatu telah direncanakan untuk kebaikan agama dan untuk kehidupan orang yang beriman di akhirat kelak. Kaum mukminin dapat merujuk pada pengalaman mereka untuk melihat bahwa ada sesuatu yang bermanfaat bagi diri mereka pada akhir sebuah kejadian. Untuk alasan tersebut, kita harus selalu memercayai Allah.
Dialah Yang Maha Esa dan Maha Melindungi. Seorang mukmin harus bersikap sebagaimana yang Allah inginkan: memenuhi tanggung jawabnya kemudian berserah diri pada Allah dengan hasilnya. Ayat berikut mengungkapkan misteri ini, yang tidak diketahui oleh orang-orang yang ingkar.
“... Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya, Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (ath-Thalaaq: 2-3)
5. Bertafakur
Di dalam Al-Qur`an dijelaskan bahwa orang-orang yang ingkar kepada Allah swt. adalah orang yang tidak mengenal ataupun menyadari adanya tanda-tanda Allah. Yang membedakan seorang muslim dengannya adalah kemampuannya untuk melihat tanda-tanda tersebut dan bukti-buktinya. Dia tahu bahwa semua ini tidak diciptakan dengan sia-sia dan dia pun dapat menyadari kekuatan serta keagungan seni Allah di mana pun dan mengetahui cara memuja-Nya. Dialah yang termasuk orang yang berakal.
“Sesungguhnya, Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (al-An’aam: 95)
Biji-bijian ini merupakan salah satu dari sejumlah tanda-tanda ciptaan Allah swt. di alam ini. Jika manusia mulai berpikir tidak hanya dengan akal mereka, tetapi juga dengan hati mereka dan bertanya sendiri, “mengapa dan bagaimana”, mereka akan mampu memahami bahwa semua yang ada di alam ini merupakan bukti keberadaan dan kekuasaan Allah.
6. Berhati-hati
Allah menciptakan alam ini dengan disertai tanda-tanda penciptaan-Nya. Akan tetapi, orang yang mengingkari-Nya tidak dapat memahami kenyataan tersebut karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk “melihat” tujuan penciptaan ini. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur`an, “... mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah)....” (al-A’raaf: 179) Secara kasat mata, mereka tidak memiliki kearifan dan pemahaman untuk menanggapi kenyataan yang ada ini.
Orang-orang beriman tidak termasuk kategori “buta” ini. Mereka menyadari dan menerima kenyataan bahwa seluruh alam ini diciptakan Allah swt. dengan tujuan dan maksud tertentu. Keyakinan ini marupakan langkah awal dari keimanan seseorang. Seiring dengan meningkatnya keyakinan dan kearifan, kita akan dapat mengenali setiap detail ciptaan Allah.
Dalam tradisi Islam, ada tiga langkah pemacu keimanan: Ilmul-yaqin (mendapatkan informasi), Ainul-Yaqin (melihat), dan Haqqul-Yaqin (mengalami/merasakan).
Hujan dapat dijadikan contoh dari ketiga langkah ini. Ada tiga tahapan dalam mengetahui tentang turunnya hujan.
Tahap pertama (Ilmul-Yaqin), ketika seorang duduk di dalam rumah yang jendelanya tertutup, kemudian ada yang datang dari luar memberitahukan padanya bahwa hujan turun dan dia memercayainya.
Tahap kedua (Ainul-Yaqin) adalah tahap kesaksian. Orang tersebut menuju jendela, membuka tirai, dan melihat hujan turun.
Tahap ketiga (Haqqul-Yaqin). Dia membuka pintu, keluar rumah, dan berada “di bawah” siraman air hujan.
Berhati-hati adalah bentuk tindakan dari do’a untuk beralih dari tingkatan Ilmul-Yaqin menuju tingkatan Ainul-Yaqin, bahkan lebih.
Upaya melihat tanda-tanda keberadaan Allah dan tidak menjadi “buta” seperti orang yang ingkar, membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Di dalam Al-Qur`an, orang beriman diseru untuk mengamati dan memperhatikan tanda-tanda keberadaan Allah di sekitar mereka dan ini hanya mungkin bisa dilakukan bila dilakukan dengan berhati-hati.
Karena itu, seorang muslim harus menjaga pikiran dari memikirkan hal-hal yang tidak berguna, tidak pernah kehilangan arah dengan kejadian-kejadian di sekitarnya, dan harus selalu menjaga pikirannya.
7. Kebaikan pada Semua Peristiwa
Segala sesuatu diciptakan dengan maksud dan tujuan tersembunyi. Bersama-sama dengan tujuan tersembunyi ini ada beberapa keuntungan bagi seorang mukmin di dalam semua peristiwa. Hal ini dikarenakan Allah berada di sisi orang-orang yang beriman dan tidak pernah mengecewakan mereka.
Pada awalnya, perjuangan hidup tampak tidak menyenangkan. Akan tetapi, seorang muslim harus mengerti bahwa kejadian yang tampaknya menakutkan, contohnya, persekongkolan orang kafir melawan orang beriman, akan berakhir dengan kemenangan bagi orang beriman. Cepat atau lambat, Allah akan memberikan kemurahan hati-Nya, sehingga orang beriman harus yakin bahwa terdapat hikmah pada semua kejadian.
8. Kematian Itu Dekat
Pada dasarnya, kaum yang mementingkan duniawi adalah bodoh, ceroboh, dan dangkal pikirannya. Hidup mereka tidak berdasarkan logika, tetapi mereka hidup dengan kesesatan dan keyakinan yang salah serta mengikuti sangkaan yang berakhir dengan kekeliruan. Salah satu kekeliruan ini adalah keyakinan mereka tentang kematian. Mereka percaya bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.
Sebenarnya, yang mereka lakukan adalah lari dari kenyataan dengan cara mengabaikan kematian. Tanpa memikirkannya, mereka percaya bahwa mereka dapat menghindari peristiwa itu. Akan tetapi, hal ini seperti burung unta yang menenggelamkan kepalanya ke dalam pasir untuk mengindari bahaya. Mengabaikan bahaya tidak membuat bahaya itu hilang. Sebaliknya, orang tersebut berisiko menghadapi bahaya dengan tanpa memiliki persiapan. Akibatnya, ia akan menerima kejutan yang lebih besar lagi. Tidak seperti halnya orang beriman yang mentafakuri kematian dan menyiapkan dirinya terhadap kenyataan yang sangat penting ini, kebenaran yang akan dialami semua manusia yang hidup. Allah memperingatkan orang kafir dalam ayat-Nya,
9. Tidak Pernah Berhenti Melawan Iblis
Ketika Allah menciptakan Adam dan memerintahkan malaikat sujud di hadapannya, mereka semua sujud kecuali iblis. Iblis kemudian dikutuk. Tanggapan iblis adalah meminta Allah menangguhkan hukuman sampai tiba hari dihidupkan kembali. Dengan demikian, ia memiliki kesempatan untuk membuat manusia berbuat dosa dan menyimpang dari batasan yang ada. Dengan penangguhan dari Allah, ia berjanji akan melakukan hal-hal yang dapat menggelincirkan umat manusia.
Siapa yang tidak berhati-hati terhadap tipu daya iblis dan tidak dapat melindungi dirinya dari bujuk rayu iblis, ia akan mudah dikalahkan oleh iblis. Karena itu, seorang mukmin harus mewaspadai keberadaan iblis, sebagaimana dijelaskan, “Sesungguhnya, setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Faathir: 6)
Orang-orang beriman harus selalu berhati-hati terhadap keberadaan iblis karena dialah yang menjadi sasaran utamanya. Setan tidak berkeinginan untuk membuat orang-orang kafir melampaui batas karena mereka sudah berpaling dan menjadi sekutunya. Dia berusaha keras membanting tulang untuk melemahkan orang-orang yang beriman sehingga menghalangi mereka untuk menyembah Allah. Itulah sebabnya mengapa orang-orang beriman diingatkan berulang-ulang untuk melawan setan, Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur`an, orang yang beriman dengan sebenar-benarnya itu tidak akan terpengaruh oleh bujuk rayu iblis. Akan tetapi, siapa yang lemah dan tidak berbuat kebaikan bisa dengan mudah terpengaruh oleh bisikannya. Janganlah lupa bahwa iblis akan terus-menerus berusaha keras menyebarkan kejahatannya. Orang-orang beriman harus selalu bersama-sama saling mengingatkan untuk selalu mengingat Allah swt. di mana pun dan kapan pun kita berada.
10. Jiwa yang Condong kepada Kejahatan
Musuh lain yang harus kita perangi adalah diri kita sendiri. Allah mengilhami manusia dengan kebaikan dan keburukan. Keburukan dalam diri kita selalu bekerja untuk setan. Al-Qur`an menjelaskan kedua sisi jiwa kita tersebut,
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 7-10)

Kita harus waspada terhadap sisi keburukan yang ada dalam diri kita sendiri dan selalu menjaga hati dalam menentang bahaya. Mengabaikan sisi keburukan jiwa kita tidak akan menolong kita lepas dari keburukannya. Akan tetapi, kita harus menyucikan jiwa seperti yang diajarkan dalam Al-Qur`an.
Dengan demikian, kaum mukminin tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka suci, tetapi tetap berhati-hati terhadap hasutan dan kesia-siaan jiwa mereka. Pengakuan Yusuf a.s., “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya, Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,“ (Yusuf: 53) harus selalu diingat sebagai contoh yang baik untuk bersikap dengan tepat.
Perjuangan melawan hawa nafsu adalah pertempuran yang terbesar bagi seorang muslim. Mereka harus membatasi emosi dan keinginannya, yang mana yang dapat diterima dan yang mana yang tidak dapat diterima. Ia harus melawan dorongan nafsu dalam jiwanya, seperti keegoisan, iri hati, sombong, dan serakah.
Itulah sebabnya, orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya memiliki kepuasan jiwa. Hal ini terjadi karena mereka menjauhkan diri dari kejahatan, melawan nafsu jiwa mereka, dan membaktikan diri hanya kepada Allah.
11. Pilihan Allah
Jika menentukan bentuk fisik kita saja tidak bisa, apalagi menentukan takdir kita. Hanya Allahlah yang berhak menentukan kelahiran manusia, lingkungannya, keluarganya, serta pengalaman yang akan ia dapatkan dalam hidupnya. Allah pulalah yang mengilhami kita kebijakan dan kebaikan.
Iman kita bahkan tidak bergantung pada karakter kita sendiri. Allah pulalah Yang Maha Esa yang memberikan kita keimanan. Dialah yang mengarahkan, mengajarkan, dan melatih, sebagaimana jawaban Musa a.s. atas pertanyaan Firaun, “Musa berkata, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’” (Thaahaa: 50)
Karena itu, orang beriman adalah orang-orang yang dipilih oleh kemurahan Allah, “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka....” (al-Qashash: 68)
12. Berdo’a
Berdo’a merupakan cara berdialog dengan Allah; juga merupakan ciri utama yang membedakan orang yang beriman dari orang musyrik. Berdo’a bisa dijadikan sebagai alat ukur keimanan seseorang kepada Tuhannya.
Kebanyakan orang berpikir bahwa tidak ada yang mengatur alam semesta ini dan segala sesuatu berinteraksi dengan sendirinya. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi tunduk kepada-Nya, tidak ada makhluk yang takdirnya tidak diatur oleh Allah dan tidak patuh kepada-Nya. Bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) mengatakan kepadanya, “… Jadilah…,” lalu jadilah ia. (al-Baqarah: 117)
“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut... berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-A’raaf: 55-56)
Sebenarnya, do’a-do’a kita merupakan pengakuan atas kelemahan kita dengan menunjukkan rasa terima kasih kepada Allah. Tanpa berdo’a berarti menunjukkan kesombongan dan pembangkangan kepada Allah. Allah menyatakan,
Berdo’a pada Allah adalah ibadah dan juga rahmat yang besar. Tindak permohonan yang mudah ini merupakan kunci untuk mencapai tujuan, baik dunia maupun akhirat.
13. Penyesalan dan Memohon Ampun
Dua sifat Allah yang paling sering diulang dalam Al-Qur`an adalah “Maha Pengasih” dan “Maha Penyayang”. Allah benar-benar menyayangi hamba-hamba-Nya dan tidak menghukum mereka secara langsung atas dosa-dosa mereka, jadi dengan do’a dapat menangguhkan hukuman, Dia memberi waktu kepada orang yang berbuat salah untuk memohon ampun dan bertobat. Tidak peduli betapa besar dosa yang ia lakukan, ia selalu mendapat kesempatan untuk dimaafkan jika bertobat dan berbuat kebaikan, dan Tobat juga berarti permohonan dukungan dan kekuatan dari Allah untuk membantu orang yang bersalah agar tidak mengulangi perbuatan salah yang sama. Bentuk Tobat yang diterima Allah adalah yang diikuti dengan perbuatan-perbuatan baik,
Ayat ini menyeru orang-orang beriman kepada keselamatan, “… Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung.” (an-Nuur: 31)

“Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (al-Furqaan: 71)

Terkadang seseorang bisa saja melakukan dosa yang sama karena bujukan nafsunya, bahkan setelah bertobat. Akan tetapi, hal ini bukanlah alasan baginya untuk tidak bertobat. Dia bisa bertobat karena kesalahan-kesalahan sepanjang hidupnya. Harus diingat pula bahwa tobat seseorang tidak akan diterima ketika kematian telah datang menjemput dan ia mulai melihat nasibnya di hari kemudian.

Al-Gozali (w.1111 M) adalah sosok fiqih yang sufi, sekaligus fillosuf dan ahli kalam. Karya monumentalnya Ikhya’ Ulumuddin adalah cermin dari al-Ghizali melakukan substansiasin fiqih dengan tasawuf. Diantaranya ia mengatakan, “ilmu bagi saya lebih mudah dari pada mengamalkan”.
Dengan memperhatikan uraian di atas dapat difahami bahwa fiqih saja tanpa di isi dengan tasawuf maka hasil yang akan di peroleh adalah kulitnya saja, atau bisa dikataka basa basi seorang hamba dengan sang khaliqnya.

















PENUTUP

Walaupun pembahasan diatas jauh dari sempurna, dari apa yang dianjurkan Bapak Dosen mengenai Tasawuf Masakini abad xxi ini, maka kami telah cukup mendapatkan pelajaran berharga, pengalaman fiqih saja akan menghasilkan manusia-manusian formalistic, namun kering dalam bahasa nuansa etika, sehingga melahirkan sebuah masyarakat yang cenderung mengalami keterpecahan integritas moralnya.

Dan yang terakhir kami ucapkan banyak terimakasih atas koreksinya, semoga pemaparan semua yang ada diatas bisalah menjadi pemicu, semangat para salik untuk menuju kesucian jiwa, dan membersihkan semua penyakit hati yang bersarang dalam hati manusia, yang akhirnya menjadikan insan yang selalu tunduk akan perintahNya.
Tasawuf dalam Paham sufiyah yang mana dilansir para sufi berpendapat bahwa pendidikan tasawuf tersusun atas tiga fase:
1. Fase takhalli atau takhliyah, yaitu membasmi sifat-sifat duniawiyah yang terdapat dalam diri manusia. Takhliyah zhahiriyah yaitu menjauhkan diri dari kejahatan tujuh macam anggota maksiat zhahir, ketujuh tersebit adalah faraj, lisan, tangan, mata, telinga, kaki, dan perut. Kemudian, manusia melakukan Takhliyah bathiniyah yang didahului dengan taubat yaitu dengan cara Istigfar, menyesal, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.
2. Fase Tahalli, mengisi jiwa seseorang dengan jiwa mahmudah yang merupakan ibadat qolbi. Maka hiasilah diri nkita dengan taqwa, hati yang bersih, dan sifat siddiq.
3. Fase Tajalli, adalah pengalaman Puncak yang dicari para pecinta Allah. dimana fase ini telah jelaslah Allah dalam kehidupan jiwa, fase ini hasil usaha dari fase pertama dan kedua. Meskipun dalam diri manusia cenderung berbuat kejahatan, namun usaha yang pertama dan yang utama adalah menjauhkan diri dari larangan Allah. Meninggalkan larangan-Nya lebih berat dari pada mengerjakan perintah-Nya. Hal ini terjadi karena pengaruh lingkungan. Untuk itu bagi orang tua agar mendidik anaknya dengan baik mulai sedini mungkin.
Posting Komentar