Jumat, 20 April 2012

SELAYANG PANDANG

Di dalam ebook ini terdapat 17 kisah kisah penggugah hati yang dapat menggerakan hati para pembacanya untuk menjadi pribadi pribadi yang lebih baik, sangat menyentuh dan inspiratif…





17 judul kisah tersebut di antaranya :

- Tangisan Rasulullah Mengguncangkan Arsy
- Kisah Indah Ibnu Hajar Dengan Seorang Yahudi
- Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak
- Memohon Nafkah
- Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu

Rabu, 18 April 2012

KEHIDUPAN NABI IBRAHIM AS

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.
(QS. Ali ‘Imran: 67-68)

Nabi Ibrahim (Abraham) sering disebutkan di dalam Al Qur’an dan mendapat tempat yang istimewa di sisi Allah sebagai contoh bagi manusia. Dia menyampaikan risalah Allah kepada umatnya yang menyembah berhala, dan dia mengingatkan mereka agar takut kepada Allah. Kaumnya tidak mendengarkan peringatan itu, malahan menentang Ibrahim. Ketika penindasan kaumnya meningkat, Ibrahim terpaksa menyingkir bersama istrinya, nabi Luth dan mungkin dengan beberapa orang pengikut.

Ibrahim adalah keturunan Nuh. Al Qur’an juga mengemukakan bahwa dia juga mengikuti ajaran Nabi Nuh.

“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (QS. Ash Shaffaat: 79-83)

Pada masa Nabi Ibrahim, banyak orang yang menghuni dataran Mesopotamia dan bagian Tengah dan Timur Anatolia menyembah langit dan bintang-bintang. Dewa mereka yang terpenting adalah “Sin”, sang dewa bulan. Ia digambarkan sebagai seorang manusia berjenggot panjang, memakai pakaian panjang bergambar bulan sabit. Mereka juga membuat gambar-gambar timbul dan patung-patung dari tuhan-tuhan mereka dan menyembahnya. Inilah sistem kepercayaan yang berkembang subur di Timur Dekat, dan keberadaannya terpelihara dalam jangka waktu yang lama. penduduk wilayah tersebut terus menyembah tuhan-tuhan tersebut hingga sekitar tahun 600 M. Akibatnya, di daerah yang membentang dari Mesopotamia hingga ke kedalaman Anatolia, terdapat banyak bangunan yang dikenal sebagai “zigurat”, yang digunakan sebagai tempat pengamatan bintang sekaligus sebagai kuil peribadatan, dan di sinilah beberapa tuhan, terutama dewa bulan yang bernama “Sin” disembah. 1

Bentuk kepercayaan ini, yang sekarang hanya dapat ditemukan dalam penggalian arkeologis, telah disebutkan dalam Al Qur’an. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an, Ibrahim menolak penyembahan tuhan-tuhan tersebut dan menyembah Allah semata, satu-satunya Tuhan yang sebenarnya. Dalam Al Qur’an, jalan hidup Ibrahim digambarkan sebagai berikut:

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?. Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata".

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malah telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah tuhanku, ini lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata : “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS. Al An’aam: 74-79)

Dalam Al Qur’an, tempat kelahiran Ibrahim dan tempat tinggalnya tidak dikemukakan secara detail. Tetapi diisyaratkan bahwa Ibrahim dan Luth hidup berdekatan dan sezaman, dengan fakta bahwa malaikat yang diutus kepada kaum Luth mendatangi Ibrahim dan memberitahu istrinya berita gembira tentang seorang bayi laki-laki, sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju Nabi Luth.

Hal penting tentang Nabi Ibrahim dalam Al Qur’an yang tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama adalah tentang pembangunan Ka’bah. Dalam Al Qur’an, kita diberitahu bahwa Ka’bah dibangun oleh Ibrahim dan putranya Ismail. Sekarang ini, satu-satunya hal yang diketahui oleh ahli sejarah tentang Ka’bah adalah bahwa Ka’bah merupakan tempat suci sejak dahulu sekali. Adapun penempatan berhala-berhala dalam Ka’bah semasa jahiliyah sebelum diutusnya Nabi Muhammad merupakan akibat dari kemunduran dan penyimpangan atas agama suci ilahi yang pernah diwahyukan kepada Nabi Ibrahim.


Pada masa Nabi Ibrahim,agama politeisme menyebar di wilayah Mesopotamia. Sang Dewa Bulan “Sin”, merupakan salah satu berhala yang paling penting.Orang-orang membuat patung dari tuhan-tuhan mereka dan menyembahnya. Di sebelah tampak patung Sin. Bentuk bulan sabit terlihat jelas pada dada patung tersebut.Zigurat, yang digunakan baik sebagai kuil dan tempat pengamatan bintang,merupakan bangunan yang dibuat dengan teknik paling maju pada masa itu. Bintang, bulan dan matahari menjadi objek utama penyembahan dan karenanya, langit merupakan hal sangat penting. Di sebelah kiri dan bawah adalah zigurat utama bangsa Mesopotamia.

Ibrahim dalam Perjanjian Lama

Perjanjian Lama kemungkinan besar merupakan sumber paling detail tentang Ibrahim, meskipun banyak di antaranya mungkin tidak dapat dipercaya. Menurut penuturan Perjanjian Lama, Ibrahim lahir sekitar 1900 SM di kota Ur, salah satu kota terpenting saat itu, yang berlokasi di tenggara dataran Mesopotamia. Pada saat lahir, ia belum bernama “Abraham”, tetapi “Abram”. Namanya kemudian diubah oleh Tuhan (Yahweh).

Pada suatu hari, menurut Perjanjian Lama, Tuhan menyuruh Ibrahim mengadakan perjalanan meninggalkan negeri dan kaumnya, menuju suatu negeri yang tidak pasti dan memulai sebuah masyarakat baru di sana. Abram, saat itu berusia 75 tahun, mematuhi panggilan itu dan melakukan perjalanan bersama istrinya yang mandul yang bernama Sarai - yang kemudian dikenal sebagai “Sarah” yang berarti puteri raja - dan Luth, putra saudaranya. Dalam perjalanan menuju ke “Tanah Terpilih” mereka singgah sebentar di Harran dan kemudian melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan kepada mereka, mereka diberitahu bahwa tempat tersebut dipilihkan khusus dan dianugerahkan buat mereka. Ketika mencapai usia 99 tahun, Abram membuat perjanjian dengan Tuhan dan namanya diubah menjadi Abraham. Dia meninggal pada usia 175 tahun dan dikebumikan dalam gua Machpelah dekat kota Hebron (Al Khalil) di Tepi Barat, yang saat ini berada di bawah pendudukan Israel. Tanah tersebut dibeli Ibrahim dengan sejumlah uang dan merupakan miliknya dan keluarganya yang pertama di Tanah yang Dijanjikan itu.

Tempat Kelahiran Ibrahim Menurut Perjanjian Lama

Di mana Ibrahim dilahirkan senantiasa menjadi perdebatan. Sementara orang Nasrani dan Yahudi menyatakan bahwa Ibrahim dilahirkan di Selatan Mesopotamia, pemikiran yang lazim dalam dunia Islam adalah bahwa tempat kelahirannya berada di sekitar Urfa-Harran. Beberapa penemuan baru menunjukkan bahwa pendapat kaum Yahudi dan Nasrani tidaklah menyiratkan kebenaran yang seutuhnya.

Orang Yahudi dan Nasrani menyandarkan pendapat mereka pada Perjanjian Lama, karena di dalamnya, Ibrahim dikatakan telah dilahirkan di kota Ur sebelah Selatan Mesopotamia. Setelah lahir dan dibesarkan di kota ini, Ibrahim diceritakan menempuh perjalanan menuju Mesir, dan mencapainya setelah perjalanan panjang yang melewati wilayah Harran di Turki.

Namun, sebuah manuskrip Perjanjian Lama yang ditemukan baru-baru ini, telah memunculkan keraguan yang serius tentang kesahihan informasi di atas. Dalam manuskrip berbahasa Yunani dari sekitar abad ketiga SM ini, yang dianggap sebagai salinan tertua dari Perjanjian Lama yang pernah ditemukan, “Ur” tidak pernah disebutkan. Hari ini banyak peneliti Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa kata “Ur” tidak akurat atau merupakan tambahan belakangan. Ini berarti bahwa Ibrahim tidak dilahirkan di kota Ur dan mungkin juga tidak pernah berada di wilayah Mesopotamia sepanjang hidupnya.

Di samping itu, nama-nama beberapa tempat, serta daerah yang ditunjukkannya, telah berubah karena perkembangan zaman. Saat ini, dataran Mesopotamia umumnya merujuk kepada tepi selatan daratan Irak, di antara sungai Eufrat dan Tigris. Namun, dua alaf yang lalu daerah Mesopotamia menunjuk sebuah daerah lebih ke Utara, bahkan sejauh Harran, dan membentang ke daerah Turki saat ini. Oleh karena itu, sekalipun kita menerima ungkapan “dataran Mesopotamia” dalam Perjanjian Lama, tetap saja keliru jika menganggap Mesopotamia dua alaf yang lalu dan Mesopotamia hari ini sebagai tempat yang persis sama.

Bahkan jika ada keraguan serius dan ketidaksepakatan tentang kota Ur sebagai tempat kelahiran Ibrahim, terdapat sebuah persetujuan bersama tentang fakta bahwa Harran dan daerah sekitarnya merupakan tempat tinggal Nabi Ibrahim. Lebih dari itu, penelitian singkat terhadap isi Perjanjian Lama sendiri memunculkan beberapa informasi yang mendukung pandangan bahwa tempat kelahiran Nabi Ibrahim adalah Harran. Misalnya, dalam Perjanjian Lama, daerah Harran ditunjuk sebagai “daerah Aram” (Kejadian, 11:31 dan 28:10). Disebutkan bahwa mereka yang berasal dari keluarga Ibrahim adalah “anak-anak dari seorang Arami” (Deutoronomi, 26:5). Penyebutan Ibrahim sebagai “seorang Arami” menunjukkan bahwa ia hidup di daerah ini.

Dalam berbagai sumber Islam, terdapat bukti kuat bahwa tempat kelahiran Ibrahim adalah Harran dan Urfa. Di Urfa yang disebut dengan “kota para Nabi” terdapat banyak cerita dan legenda tentang Ibrahim.

Mengapa Perjanjian Lama Dirubah?

Perjanjian Lama dan Al Qur’an tampaknya hampir-hampir menggambarkan dua orang sosok Nabi yang berbeda, bernama Abraham dan Ibrahim. Dalam Al Qur’an, Ibrahim diutus sebagai rasul bagi suatu kaum penyembah berhala. Kaum Ibrahim menyembah langit, bintang-bintang dan bulan serta berbagai berhala. Dia berjuang melawan kaumnya, mencoba membuat mereka meninggalkan kepercayaan-kepercayaan takhyul, dan tidak terhindarkan, membangkitkan permusuhan dari seluruh kaumnya, termasuk ayahnya sendiri.

Ternyata, tidak ada satu pun dari hal di atas diceritakan dalam Perjanjian Lama. Dilemparkannya Ibrahim ke dalam api, penghancuran berhala-berhala kaumnya, tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama. Secara umum Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi dalam Perjanjian Lama. Nyatalah bahwa pandangan dalam Perjanjian Lama ini dibuat oleh para pemimpin bangsa Yahudi yang berusaha membawa konsep “ras” ke permukaan. Bangsa Yahudi percaya bahwa mereka adalah kaum yang dipilih Tuhan untuk selamanya dan diberi keunggulan. Mereka dengan sengaja dan penuh hasrat mengubah kitab suci mereka dan membuat berbagai penambahan serta pengurangan berdasarkan keyakinan ini. Inilah sebabnya mengapa Ibrahim digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi belaka dalam Perjanjian Lama.

Orang Nasrani yang mempercayai Perjanjian Lama, menganggap Ibrahim sebagai nenek moyang bangsa Yahudi, namun dengan satu perbedaan: menurut mereka, Ibrahim bukanlah seorang Yahudi namun seorang Nasrani. Orang Nasrani yang tidak begitu memperhatikan konsep ras sebagaimana Yahudi, mempertahankan pandangan ini dan hal tersebut menjadi salah satu penyebab perbedaan dan pertentangan di antara kedua agama ini. Allah memberi penjelasan atas perdebatan tersebut dalam Al Qur’an sebagai berikut:

Hai ahli kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim.
Apakah kamu tidak berpikir?. Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah dalam hal yang tidak kamu ketahui; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik.

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 65-68)

Dalam Al Qur’an, sangat berbeda dengan yang ditulis dalam Perjanjian Lama, Ibrahim adalah seseorang yang memperingatkan kaumnya agar mereka takut kepada Allah, serta berjuang melawan mereka karena itu. Sejak masa mudanya, ia memperingatkan kaumnya yang menyembah berhala-berhala, agar menghentikan perbuatan itu. Sebagai balasan, mereka berupaya membunuh Ibrahim. Setelah terhindar dari kejahatan kaumnya, maka Ibrahim akhirnya berimigrasi.


CATATAN
1. Everett C. Blake, Anna G. Edmonds, Biblical Sites in Turkey, Istanbul: Redhouse Press, 1977, hlm. 13.



Senin, 16 April 2012

NABI SULAIMAN DAN RATU SABA'

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM





Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya”. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: ”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. An Naml: 44)



Catatan sejarah mengenai pertemuan antara Sulaiman dengan Ratu Saba’ menjadi jelas dengan penelitian yang dilakukan negeri tua Saba’ di Yaman Selatan. Penelitian yang dilakukan terhadap reruntuhan mengungkapkan bahwa seorang “ratu” pernah hidup di kawasan ini antara tahun 1000-950 SM dan melakukan perjalanan ke utara (ke Jerusalem).



Rincian tentang apa yang terjadi antara dua penguasa ini, kekuatan ekonomi dan politik negara mereka, pemerintahan mereka dan rincian lainnya, semua diterangkan dalam Surat An-Naml. Kisah ini, yang meliputi sebagian besar surat An-Naml, memulai rujukannya tentang ratu Saba’ dengan berita yang dibawa kepada Sulaiman oleh burung Hud-Hud, salah satu anggota tentaranya:



Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-Hud), lalu ia berkata; ”Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.



Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.



Allah, tiada Tuhan Yang Disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Ársy yang besar”. Berkata Sulaiman: ”Akan kami lihat, apa kamu benar ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. (QS. An Naml: 22-27)



Setelah menerima berita ini dari burung Hud-Hud, Sulaiman pun memerintahkannya sebagai berikut:

Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”. (QS. An Naml: 28)



Setelah ini, Al Qur’an menceritakan kejadian yang berkembang setelah Ratu Saba’ menerima surat tersebut:

Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat ini dari Sulaiman dan sesungguhnya (isinya): “Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.



Berkata dia (Balqis); “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”.

Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah apa yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirimkan utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah dan (aku akan) menunggu apa yang dibawa kembali oleh utusan-utusanku itu".



Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman pun berkata: Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan oleh Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka, dan sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba’) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.



Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: ”Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.



Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: ”Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana tersebut terletak di hadapannya, ia pun berkata: Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.



Dia berkata: “Ubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenali(nya)”.



Dia berkata: “Ubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenali(nya)”. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?”. Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”.



Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya ia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. Dikatakanlah kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya, Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. An Naml: 29-44)





Istana Sulaiman



Dalam surat dan ayat yang merujuk tentang ratu Saba’, Nabi Sulaiman juga disebutkan. Tatkala diceritakan dalam Al Qur’an bahwa Sulaiman mempunyai kerajaan serta istana yang mengagumkan, banyak perincian lain juga diberikan.



Berdasarkan ini, Sulaiman memiliki teknologi yang paling maju di masanya. Di istananya terdapat berbagai karya seni yang menakjubkan dan benda-benda berharga, yang mempesona semua yang melihatnya. Jalan masuk istana terbuat dari kaca. Al Qur’an menggambarkan istana ini dan pengaruhnya terhadap ratu Saba’ dalam ayat berikut:



Dikatakanlah kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya”. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: Ya, Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. An Naml: 44)





Setelah haikal Sulaiman dihancurkan, satu-satunya dinding kuil yang tersisa diubah menjadi “Tembok ratapan” oleh Yahudi. Setelah penaklukan Jerusalem selama abad ke-7, kaum Muslim membangun Masjid Umar dan Kubah Batu di tempat kuil tersebut dahulunya berada. Pada gambar di sebelah kanan tampak Kubah Batu .

Istana Nabi Sulaiman disebut “Haikal Sulaiman” dalam literatur Yahudi. Saat ini, hanya “Tembok Barat” dari apa yang disebut haikal atau istana yang masih berdiri, dan ini pula tempat yang dinamakan “Tembok Ratapan” oleh orang Yahudi. Penyebab istana ini dihancurkan, sebagaimana juga banyak tempat lain di Jerusalem, adalah perilaku jahat serta sombong dari bangsa Yahudi. Al Qur’an menjelaskan kepada kita sebagai berikut:

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.



Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS. Al Isra’: 4-7)



Kuil Sulaiman memiliki teknologi yang paling maju saat itu dan pemahaman estetika yang unggul. Pada gambar di atas ditunjukkan pusat kota Jerusalem selama masa pemerintahan Nabi Sulaiman.

1) Pintu Barat daya

2) Istana Ratu

3) Istana Sulaiman

4) Pintu gerbang dengan 32 pilar

5) Gedung pengadilan

6) Hutan Libanon

7) Kediaman pendeta tingkat tinggi

8) Pintu masuk ke kuil

9) Alun-alun kuil

10) Kuil Sulaiman



Seluruh kaum yang disebutkan dalam bab-bab terdahulu patut menerima hukuman karena keingkaran dan ketakbersyukuran mereka atas karunia Allah, sehingga mereka pun ditimpa bencana. Setelah berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa negara dan wilayah, dan akhirnya menemukan tempat tinggal di tanah suci pada masa Sulaiman, bangsa Yahudi sekali lagi dihancurkan karena perilaku mereka yang di luar batas, dan karena tindakan mereka yang merusak dan membangkang. Yahudi modern yang telah menetap di daerah yang sama dengan daerah di masa lalu, kembali menyebabkan kerusakan dan ”berbesar hati dengan kesombongan yang luar biasa” sebagaimana mereka lakukan sebelum peringatan yang pertama.





silahkan join di sini jika mau.

http://KomisiVirtual.com/?id=elbaruqy

Minggu, 15 April 2012

Kata-kata Hikmah Penggoda JIWA ANda

Kadang-kadang manusia membutuhkan inspirasi, tapi akan dimulai dari mana inspirasi tersebut, maka munkin coretan ini akan menjadi inspirasiku dan inspirasimu.
sedikit galau menghadirkan sebuah teks yang menjadi wakil mulut, sehingga hati bisa bergerak untuk memulai yang bagus, manfaat untuk dirikita umumnya untuk anda yang membaca ini.

Para ulama atau cendekiawan dulu slalu dan slalu semangat dalam menjalankan misinya, pantang menyerah.................bukan tipenya, ajallah yang mengakhiri inovasi karyanya.
itu dulu, tapi sekarang ndak tahuuuuuuu?
Semua ada dalam pilihan anda semua.
Berikut sedikit Kata-kata mutiara semoga bisa menjadi inspirasi anda.


1. Wahai orang yang berilmu: gunkanlah ilmumu, karena orang yang mempunyai ilmu, orang yang berbuat sesuai dengan ilmunya.(Sayyidina Ali kwj)

2. Seandainya seseorang mendapat wahyu, namun tiada guru yang nmengarahkan, maka ia tidak mendapat ilmu sirri/rahasia/nurani. Abu Ali Addaqqoq

3. Barang siapa yang menimba ilmu dari seorang guru, niscaya ia terhindar dari kesalahan. dan barang siapa yang menimba ilmu dari secarik kertas, maka laksana hampa tiada ilmu.

4. Harga seseorang terletak pada apa yang ia cakapkan.

5. Islam tidak akan jaya melainkan dengan kembali kepada konsepsi lama yang telah membawa umat islam jaya. Imam Malik

6. Ulama' adalah pengembangan Allah terhadap makhlukNya. Ibnu Asakir

7. Bersungguh-sungguh kunci kesuksesan.

8. Tiada kebaikan sesuatu yang baik yang tidak berkesinambungan (kontinyu) bahkan sesuatu yang jelek yang tidak berkesinambungan lebih baik dari pada sesuatu yang baik yang tidak berkesinambungan. ( Imam Ghozali)

9. Islam tidak akan kuat kecuali dengan organisasi, Organisasi tidak ada artinya tanpa pemimpin dan pemimpin tidak akan berfungsi tanpa di taati

10. Bukan dinamakan pemuda, kalo masih mengandalkan ketenaran bapaknya, ini bapakku, ini kakekku dll tapi katakanlah "inilah aku".

11. Empat persoalan menjadi seseorang pemimpinb: 1. Ilmu 2. Jujur 3. Etika/moral 4. Dipercaya / amanah.


12. Hati adalah tempat niat, sementara yang menguasai hati dan niat adalah pemiliknya.

silahkan join di sini jika mau.
http://KomisiVirtual.com/?id=elbaruqy

http://KomisiVirtual.com/?id=elbaruqy

http://KomisiVirtual.com/?id=elbaruqy

Itu dulu kawan semoga kamu bisa menjelajahi karir yang ada dirimu.
Tetap semangat walaupun nyawa di ujung tanduk.
USAHA DAN BERDO'A TENTUNYA.

Rabu, 11 April 2012

SYAHID SELEPAS MENGUCAPKAN SYAHADAH



Suatu ketika tatkala Rasulullah S.A.W sedang bersiap di medan perang Uhud, tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga. Seorang lelaki yang bernama Amar bin Thabit telah datang menemui baginda. Dia rupanya ingin masuk Islam dan akan ikut perang bersama Rasulullah S.A.W. Amar ini berasal dari Bani Asyahali. Sekalian kaumnya ketika itu sudah Islam setelah tokoh yang terkenal Saad bin Muaz memeluk Islam. Tetapi Amar ini enggan mengikut kaumnya yang ramai itu. Keangkuhan jahiliyyah menonjol dalam jiwanya, walaupun dia orang baik dalam pergaulan. Waktu kaumnya menyerunya kepada Islam, ia menjawab, "Kalau aku tahu kebenaran yang aku kemukakan itu sudah pasti aku tidak akan mengikutnya." Demikian angkuhnya Amar.

Kaum Muslimin di Madinah pun mengetahui bagaimana keanehan Amar di tengah-tengah kaumnya yang sudah memeluk Islam. Ia terasing sendirian, hatinay sudah tertutup untuk menerima cahaya Islam yang terang benderang. Kini dalam saat orang bersiap-siap akan maju ke medan perang, dia segera menemui Nabi S.A.W, menyatakan dirinya akan masuk Islam malah akan ikut berperang bersama angkatan perang di bawah pimpinan Nabi S.A.W. Pedangnya yang tajam ikut dibawanya.
Nabi S.A.W menyambut kedatangan Amar dengan sangat gembira., tambah pula rela akan maju bersama Nabi Muhammad S.A.W. Tetapi orang ramai tidak mengetahui peristiwa aneh ini, kerana masing-masing sibuk menyiapkan bekalan peperangan. Di kalangan kaumnya juga tidak ramai mengetahui keIslamannya. Bagaimana Amar maju sebagai mujahid di medan peperangan. Dalam perang Uhud yang hebat itu Amar memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa. Malah berkali-kali pedang musuh mengenai dirinya, tidak dipedulikannya. Bahkan dia terus maju sampai saatnya dia jatuh pengsan.

"Untuk apa ikut ke mari ya Amar !" Demikian tanya orang yang hairan melihatnya, sebab sangka mereka dia masih musyrik. Mereka kira Amar ini masih belum Islam lalau mengikut sahaja pada orang ramai. Dalam keadaan antara hidup dan mati itu Amar lalu berkata, "Aku sudah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu aku siapkan pedangku dan maju ke medan perang. Allah akan memberikan syahidah padaku dalam waktu yang tidak lama lagi."

Amar meninggal. Rohnya mengadap ke hadrat Illahi sebagai pahlawan syahid. Waktu hal ini diketahui Rasul S.A.W, maka baginda pun bersabda,, "Amar itu nanti akan berada dalam syurga nantinya." Dan kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan mereka. Malah Abu Hurairah r.a sahabat yang banyak mengetahui hadith Nabi S.A.W berkata kaum Muslimin, "Cuba kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah bersyarat sekalipun juga terhadap Allah."

"Jika kamu tidak tahu orangnya." Kata Abu Hurairah r.a lagi, lalu ia pun menyambung, ujarnya, "Maka baiklah aku beritahukan, itulah dia Amar bin Thabit."
Demikianlah kisah seorang yang ajaib, masuk syurga demikian indahnya. Ia tidak pernah solat, puasa dan lain-lainnya seperti para sahabat yang lain, sebab dia belum memeluk Islam. Tiba-tiba melihat persiapan yang hebat itu, hatinya tergerak memeluk Islam sehingga ia menemui Nabi S.A.W . Ia menjadi Muslim, lalu maju ke medan perang, sebagai mujahid yang berani. Akhirnya tewas dia dengan mendapat syahadah iaitu pengakuan sebagai orang yang syahid. Mati membela agama Allah di medan perang. Maka syurgalah tempat bagi orang yang memiliki julukan syahid. Nabi S.A.W menjamin syurga bagi orang seperti Amar ini.



Kamis, 05 April 2012

TRIK MEMPERCANTIK DAN MEMPERGANTENG WAJAH ANDA



HADIR LAGI NICH........
Penghilang jerawat, muka masam, tidak ceria, kurang gairah, muka pengap dan semua yang menjadi rasa beban hidup.
Yuk …………………………

Persiapkan dulu:
  1. Pakaian yang bagus/suci
  2. Selimut bagus/suci
  3. Celana/sarung yang besih
  4. Sikat gigi plus odolnya
  5. Tempat tidur yang nyaman
  6. Kamar mandi ( bisa pinjem tetangga, atau fasilitas negara) he he he
  7. Sajadah
  8.  minyak wangi ( jangan pakai minyak angin yaaaaaa)
  9. Air secukupnya
  10. Apa lagi yaaaaa?


Aturan mainnya?

  1. Wudlu dulu sebelum tidur
  2. Jangan lupa do'anya
  3. Mimpiiii dech.........................
  4. Bangun jam 03.30 (menurut daerah anda)
  5. Berdo'a lagi, karena masih hidup he he he he
  6. Selimut di lipat dengan rapi
  7. Tempat tidur ucapkan aja ( selamat tinggal wahai sahabatku setiaaaa)
  8. Langsung meluncur aja ke kamar mandi tetangga, eits salah, kamar mandi sendiri dunk..
  9. Odol dan sikat cepat di raih,,, lakukan pada umumnya, tapi jangan sampai terkena hidung yaaaa
  10. Repoooooooooooooooooooooot amat sich, tenang aja teman
  11. Dah selesai toh sikatannyaaaa?
  12. Silahkan berkumur-kumur
  13.  niat wudlu dulu sambil meraih air yaaaa ( niatnya kayak biasanya)
  14. Wudlu lakukan menurut aturan yang ada jangan pakai aturan sendiri, entar over dosis he he he he
  15. Dah selesai wudlu berdo'alah
  16. Jangan di usap air wudlu tersebut biar kering sendiri, jika di usap-usap maka trik ini tak akan berguna alias ndak jadi ganteng / cantik dech………(*)
  17. Pakai pakaian yang suci
  18. Sarung/celana yang suci
  19. Jangan lupa minyak wanginya di oles atau di semprotkan ke baju/sarung/celana, jangan ke muka yaaaa
  20. Raihlah sajadah anda
  21. Berangkat dech ke tempat sholat ( mushola, masid, atau di rumah ajah)
  22. Dah dech lakukan sholat se khusuk mungkin.
  23. Oke lakukan secara istiqomah/ajek/terus menerus.
  24. Bisa di lakukan pada tiap waktu sholat.
  25. Yang penting, setiap selesai wudlu jangan sampai muka/anggota wudlu di u s a p.
  26. Sekian dulu shob
  27. Semoga trik ini bermanfaat.
(*) Karena tiap tetesan air wudlu angan menjadi saksi anda nanti di akhirat.
Setiap tetesan air wudlu akan menjadi malaikat-malaikat yang akan mendoakan kamu memintakan rahmat dan ampunan kepada Allah.

Rabu, 04 April 2012

30 Foto Bencana Alam yang Indah Namun Sangat Menakutkan

DENGAN GAMABR INI SEMOGA BISA MENJADI PELAJARAN DAN MENGAMBIL HIKMAHNYA.
































MAHA BESAR ALLAH DENGAN SEGALA CIPTAAN-NYA

BAGI ORANG-ORANG YANG MAU BERFIKIR.

Minggu, 01 April 2012

STATUS KHALIQ DAN STATUS MAKHLUQ



STATUS KHALIQ

Perbedaan antara status Khaliq dan makhluq adalah garis pemisah antara kufur dan iman.
Kami meyakini bahwa orang mencampur-adukkan kedua status ini berarti dia telah kafir.
Wal ‘iyadz billah.

Masing-masing dari kedua status di atas memiliki hak-hak spesifik. Namun, dalam
masalah ini masih ada hal-hal, khususnya yang berkaitan dengan Nabi dan sifat-sifat
eksklusif beliau yang membedakan dengan manusia biasa dan membuat beliau lebih
tinggi dari mereka. Hal-hal seperti ini kadang tidak dimengerti oleh sebagian orang yang
memiliki keterbatasan akal, pemikiran, pandangan dan pemahaman. Kelompok ini mudah
terburu-buru memvonis kafir terhadap mereka yang mengapresiasi hal-hal tersebut dan
mengeluarkan mereka dari agama Islam karena menurut kelompok ini menetapkan sifatsifat
khusus untuk Nabi SAW adalah mencampuradukkan antara status Khaliq dan
makhluq serta mengangkat status Nabi dalam status ketuhanan. Kami sungguh memohon
ampun kepada Allah dari tindakan mencampur-adukkan seperti ini.
Berkat karunia Allah kami mengetahui apa yang wajib bagi Allah dan Rasul serta
mengetahui apa yang murni hak Allah dan yang murni hak rasul secara proporsional
tidak melampaui batas sampai memberi beliau sifat-sifat khusus ketuhanan yaitu menolak
dan memberi, memberi manfaat dan bahaya secara independen (di luar kehendak Allah),
kekuasaan yang sempurna dan komprehensif, menciptakan, memiliki, mengatur, satusatunya
yang memiliki kesempurnaan, keagungan dan kesucian dan satu-satunya yang
berhak untuk dijadikan obyek beribadah dengan beragam bentuk, cara dan tingkatannya.
Seandainya yang dianggap melampaui batas adalah berlebihan dalam mencintai, taat dan
keterikatan dengan beliau maka hal ini adalah sikap yang terpuji dan dianjurkan
sebagaimana dalam sebuah hadits :
“Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana kaum Nashrani mengkultuskan Isa ibn
Maryam”.
Maksud dari hadits tersebut berarti bahwa sanjungan, berlebih-lebihan dan memuji beliau
di bawah batas di atas adalah tindakan terpuji. Seandainya maksud hadits tidak seperti ini
berarti yang dimaksud adalah larangan untuk memberikan sanjungan dan memuji secara
mutlak. Pandangan ini jelas tidak akan diucapkan oleh orang Islam paling bodoh
sekalipun. Wajib bagi kita memuliakan orang yang dimuliakan Allah dan diperintahkan
untuk memuliakannya. Betul, memang kita wajib untuk tidak mensifati Nabi SAW
dengan sifat-sifat ketuhanan apapun. Imam Al-Bushiri RA berkata :
Jauhilah klaim Nashrani akan Nabi mereka
Berilah beliau pujian sesukamu dengan bahasa yang baik
Memuliakan Nabi SAW tidak dengan sifat-sifat ketuhanan sama sekali bukan
dikategorikan kufur atau kemusyrikan. Malah diklasifikasikan sebagai salah satu ketaatan
dan ibadah yang besar. Demikian pula setiap orang yang dimuliakan Allah seperti para
Nabi, rasul, malaikat, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Allah berfirman yang
Artinya : “Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar
Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”(Q.S. Al-Hajj : 32). Kemudian
firman Allah : “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa
yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.”
(Q.S. Al-Hajj : 30)
Diantara obyek yang wajib dimuliakan adalah Ka’bah, Hajar Aswad dan Maqam
Ibrahim. Ketiga benda ini adalah batu namun Allah memerintahkan kita untuk
memuliakannya dengan thawaf pada Ka’bah, mengusap Rukun Yamani, mencium Hajar
Aswad, sholat di belakang Maqam Ibrahim, dan wukuf untuk berdoa di dekat Mustajar,
pintu Ka’bah dan Multazam. Tindakan kita terhadap benda-benda yang disebutkan tadi
bukan berarti beribadah kepada selain Allah dan meyakini pengaruh, manfaat, dan
bahaya berasal dari selain-Nya. Semua hal ini tidak akan terjadi dari siapapun kecuali
Allah SWT.



STATUS MAKHLUQ
Kami meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang bisa mengalami apa yang
dialami manusia umumnya seperti sifat-sifat yang temporal dan penyakit-penyakit yang
tidak mengurangi kedudukan beliau dan tidak membuat beliau dijauhi. Sebagaimana
dikatakan oleh penyusun ‘Aqidatul ‘Awam :
Para rasul boleh mengalami sifat-sifat yang temporer
Yang tidak mengurangi kedudukan mereka seperti sakit ringan.
Rasulullah juga adalah seorang hamba yang tidak memiliki kemampuan memberi
manfaat, bahaya, mati, hidup membangkitkan kepada dirinya sendiri kecuali apa yang
telah dikehendaki Allah. Firman Allah yang Artinya : Katakanlah: "Aku tidak berkuasa
menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang
dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat
kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain
hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang
beriman".(Q.S. Al-A`raaf :188)
Beliau juga telah mengemban risalah, menyampaikan amanah, menyadarkan ummat,
membuang kesedihan dan berjihad fii sabilillah sampai ajal menjemputnya. Beliau
berpulang ke sisi Allah dalam kondisi ridho dan mendapat keridhoan, seperti
digambarkan dalam firman Allah yang Artinya : “Sesungguhnya kamu akan mati dan
Sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (Q.S. Az-Zumar : 30). Dalam ayat lain : “Kami
tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad);
maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (Q.S. Al-Anbiyaa` : 34)
Kehambaan adalah sifat beliau yang paling mulia. Karena itu beliau membanggakannya
dan berkata : “Saya hanyalah seorang hamba”. Allah menyifati beliau dengan
kehambaan dalam kedudukan tertinggi : “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha yang telah Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Q.S.Al-
Israa : 1). Kemudian firman Allah yang lain : "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah
(Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu
desak mendesak mengerumuninya." (Q.S. Al.-Jinn : 19)
Kemanusiaan adalah letak sesungguhnya kemu’jizatan Rasulullah. Beliau adalah manusia
dari jenis manusia namun berbeda dengan manusia biasa. Beliau memiliki perbedaan
yang tidak mungkin dikejar atau disamakan dengan manusia biasa. Sebagaimana
penilaian beliau tentang dirinya :
“Saya tidak sama dengan kalian. Sesungguhnya saya bermalam di sisi Allah diberi
kekuatan sebagaimana orang yang makan dan minum”.
Berdasarkan paparan di atas maka jelaslah bahwa status kemanusian beliau wajib disertai
dengan sifat-sifat yang membedakannya dengan manusia umumnya yaitu menyebut
keistimewaan-keistimewaan beliau yang eksklusif dan sifat-sifat beliau yang terpuji.
Perlakuan ini bukan hanya diberikan khusus untuk Nabi Muhammad SAW namun juga
berlaku untuk rasul-rasul yang lain agar penilaian kita kepada mereka proporsional.
Karena penilaian kepada para rasul semata-mata dipandang dari sisi kemanusiaan saja
tanpa penilaian lain adalah pandangan jahiliyah yang musyrik. Dalam Al-Qur’an terdapat
banyak dalil mengenai masalah ini. Diantaranya adalah :
- Ucapan kaum Nuh terhadap Nabi Nuh dalam kisah yang diceritakan Allah tentang
mereka, yang Artinya : “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari
kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa)
seperti Kami, dan Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan
orang-orang yang hina dina di antara Kami yang lekas percaya saja, dan Kami tidak
melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas Kami, bahkan Kami yakin
bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".( Q.S. Hud : 27).
- Ucapan kaum Nabi Musa dan Nabi Harun terhadap mereka berdua dalam kisah yang
diceritakan Allah tentang mereka, yang artinya : “Dan mereka berkata: Apakah
(patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum
mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?"
(Q.S. Al-Mu’minuun : 47 )
- Ucapan kaum Tsamud kepada Nabi mereka Shalih dalam peristiwa yang diceritakan
Allah tentang mereka yang artinya, : “Kamu tidak lain melainkan seorang manusia
seperti kami; Maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang Termasuk
orang-orang yang benar". (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 154).
- Ucapan Penduduk Aikah kepada Nabi mereka Syu’aib dalam kisah yang diceritakan
Allah tentang mereka yang artinya : “Mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah
salah seorang dari orang-orang yang kena sihir. Dan kamu tidak lain melainkan
seorang manusia seperti Kami, dan Sesungguhnya Kami yakin bahwa kamu benarbenar
Termasuk orang-orang yang berdusta”. (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 186).
- Ucapan kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad SAW yang memandang beliau
semata-mata sebagai manusia dalam kisah yang diceritakan Allah tentang mereka :
”Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasarpasar?
mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu
memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? (Q.S. Al-Furqaan : 7)
Nabi telah menginformasikan status dirinya dengan benar akan sifat-sifat luhur dan halhal
yang melampauai kebiasaan yang membuatnya berbeda dengan manusia lain.
Sabda beliau dalam sebuah hadits shahih :

“Kedua mataku terpejam namun hatiku tetap terjaga”.
“Saya mampu melihat kalian dari belakangku sebagaimana melihatmu dari depan”.
“Saya dianugerahi pintu-pintu gudang dunia”.
Meskipun telah wafat, Rasulullah tetap hidup dalam bentuk kehidupan barzakh yang
sempurna. Beliau mampu mendengar perkataan, membalas salam dan shalawat orang
yang bershalawat sampai kepada beliau. Amal perbuatan ummat disampaikan kepada
beliau hingga beliau berbahagia atas perbuatan orang-orang yang baik dan beristighfar
terhadap orang-orang yang melakukan dosa. Allah juga mengharamkan bumi untuk
memakan jasadnya. Jasad Nabi terlindungi dari hal-hal yang bersifat merusak dan dari
apapun yang berada dalam tanah.
Dari Aus ibn Aus R.A , ia berkata , “Rasulullah SAW bersabda :
“Salah satu hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at ; di hari itu Adam
diciptakan dan wafat, Israfil meniup sangkakala dan matinya seluruh makhluk. Maka
perbanyaklah bershalawat untukku pada hari Jum’at. Karena shalawat kalian
disampaikan kepadaku”. Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami sampai kepadamu
padahal tubuhmu telah hancur?” tanya para sahabat. “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa
Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” Jawab Rasulullah. ( HR.
Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ibn Hibban dalam kitab shahihnya serta Al-Hakim
yang menilai hadits ini shahih ).
Menyangkut keutuhan jasad para Nabi , Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi menyusun
sebuah risalah khusus menyangkut hal tersebut yang berjudul ‘Inbaa’ul Adzkiyaa’ bi
Hayaatil Anbiyaa’.
Dari ibnu Mas’ud Rasulullah SAW bersabda :
“Hidupku lebih baik buat kalian. Kalian berbicara dan saya berbicara kepada kalian.
Dan jika saya meninggal dunia maka kewafatanku lebih baik buat kalian. Amal
perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku melihat amal baik aku memuji Allah
dan jika aku melihat amal buruk aku beristighfar buat kalian”.
Al-Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dan para perawinya
sesuai dengan standar perawi hadits shahih.
Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW, beliau berkata :
“Tidak ada seorangpun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan
nyawaku hingga aku membalas salamnya”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Sebagian
ulama menafsirkannya dengan mengembalikan kemampuan berbicara beliau.
Dari ‘Ammar ibn Yaasir, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang diberi Allah nama semua
makhluk pada kuburanku. Maka tidak ada seorang pun hingga hari kiamat yang
menyampaikan shalawat untukku kecuali malaikat itu menyampaikan kepadaku namanya
dan nama ayahnya ; ini adalah si fulan anak si fulan yang telah menyampaikan shalawat
untukmu”. HR. Al-Bazzaar dan Abu al-Syaikh ibn Hibban yang redaksinya : Rasulullah
SAW bersabda :
“Sesungguhnya ada malaikat Allah yang telah diberi semua nama makhluk oleh Allah. Ia
berdiri di atas kuburanku jika aku meninggal. Maka tidak ada seorang pun yang
menyampaikan shalawat kepadaku kecuali si malaikat berkata, “Wahai Muhammad!
fulan bin fulan telah menyampaikan shalawat untukmu”. Rasulullah berkata, “Rabb
Tabaraka wa Ta’ala merahmatinya. Untuk satu shalawat dibalas 10 rahmat”. Dalam Al-
Kabiir At-Thabaraani meriwayatkan hadits seperti ini.
Meskipun Rasulullah SAW telah wafat namun keutamaan, kedudukan dan derajatnya di
sisi Allah tetap abadi. Mereka yang beriman tidak akan ragu akan fakta ini. Karena itu,
bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW pada dasarnya kembali kepada keyakinan
keberadaan hal-hal di muka dan meyakini beliau dicintai dan dimuliakan Allah serta
keimanan kepada beliau dan kepada risalahnya. Dan tawassul bukanlah berarti beribadah
kepada Nabi SAW. Karena beliau betapapun tinggi derajat dan kedudukannya tetaplah
seorang makhluk yang tidak mampu menolak bahaya dan memberi manfaat tanpa izin
Allah. Allah SWT berfirman yang Artinya, : “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini
manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan
kamu itu adalah Tuhan yang Esa". (Q.S. Al-Kahfi : 110)

Oleh :
Imam Ahlussunnah Wal Jamaah Abad 21
Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani

AQIDAH KESALAHAN PARAMETER KEKUFURAN DAN KESESATAN DI ZAMAN SEKARANG LARANGAN MENJATUHKAN VONIS KUFUR ( TAKFIR ) SECARA MEMBABI BUTA



Banyak orang keliru dalam memahami substansi faktor-faktor yang membuat seseorang
keluar dari Islam dan divonis kafir. Anda akan menyaksikan mereka segera memvonis
kafir seseorang hanya karena ia memiliki pandangan berbeda. Vonis yang tergesa-gesa
ini bisa membuat jumlah penduduk muslim di dunia tinggal sedikit. Kami, karena
husnuddzon, berusaha memaklumi tindakan tersebut serta berfikir barangkali niat mereka
baik. Dorongan kewajiban mempraktekkan amar ma’ruf nahi munkar mungkin
mendasari tindakan mereka. Sayangnya, mereka lupa bahwa kewajiban mempraktekkan
amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak dan tutur kata
yang baik (bil hikmah wal mau’idzoh al–hasanah). Jika kondisi memaksa untuk
melakukan perdebatan maka hal ini harus dilakukan dengan metode yang paling baik
sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Nahl : 125, yang artinya: Serulah (manusia)
kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik.
Praktek amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang baik ini perlu dikembangkan karena
lebih efektif untuk menggapai hasil yang diharapkan. Menggunakan cara yang negatif
dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah tindakan yang salah dan tidak
semestinya.
Jika Anda mengajak seorang muslim yang sudah taat mengerjakan sholat, melaksanakan
kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, menjauhi hal-hal yang diharamkan-Nya,
menyebarkan dakwah, mendirikan masjid, dan menegakkan syi’ar-syi’ar-Nya untuk
melakukan sesuatu yang Anda nilai benar sedangkan dia memiliki penilaian berbeda dan
para ulama sendiri sejak dulu berbeda pendapat dalam persoalan tersebut kemudian dia
tidak mengikuti ajakanmu lalu kamu menilainya kafir hanya karena berbeda pandangan
denganmu maka sungguh kamu telah melakukan kesalahan besar yang Allah melarang
kamu untuk melakukannya dan menyuruhmu untuk menggunakan cara yang bijak dan
tutur kata yang baik.
Al-Allamah Al-Imam Al-Sayyid Ahmad Masyhur Al-Haddad mengatakan, “ Telah ada
kesepakatan ulama untuk melarang memvonis kufur ahlul qiblat (ummat Islam) kecuali
akibat dari tindakan yang mengandung unsur meniadakan eksistensi Allah, kemusyrikan
yang nyata yang tidak mungkin ditafsirkan lain, mengingkari kenabian, prinsip-prinsip
ajaran agama Islam yang harus diketahui ummat Islam tanpa pandang bulu (Ma ‘ulima
minaddin bidldloruroh), mengingkari ajaran yang dikategorikan mutawatir atau yang
telah mendapat konsensus ulama dan wajib diketahui semua ummat Islam tanpa pandang
bulu.
Ajaran-ajaran yang dikategorikan wajib diketahui semua ummat Islam (Ma‘lumun
minaddin bidldloruroh) seperti masalah keesaan Allah, kenabian, diakhirinya kerasulan
dengan Nabi Muhammad SAW, kebangkitan di hari akhir, hisab (perhitungan amal),
balasan, sorga dan neraka bisa mengakibatkan kekafiran orang yang mengingkarinya dan
tidak ada toleransi bagi siapapun ummat Islam yang tidak mengetahuinya kecuali orang
yang baru masuk Islam maka ia diberi toleransi sampai mempelajarinya kemudian
sesudahnya tidak ada toleransi lagi.
Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan sekelompok perawi yang mustahil
melakukan kebohongan kolektif dan diperoleh dari sekelompok perawi yang sama.
Kemutawatiran bisa dipandang dari :
1. Aspek isnad seperti hadits :

"Barangsiapa berbohong atas namaku maka carilah tempatnya di neraka."
2. Aspek tingkatan kelompok perawi seperti kemutawatiran Al-Qur’an yang
kemutawatirannya terjadi di muka bumi ini dari wilayah barat dan timur dari aspek
kajian, pembacaan, dan penghafalan serta di-transfer dari kelompok perawi satu
kepada kelompok lain dari berbagai tingkatannya sehingga ia tidak membutuhkan
isnad. Kemutawatiran ada juga yang dikategorikan mutawatir dari aspek praktikal
dan turun-temurun
 seperti praktik atas sesuatu hal sejak zaman
Nabi sampai sekarang, atau mutawatir dari aspek informasi  seperti
kemutawatiran mu’jizat-mu’jizat. Karena mu’jizat itu meskipun satu persatunya
malah sebagian ada yang dikategorikan hadits ahad namun benang merah dari semua
mu’jizat tersebut mutlak mutawatir dalam pengetahuan setiap muslim. Memvonis
kufur seorang muslim di luar konteks di muka adalah tindakan fatal. Dalam sebuah
hadits disebutkan :
.

"Jika seorang berkata kepada saudara muslimnya "Hai kafir!" maka vonis kufur
telah jatuh pada salah satu dari keduanya" (HR.Bukhari dari Abu Hurairah R.A)
Vonis kufur tidak boleh dijatuhkan kecuali oleh orang yang mengetahui seluk-beluk
keluar masuknya seseorang dalam lingkaran kufur dan batasan-batasan yang memisahkan
antara kufur dan iman dalam hukum syari’at Islam.
Tidak diperkenankan bagi siapapun memasuki wilayah ini dan menjatuhkan vonis kufur
berdasarkan prasangka dan dugaan tanpa kehati-hatian, kepastian dan informasi akurat.
Jika vonis kufur dilakukan dengan sembarangan maka akan kacau dan mengakibatkan
penduduk muslim yang berada di dunia ini hanya tinggal segelintir. Demikian pula, tidak
diperbolehkan menjatuhkan vonis kufur terhadap tindakan-tindakan maksiat sepanjang
keimanan dan pengakuan terhadap syahadatain tetap terpelihara.
Dalam sebuah hadits dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda :

“Tiga hal pokok iman ; menahan diri dari orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali
Allah. Tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam
akibat perbuatan dosa ; Jihad berlangsung terus semenjak Allah mengutusku sampai
akhir ummatku memerangi Dajjal. Jihad tidak bisa dihapus oleh kezhaliman orang yang
zhalim dan keadilan orang yang adil ; dan meyakini kebenaran takdir”.
(HR. Dawud)
Imam Al-Haramain pernah berkata, “ Jika ditanyakan kepadaku : Tolong jelaskan dengan
detail ungkapan-ungkapan yang menyebabkan kufur dan tidak”. Maka saya akan
menjawab,” Pertanyaan ini adalah harapan yang bukan pada tempatnya. Karena
penjelasan secara detail persoalan ini membutuhkan argumentasi mendalam dan proses
rumit yang digali dari dasar-dasar ilmu Tauhid. Siapapun yang tidak dikarunia puncakpuncak
hakikat maka ia akan gagal meraih bukti-bukti kuat menyangkut dalil-dalil
pengkafiran”.
Berangkat dari paparan di muka kami ingatkan untuk menjauhi pengkafiran secara
membabi buta di luar point-point yang telah dijelaskan di atas. Karena tindakan
pengkafiran bisa berakibat sangat fatal. Hanya Allah yang memberi petunjuk ke jalan
yang lurus dan hanya kepada-Nya lah tempat kembali.

Oleh :
Imam Ahlussunnah Wal Jamaah Abad 21
Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani