Jumat, 12 Januari 2024

Catatan Silsilah KH. Imam Ahmad Mberuk

*Dzurriyah Rasulillah Bersembunyi* 
di Pinggiran Sungai Brantas Jawa Timur.  
Oleh: Kharisudin Aqib. 

Polemik berkepanjangan tentang keabsahan nasab para habaib klan Ba'alawi dengan menghadapkan nasab dzurriyah Walisongo lama-kelamaan menggerakkan saya untuk mengecek catatan silsilah keluarga Mbah Buyut saya (Mbah KH. Imam Ahmad Mberuk), Juwet, Ngronggot Nganjuk Jawa Timur. Saya kebetulan adalah Sekretaris Pengurus Pusat Bani KH. Imam Ahmad. Dan ternyata Mbah Imam Ahmad yang berasal Lestari Kertosono Nganjuk, memiliki Silsilah nasab yang menyambung langsung dengan Rasulullah melalui jalur Sultan Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah, Cirebon. Kemudian melalui Sayid Ahmad Al Muhajir dan Sayidina Husain bin Ali bin Abi Tholib. Sedangkan Mbah Nyai Martijah Istri KH. Imam Ahmad, (Mbah buyut putri saya), juga memiliki Silsilah nasab yang tersambung sampai Rasulullah melalui Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Tholib. Silsilah nasab Mbah Nyai Martijah, lebih populer di internal Bani Ali Maklum Banjar Melati Kota Kediri, sebagai sebagai Dzurriyah Sunan Giri, sekaligus juga dzurriyah langsung sunan Ampel.
Asal usul Mbah KH Imam Ahmad masyhur berasal dari Mbah Nur Dzalifah yang merupakan Ki Ageng Pakuncen, yang mendampingi Tumenggung Kopek. Di Pakuncen Patianrowo. Atau Sayid Zakaria Lestari Kertosono Nganjuk, yang terkenal dengan beberapa karomah nya yang diantara Masjid Tiban Lestari Kertosono.
Dari KH Ali Maklum Banjar Melati Kota Kediri (Bani Ali Maklum) lahir banyak kyai di sepanjang bantaran sungai Brantas mulai dari Tulungagung sampai Jombang. Mulai dari kyai musholla kecil sampai pondok pesantren besar. Demikian juga dari Sayid Zakaria Lestari Kertosono. Juga banyak yang menjadi tokoh agama dan tokoh masyarakat yang ada di Nganjuk dan Jombang dan sekitarnya.
Mencermati dua jalur nasab Mbah buyut saya, putra dan putri. Saya menemukan kesimpulan bahwa Nasab dzurriyah Walisongo, khususnya yang dari jalur Husain bin Ali bin Abi Tholib adalah bersambung dengan nasab ba'alawi, yaitu sama-sama dari *Ahmad Al Muhajir* . Beliau mempunyai anak yang bernama Abdullah, alias Ubaidillah, dan cucunya bernama Aluwi. 
Ada tiga pakar nasab yang menyusun silsilah Mbah buyut saya: KH. Mundzir Nadzir, Jamsaren kota Kediri, Mbah KH. Damiri Manukan, Mrican Kediri dan KH. Mughni Shodiq Juwet Ngronggot Nganjuk. 
Nasab Mbah KH. Imam Ahmad (jalur lestari) dengan Mbah Nyai Martijah (jalur Banjar Melati), sejak dari atas (Sayidah Fathimah sampai dengan Maulana Jamaluddin, no 19/no 21), adalah sama persis, dengan beberapa catatan:
*A. Jalur KH Imam Ahmad* (lestari atau Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah): 
- Tidak menyebutkan nama Zainal Alim, di bawah Ali Zainal Abidin (no 3). 
- Setelah nama Ahmad Al Muhajir, adalah nama Abdullah. Bukan Ubaidillah. 
- Diantara nama Muhammad (no 11) dan Muhammad (no 14), ada dua nama : Aluwi dan Ali. Sedangkan setelah Muhammad no 14, adalah Aluwi, no 15.
 - untuk jalur kepada nasab sunan gunung jati dari Maulana Jamaluddin, kepada putranya: Ali Nuruddin, terus keputranya Amatuddin Abdullah, ke Maulana Syarif Hidayatullah, ke Sultan Hasanuddin, ke Maulana Yusuf, ke Muhammad Abdul Malik, ke Abdul Qadir, ke Nur Dzalifah, Ke Sayid Zakaria, ke Tafsirudin dan ke KH. Imam Ahmad.
*B. Jalur Mbah Nyai Martijah*, (KH. Ali Maklum Banjar Melati atau jalur Sunan Ampel dan sunan giri). 
- Ada nama Zainal Alim, di bawah nama Zainal Abidin, di atas nama Muhammad Al Baqir. 
- Setelah nama Ahmad Al Muhajir namanya 'Ubaidillah, bukan Abdullah. 
- Nama di antara dua nama Muhammad (no. 13 dan no.15), hanya satu nama Ali Aluwi. No. 14. 
- Sedangkan nama setelah nama Muhammad no 15. Ada dua nama. Ali no. 16, dan Aluwi no. 17.
 - Untuk jalur nasab Sunan Ampel dan Sunan Giri, mulai dari Maulana Jamaluddin adalah: Maulana Ishaq => Sunan Giri, dan Maulana Ibrahim As Samarqandi => Sunan Ampel. Dari Sunan Giri => R. Kawis Guwo, ke Abdulloh, ke Ali Layyin, ke Abdulloh Mursyad, ke Basyarudin, ke Abdurrahman, ke nyai Anbiya' , ke Ali Maklum, ke Zainal Abidin, ke Nyai Thowilah , ke Sayid Yusuf, ke Martijah. Atau dari sunan Ampel ke Sayid Abdul Alim, ke Sayid Qabul, ke Sayid Muslim, ke Sayid Sarkum, ke Sayid Abror, ke Martijah.
Saya menyimpulkan, bahwa *Abdullah bin Ahmad Al Muhajir adalah Ubaidillah itu sendiri.* Karena ternyata anak Abdullah dan Ubaidillah adalah nama yang sama. Yaitu Aluwi, cucunya juga sama, yaitu Muhammad, juga semua nama di bawah silsilahnya juga sama.
Oleh karena itu penjelasan dari KH Miftahul Akhyar dalam sebuah video beliau in syaa Allah benar adanya, bahwa karena tawadlu'nya Ibnu Ahmad Al Muhajir (Abdullah), tidak berkenan menyandang nama Abdullah tetapi lebih suka men-Tashghir-kan (mengecilkan namanya sendiri, yaitu Abdullah menjadi 'Ubaidillah).
Semoga dari penelitian dua jalur silsilah nasab keluarga: KH. Imam Ahmad lewat Sunan Gunung Jati, dengan jalur silsilah Nyai Martijah lewat Sunan Giri dan Sunan Ampel ke tiganya melalui jalur Abdullah bin Ahmad Al Muhajir atau 'Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir.
Dapat menjadi sebab terjadinya ishlah (rekonsiliasi), antara Keluarga besar Habib Ba'alawi dengan Keluarga besar Dzurriyah Walisongo. Karena ternyata keduanya sama-sama Dzurriyah 'Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Al Basri keturunan Rasulullah Saw.
Dengan adanya pengetahuan silsilah nasab mulia tersebut diharapkan menjadikan semakin tawadlu' dan selalu muhasabah diri, bukan sebaliknya untuk kesombongan dan melecehkan orang lain, karena sesungguhnya yang paling mulia diantara kita adalah yang paling bertaqwa kepada Allah SWT. Yang amalnya paling baik serta yang akhlaknya paling baik juga paling banyak memberikan manfaat untuk umat manusia. 
Nasab mulia harus menjadi cambuk agar juga berakhlak mulia sebagai mana nenek moyang kita yang mulia.